Ludruk Gabungan “Laskar Wetan”


 

SURABAYA: Para pemain ludruk senior dari Malang, Jombang, Mojokerto dan Sidoarjo, bakal bergabung dalam Ludruk RRI Surabaya, menggelar lakon “Laskar Wetan” di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Jalan Sukarno Hatta, Malang, Jumat (8/12) pukul 19.00.  Lakon ini disadur oleh Heri Lentho dari naskah “Arek Kaliasin” untuk program sosialisasi Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan.

Mereka yang terlibat dalam pentas ini adalah Cahyo Sandidea (Remo, Malang), Agus Kuprit, Cak Tawar (dagelan, Sidoarjo),  dan pemain utama terdiri dari Hengki Kusuma,  Hariyanto (Surabaya),  Sabil (Malang), Memed (Mojokerto), Nono (Jombang) dan didukung oleh seniman-seniwati dari ludruk Malang,  Sidoarjo, Surabaya, Jombang dan Mojokerto, dengan total pemain sebanyak 50 orang. Sutradara dipegang oleh Haryanto, sedangkan penata musik oleh Kukuh Setyo Budi.

Dengan durasi selama 90 Menit, lakon ini mengisahkan para pejuang semasa Agresi Militer Belanda kedua di Jawa Timur.  Diceritakan seorang tokoh Komandan yang disiplin mempersiapkan perjuangan dengan para prajurit yang menyamar berbagai profesi seniman, dengan latar belakang ke 10 unsur kebudayaan, yaitu  sebagai tokoh Seniman Tradisi, Penjaga adat, juga  anak-anak yang memberikan contoh-contoh penting dan manfaat permainan rakyat, Keberagaman Bahasa, Ritus  serta Kesenian.

Sang komandan kemudian memberikan perintah melalui surat wasiat yang harus dikirimkan ke orangtuanya di tengah kota. Di situlah langkah-langkah perlindungan, pengembangan, pemanfaatan hingga pembinaan diulas dalam sebuah analogi Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan oleh para pemain bintang yang dijamin segar dan mengundang tawa sepanjang pertunjukan.

Gangguan serta ancaman yang disimbolkan tentara Belanda akan mewarnai dialog betapa hebatnya untuk mengetahui Hak serta Kewajiban seorang pejuang budaya dalam menghadapi tantangan dan gangguan dari luar.

Pada akhir cerita diadakan sebuah perayaan temu penganten antara komandan dengan Pertiwi sebagai wujud kesejahteraan bagi pejuang yang gigih dalam mencapai tujuan. Pertunjukan ini gratis dan terbuka untuk umum. (hnr)

 

 

 

 

 

 

 

Mengenal Kesenian Tardisonal Ludruk Jawa Timur

Khususnya di wilayah budaya Arek yaitu Kota Surabaya, Kota Malang, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang sangat kental dengan pertemuan budaya masyarakat pedalaman dan Pesisiran. Itu tercermin pada perjalanan kesenian drama tradisional Ludruk.

Dari daerah Jombang secara sederhana sebuah kesenian lerok ini lahir, kemudian bermetamorfosa yang cukup panjang menjadi Besutan. Setelah berkembang di kota besar seperti  Surabaya dan ketemu dengan budaya dari luar khususnya eropa, berubah wujud menjadi Ludruk. Seperti orang-orang muda indo Belanda yang gemar menontonya, Mari kita leuk en druk. Kalau bahasa gaul sekarang: mari kita tida ferdoeli, yang penting enjoy, happy-happy sambil nonton pertunjukan yang lucunya luar biasa ini”….

Namun pelakunya masih berkeyakinan bahwa ludruk itu berasal dari kata “molo-molo lan gedrak-gedruk. Artinya seorang peludruk itu mulutnya bicara dengan kidungan dan kakinya menghentak lantai – gedrak-gedruk,  gerak kepalanya gela-gelo dan kakinya gedrak-gedruk. seperti penari Ngremo.

Kini, kita mengenal Ludruk adalah suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang dipergelarkan di sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan, dan sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan….

 

 

Ludruk tidak terbentuk begitu saja, tetapi mengalami metamorfosa yang cukup panjang. Kita tidak punya data yang memadai untuk merekonstruksi waktu yang demikian lama, tetapi saudara hendricus Supriyanto mencoba menetapkan berdasarkan nara sumber yang masih hidup sampai tahun 1988, bahwa ludruk sebagai teater rakyat dimulai tahun 1907, oleh pak Santik dari desa Ceweng, Kecamatan Goda kabupaten Jombang.

Bermula dari kesenian ngamen yang berisi syair syair dan tabuhan sederhana, pak Santik berteman dengan pak Pono dan Pak Amir berkeliling dari desa ke desa. Pak Pono mengenakan pakaian wanita dan wajahnya dirias coret coretan agar tampak lucu. Dari sinilah penonton melahirkan kata Wong Lorek.. Akibat variasi dalam bahasa maka kata lorek berubah menjadi kata Lerok..

 

 

 

 

 

 

Kota Surabaya

SEJARAH LUDRUK

Apakah anda tahu, dari mana asal kata Ludruk itu. Ternyata, sampai sekarang belum ada kesimpulan yang pasti.

Pernah ada diskusi tentang sejarah Ludruk yang diselenggarakan para seniman Surabaya di tahun 2002. Kesimpulan diskusi itupun tidak pernah tegas mengatakan asal-usul Ludruk itu. Pokoknya, Ludruk adalah seni budaya yang sudah berkembang dan membudaya di Surabaya dan Jawa Timur.

“Lho, siapa bilang tidak ada kata asal dari Ludruk!”, ujar Cak Markaban, tokoh Ludruk Triprasetya RRI Surabaya. “Ludruk itu berasal dari kata gela-gelo dan gedrak-gedruk. Jadi yang membawakan ludrukan itu, kepalanya menggeleng-geleng (gela-gelo) dan kakinya gedrak-gedruk menghentak lantai seperti penari Ngremo. Ya, itulah Ludruk, kata Cak Markaban dengan serius, tetapi yang mendengarkan terpingkal-pingkal.

“Oh, oh, bukan demikian”, sahut Cak Kibat, tokoh Ludruk Besutan yang hadir pada diskusi itu. “Ludruk itu asalnya molo-molo lan gedrak-gedruk. Artinya seorang peludruk itu mulutnya bicara dengan kidungan dan kakinya menghentak lantai – gedrak-gedruk”, jelasnya.

Oke-oke, kalau begitu hampir sama, ujar Bawong dari DKS (Dewan Kesenian Surabaya) yang membuat kesimpulan dengan suara agak lantang.

Ludruk itu, kata Eddy Samson, yang dikutip Dukut Imam Widodo pada bukunya Soerabaia Tempo Doeloe, halaman 100, berasal dari bahasa Belanda.

Dulu, tatkala menonton drama tradisional ini banyak anak-anak Belanda muda Indo – tentunya mereka itu teman-teman bapak atau kakek dari Eddy Samson yang juga Indo – yang senang menonton. Mereka menyukainya. Kepada teman-teman yang akan diajak nonton dikatakan: “Mari kita leuk en druk. Kalau bahasa gaul sekarang: mari kita tida ferdoeli, yang penting enjoy, happy-happy sambil nonton pertunjukan yang lucunya luar biasa ini”, begitu kira-kira maksudnya. Atau bahasa gaul anak musa kita menikmati dugem (dunia yang gemerlapan) atau (dunia gembira)..

Nah, ini dia, kalau demikian halnya, kesenian itu sudah ada sebelumnya, tetapi belum punya nama “baku”. Lalu lahirlah ucapan bahasa Belanda “Leuk en Druk” itu. Lama kelamaan, leuk en druk diadopsi menjadi bahasa sini, yaitu Ludruk. Ah, wallauhualam bisssawaaab!

Yang jelas, dalam praktiknya, ludruk adalah membuat orang tertawa, senang dan kalaupun tersindir tidak boleh marah. Hati boleh panas, kepala tetap dingin. Tidak seperti Nippon yang menyiksa Cak Durasim.

Sekilas Kesenian Ludruk Di Indonesia

Pada tahun 1994 , group ludruk keliling tinggal 14 group saja. Mereka main di desa desa yang belum mempunyai listrik dengan tarif Rp 350. Group ini didukung oleh 50 . 60 orang pemain. Penghasilan mereka sangat minim yaitu : Rp 1500 s/d 2500 per malam. Bila pertunjukan sepi, terpaksa mengambil uang kas untuk bisa makan di desa.

Sewaktu James L Peacok (1963-1964) mengadakan penelitian ludruk di Surabaya tercatat sebanyak 594 group. Menurut Depdikbud propinsi jatim, sesudah tahun 1980 meningkat menjadi 789 group (84/85), 771 group (85/86), 621 group (86/87) dan 525 (8788). Suwito HS, seniman ludruk asal Malang mengatakan tidak lebih dari 500 group karena banyak anggota group yang memiliki keanggotaan sampai lima group.

Hasil penelitian Suripan Sadi Hutomo, menurut kamus javanansch Nederduitssch Woordenboekv karya Gencke dan T Roorda (1847), Ludruk artinya Grappermaker (badutan). Sumber lain menyatakan ludruk artinya penari wanita dan badhut artinya pelawak di dalam karya WJS Poerwadarminta, Bpe Sastra (1930). Sedangkan menurut S.Wojowasito (1984) bahwa kata badhut sudah dikenal oleh masyarakat jawa timur sejak tahun 760 masehi di masa kerajaan Kanjuruhan Malang dengan rajanya Gajayana, seorang seniman tari yang meninggalkan kenangan berupa candi Badhut.

Ludruk tidak terbentuk begitu saja, tetapi mengalami metamorfosa yang cukup panjang. Kita tidak punya data yang memadai untuk merekonstruksi waktu yang demikian lama, tetapi saudara hendricus Supriyanto mencoba menetapkan berdasarkan nara sumber yang masih hidup sampai tahun 1988, bahwa ludruk sebagai teater rakyat dimulai tahun 1907, oleh pak Santik dari desa Ceweng, Kecamatan Goda kabupaten Jombang.

Bermula dari kesenian ngamen yang berisi syair syair dan tabuhan sederhana, pak Santik berteman dengan pak Pono dan Pak Amir berkeliling dari desa ke desa. Pak Pono mengenakan pakaian wanita dan wajahnya dirias coret coretan agar tampak lucu. Dari sinilah penonton melahirkan kata Wong Lorek.. Akibat variasi dalam bahasa maka kata lorek berubah menjadi kata Lerok..

Periode Lerok Besud (1920 . 1930)

Kesenian yang berasal dari ngamen tersebut mendapat sambutan penonton.Dalam perkembangannya yang sering diundang untuk mengisi acara pesta pernikahan dan pesta rakyat yang lain.

Pertunjukkan selanjutnya ada perubahan terutama pada acara yang disuguhkan. Pada awal acara diadakan upacara persembahan. Persembahan itu berupa penghormatan ke empat arah angin atau empat kiblat, kemudian baru diadakan pertunjukkan. Pemain utama memakai topi merah Turki, tanpa atau memakai baju putih lengan panjang dan celana stelan warna hitam. Dari sini berkembalah akronim Mbekta maksud arinya membawa maksud, yang akhirnya
mengubah sebutan lerok menjadi lerok besutan.

Periode Lerok dan Ludruk (1930-1945)

Periode lerok besut tumbuh subur pada 1920-1930, setelah masa itu banyak bermunculan ludruk di daerah jawa timur. Istilah ludruk sendiri lebih banyak ditentukan oleh masyarakat yang telah memecah istilah lerok. Nama lerok dan ludruk terus berdampingan sejak kemunculan sampai tahun 1955, selanjutnya masyarakat dan seniman pendukungnya cenderung memilih ludruk.

Sezaman dengan masa perjuangan dr Soetomo di bidang politik yang mendirikan Partai Indonesia raya, pada tahun 1933 cak Durasim mendirikan Ludruk Oraganizatie (LO). Ludruk inilah yang merintis pementasan ludruk berlakon dan amat terkenal keberaniannya dalam mengkritik pemerintahan baik Belanda maupun Jepang.

Ludruk pada masa ini berfungsi sebagai hiburan dan alat penerangan kepada rakyat, oleh pemain pemain ludruk digunakan untuk menyampaikan pesan pesan persiapan Kemerdekaan, dengan puncaknya peristiwa akibat kidungan Jula Juli yang menjadi legenda di seluruh grup Ludruk di Indonesia yaitu :

“Bekupon Omahe Doro, Melok Nipon Soyo Sengsoro…..cak Durasim dan kawan kawan ditangkap dan dipenjara oleh Jepang”

Periode Ludruk Kemerdekaan (1945-1965)

Ludruk pada masa ini berfungsi sebagai hiburan dan alat penerangan kepada rakyat, untuk menyampaikan pesan pesan pembangunan. Pada masa in Ludruk yang terkenal adalah Marhaen. milik .Partai Komunis Indonesia.. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika PKI saat itu dengan mudah mempengaruhi rakyat, dimana ludruk digunakan sebagai corong PKI untuk melakukan penggalangan masa untuk tujuan pembrontakan. Peristiwa madiun1948 dan G-30 S 1965 merupakan puncak kemunafikan PKI.

Ludruk benar benar mendapatkan tempat di rakyat Jawa Timur. Ada dua grup ludruk yang sangat terkenal yaitu : Ludruk Marhaen dan Ludruk tresna Enggal.

Ludruk Marhaen pernah main di Istana negara sampai 16 kali , hal ini menunjukkan betapa dekatnya para seniman ludruk dengan para pengambil keputusan di negeri ini. Ludruk ini juga berkesempatan menghibur para pejuang untuk merebut kembali irian Jaya, TRIKORA II B yang memperoleh penghargaan dari panglima Mandala (Soeharto). Ludruk ini lebih condong ke kiri.. sehingga ketika terjadi peristiwa G 30 S PKI Ludruk ini bubar.

Periode Ludruk Pasca G 30 S PKI ( 1965 . saat ini)

Peristiwa G30S PKI benar benar memperak perandakan grup grup Ludruk terutama yang berafiliasi kepada Lembaga Kebudayaan Rakyat milik PKI. Terjadi kevakuman antara 1965-1968. Sesudah itu muncullah kebijaksanaan baru menyangkut grup grup ludruk di Jawa Timur.

Peleburan ludruk dikoordinir oleh Angkatan Bersenjata dalam hal ini DAM VIII Brawijaya proses peleburan ini terjadi antara tahun 1968-1970

1. Eks-Ludruk marhaen di Surabaya dilebur menjadi ludruk Wijaya Kusuma unit I
2. Eks-Ludruk Anogara Malang dilebur menjadi Ludruk Wijaya Kusuma Unit II
3. Eks-Ludruk Uril A Malang dilebur menjadi Ludruk Wijaya Kusuma unitIII, dibina Korem 083 Baladika Jaya Malang
4. Eks-Ludruk Tresna Enggal Surabaya dilebur menjadi ludruk Wijaya Kusuma unit IV
5. Eks-Ludruk kartika di Kediri dilebur menjadi Ludruk Kusuma unit V

Diberbagai daerah ludruk-ludruk dibina oleh ABRI, sampai tahun 1975.Sesudah itu mereka kembali ke grup seniman ludruk yang independen hingga kini. Dengan pengalaman pahit yang pernah dirasakan akibat kesenian ini, Ludruk lama tidak muncul kepermukaan sebagai sosok Kesenian yang menyeluruh. Pada masa ini ludruk benar benar menjadi alat hiburan. Sehingga generasi muda yang tidak mendalami sejarah akan mengenal ludruk sebagai grup sandiwara Lawak. Setiap orang Jawa timur khususnya Surabaya, pasti mengenal Markeso, Kartolo dkk.Coba perhatian bagaimana mereka bermain Ludruk. Sampai saat ini hanya beberapa kalangan saja yang mengetahui. Binatang apakah ludruk itu? .. Ibarat mobil, semua tergantung sopirnya, kalau sopirnya lurus ya lurus jalannya, tapi kalau sopirnya menyeleweng , ngantuk dsb ,kita dapat melihat dan menduga keadaaan yang akan terjadI…

 

 

Pengertian Ludruk
Ludruk sebagai sebuah nama dapat dicari makna etimologisnya yang diperoleh dari berbagai informasi yang relevan. Informasi ini diperoleh dari tokoh seniman dan budayawan ludruk. Secara etimologis, kata ludruk berasal dari kata molo-molo dan gedrak-gedruk. Molo-molo berarti mulutnya penuh dengan tembakau sugi (dan kata-kata, yang pada saat keluar tembakau sugi) tersebut hendak dimuntahkan dan keluarlah kata-kata yang membawakan kidung, dan dialog. Sedangkan gedrak-gedruk berarti kakinya menghentak-hentak pada saat menari di pentas (Ahmadi, 1987:7). Pendapat lain mengatakan bahwa ludruk berasal dari kata-kata gela-gelo dan gedrak-gedruk. Gela-gelo berarti menggeleng-nggelengkan kepala pada saat menari, dan gedrak-gedruk berarti menghentakkan kaki di pentas pada saat menari.

Apabila disesuaikan, kedua pendapat tersebut memiliki pengertian yang sama, yaitu verbalisasi kata-kata dan visualisasi gerak. Dengan kata lain, terdapat unsur nyanyian (kidung) dan unsur tari atau unsur bahasa dan gerak. Unsur bahasa atau verbal dalam ludruk terdiri atas dua macam bentuk verbal, yaitu nyanyian (kidungan) dan dialog (narasi). Sedangkan unsur gerak dapat berupa tarian pada saat mengidung dan lakuan (action) pada saat memainkan peran di pentas.

Lakuan di pentas ludruk dapat disamakan dengan lakuan dalam drama atau teater secara umum. Gerak atau lakuan yang dapat disaksikan pada saat pementasan ludruk bukan hanya dilakukan pada saat pentas cerita berlangsung, tetapi juga pada saat kidungan sebelum pertunjukan cerita dimulai. Gerak-gerik khas pada saat itu justru muncul secara artistik sebagai gayatampil pemain, di samping ditemukan pada saat adegan dagelan sebagai rangkaian kidungan.

Sejarah Perkembangan Ludruk
Era perkembangan ludruk dapat diklasifikasikan melalui beberapa  tahapan genre (bentuk) (Ahmadi, 1987). Secara historis perkembangan ludruk bermula dari ludruk Bandhan yang muncul dan berkembang sekitar abad XII-XV. Ludruk Bandhan ini mempertunjukkan sejenis pameran kekuatan dan kekebalan yang bersifat magis dengan menitikberatkan pada kekuatan batin. Sekitar abad XVI hingga XVII muncullah lerok yang dipelopori oleh Pak Santik dari Jombang. Kata lerok yang diambil dari kata lira, yaitu alat musik yang berbentuk seperti kecapi (cimplung siter) yang dipetik sambil bersenandung mengungkapkan isi hati. Pada saat itu, Pak Santik menghias dirinya dengan cara mencoret-coret mukanya, memakai ikat kepala, bertelanjang dada, mengenakan celana berwama hitam, dan mengenakan selendang sebagai sampur.

Dalam pementasan lerok itu Pak Santik memanfaatkan suara-suara dari mulutnya sebagai iringan musik. Lambat laun pementasan lerok memanfaatkan gendhang yang digunakan sebagai cimplung (semacam ketipung) dan jidhor (tambur besar). Pementasan semacam ini dimulai sekitar tahun 1915. Kemudian, terjadi penambahan pemain, menjadi tiga orang dan timbullah nama baru, yaitu besutan. Nama ini diambil dari nama tokoh pemeran utama, yaitu Pak Besut. Pemain lainnya bernama Asmonah (isteri Besut) dan Paman Jamino (Ahmadi, 1987).

Pada tahun 1931, bentuk besutan berubah lagi menjadi ludruk yang berbentuk sandiwara dengan tokoh yang semakin bertambah jumlahnya. Bentuk ini tetap mempertahankan ciri khas ludruk seperti tarian ngremo, kidungan, dagelan, dan cerita (lakon). Pada tahun 1937 dengan munculnya tokoh baru dari Surabaya, yaitu Cak Durasim, ludruk mulai menggunakan cerita legenda dan berubah menjadi semacam drama (Andria dalam Ahmadi, 1987:7-8).

Ludruk sebagai seni pertunjukan telah tercatat sejak tahun 1822 yang menampilkan dua pelaku laki-laki, yang seorang menjadi pelawak yang membawakan cerita dan seorang lagi sebagai penari yang berdandan wanita (Pigenud dalam Ahmadi, 1987:6). Pada tahun 1942 tentara pendudukan Jepang menggunakan ludruk sebagai alat propaganda. Pada suatu ketika di bawah pengawasan Jepang, Cak Durasim menampilkan permainannya dengan kidungan pagupon omahe dara, melok Nipon tambah sengsara. Kidungan ini menyebabkan Durasim ditangkap dan dipenjarakan Jepang dan meninggal pada tahun 1944.

Berdasarkan pertumbuhan dan perkembangan ludruk, dapat diketahui bahwa pertunjukan ludruk merupakan keutuhan dari tiga genre: ngremo (tari kepahlawanan), dagelan (lawakan, dan cerita (Peacock, 1968:29-32). Berbagai cerita yang diangkat dalam pentasludruk banyak bersumber dari cerita rakyat. Oleh sebab itu, sebagai salah satu teater rakyat, ludruk banyak membawakan cerita yang berakar dari folklore dan folktale (Oemarjati, 1971 dan Danandjaja, 1983). Di samping itu, dalam perkembangan ludruk juga dapat dikatakan sebagai sandiwara yang memiliki beberapa orang sebagai pelaku dalam ceritanya.

Dalam penelitian perkembangan satu bentuk kesenian, aspek historis menjadi sangat penting untuk diketahui dan dipergunakan sebagai pijakkan penyusunan kriteria.

Tanpa melihat secara historis perkembangan ludruk tidak akan dapat diperoleh informasi yang objektif tentang aspek-aspek yang berkembang dalam kesenian tersebut. Sejarah ludruk yang dapat dipaparkan merupakan fakta sinkronik yang sangat berguna untuk menentukan lingkup kajian sebuah penelitian perkembangan. Oleh sebab itu, setiap penelitian perkembangan yang mengambil subjek penelitian tertentu, seperti halnya ludruk ini tentu tidak bisa mengabaikan fakta historisnya.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Perkembangan Ludruk di Jawa Timur, Kajian Analisis Wacana, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1997. Hlm. 6-9.

 

 

MARI MENGENAL LUDRUK (1): SEJARAH LUDRUK 0leh: Eveline Y. Bayu Ludruk sejak lama tumbuh, berkembang dan dikenal oleh masyarakat di Jawa Timur, terutama di daerah Surabaya, Jombang, Malang dan sekitarnya. Sebagai kesenian asal Jawa Timur, keberadaan ludruk ditinggalkan penggemarnya karena masuknya hiburan modern dan kurangnya upaya pelestarian dari Pemerintah terkait. Dulu kesenian ludruk sangat melekat di hati masyarakat. Sekarang jumlah penggemarnya menurun drastis. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penonton ludruk pada saat pementasan umumnya sepi pengunjung. Dalam data Statistik Van Grisse Van 1822 dikatakan bahwa ludruk adalah tari tarian yang dilengkapi dengan cerita lucu yang diperankan oleh pelawak dan travesty atau lelaki yang merias diri sebagai wanita. Ludurk mempunyai unsur tarian, cerita lucu, pelawak dan pemain yang terdiri dari pria semua, meskipun yang diperankan ada peran wanitanya. Seiring berkembangnya ludruk, masuk juga pemain wanita. Dalam kamus Javanansch Nederduitssch Woordenboekv karya Gencke dan T Roorda (1847), ludruk artinya Grappermaker (badutan). Mengenai asal usul kata ludruk terdapat beberapa pendapat. Cak Markaban, tokoh Ludruk Triprasetya RRI Surabaya mengatakan bahwa ludruk berasal dari kata gela-gelo dan gedrak-gedruk. Jadi yang membawakan ludrukan itu, kepalanya menggeleng-geleng (gela-gelo) dan kakinya gedrak-gedruk (menghentak lantai) seperti penari Ngremo. Sedangkan menurut Cak Kibat, tokoh Ludruk Besutan bahwa ludruk itu berasal dari kata molo-molo lan gedrak-gedruk. Artinya seorang peludruk itu mulutnya bicara dengan kidungan dan kakinya menghentak lantai gedrak – gedruk. Menurut Dukut Imam Widodo pada bukunya Soerabaia Tempo Doeloe, ludruk berasal dari bahasa Belanda. Pada masa itu banyak anak-anak Belanda muda yang senang menonton. Mereka berkata kepada teman-temanya,“Mari kita leuk en druk.” Artinya yang penting enjoy, happy sambil nonton pertunjukan yang lucunya luar biasa ini, begitu kira-kira maksudnya. Kalau demikian halnya, kesenian itu sudah ada sebelumnya, tetapi belum punya nama “baku”. Lalu lahirlah ucapan bahasa Belanda “Leuk en Druk” itu. Lama kelamaan, leuk en druk diadopsi menjadi bahasa sini ludruk. Sejarah perkembangan ludruk sebenarnya masih belum dapat dipastikan karena ada beberapa pendapat. Tahun 1890 Gangsar, yang berasal dari desa Pandan, kabupaten Jombang, yang pertama kali mencetuskan kesenian ini dalam bentuk ngamen (berkeliling dari rumah ke rumah) dan tarian. Bentuk inilah yang menjadi cikal bakal kesenian ludruk. Periode Ludruk Ngamen atau Lerok Lerok merupakan bentuk permulaan kesenian ludruk yang berlangsung pada tahun1907 – 1915 di daerah Jombang, Jawa Timur. Pelopornya adalah Pak Santik yang berasal dari desa Ceweng, kecamatan Goda, kabupaten Jombang dan temannya, Pak Amir yang berasal dari desa Lendi. Istilah Lerok sebenarnya berasal dari kata lorek yang artinya penuh coretan. Dimana wajah pemain lerok penuh dengan coretan. Lerok disebut juga kledek lanang yaitu suatu seni pertunjukan yang mengutamakan nyanyi-nyanyian dalam bentuk kidungan dan pantun (parikan) yang mempunyai tema sindiran. Lerok yang dipelopori oleh Pak Santik dan Pak Amir memulai pekerjaannya ngamen dengan menggunakan peralatan kendang, berkeliling dari desa ke desa. Kemudian Pak Santik mengajak Pak Pono untuk mengenakan busana wanita dengan sebutan wedokan, agar pertunjukan menarik dan lucu. Secara teoritis dimulailah tradisi travesty pada grup ngamen tersebut. Jumlah pemain lerok ini beranggota tiga orang. Periode Ludruk Besut Ludruk besut berkembang pada tahun 1915 – 1920an dengan jumlah pemain telah menjadi empat, yaitu Pak Santik, Pak Amir, Pak Pono dan Marpuah. Pelaku utama selalu mengenakan kain panjang (bebed putih) yang menjadi lambang kesucian dan bertugas menyampaikan maksud (bahasa Jawa: mbekta maksud atau pembawa maksud). Pelaku utamanya disebut besut. Inilah yang merubah sebutan lerok menjadi besut. Pementasan ludruk besutan diawali dengan upacara pembukan berupa saji-sajian atau persembahan. Persembahan itu berupa penghormatan kepada empat penjuru mata angin. Kemudian baru pertunjukan yang menampilkan sindiran, lawakan, kidungan dan pantun-pantun yang disusun dalam suatu kerangkan cerita yag telah ditentukan dan tetap. Di tahun 20-an, istilah Ludruk Besutan yang terkenal ada tiga lakon judul cerita, yaitu Kakang Besut, Paman Jamino, dan Bojoe Besut, Asmunah (ada yang menyebutnya Asmunah atau Rusmini). Periode Ludruk Lerok Besut Periode ini berlangsung tahun 1920 – 1930 dengan masih mempertahankan model besut. Setelah upacara persembahan, dilanjutkan dengan tarian yang bertujuan mengahturkan perasaan kepada Tuhan. Dimana penarinya digambarkan sebagai seorang satria dengan gerakan yang bermacam macam sehingga disebut tari reno-reno. Penarinya menggunakan sampur dipundaknya, maka disebutlah penari ngremo (tembang kriyo atau kata kerja). Seiring perkembangan kesenian lerok di berbagai daerah, maka munculah versi tari remo Jombangan (gaya Jombang) dan tari remo Suroboyoan (gaya Surabaya). Pada masa itu penari remo telah memiliki ciri khas tersendiri pada tata busananya yaitu mengenakan topi hitam, baju putih (kadang kadang dengan dasi hitam), kaki kanan mengenakan gongseng (pengatur irama gending) dan pada telinga kirinya dipasang anting-anting. Gerakan tariannya dengan menggerakan kepala (dalam bahasa Jawa disebut gela gelo) dan gerakan kaki yang dinamis dihentak-hentakkan (dalam bahasa Jawa disebut gedrag-gedrug). Inti dari tarian ini ialah sirah gela gelo, sikil gedrag gedrug atau kepala digerakkan, kaki dihentakkan, maka lahirlah istilah ludruk. Pementasan ludruk besutan terdiri dari tandhakan (tarian), dagelan (lawakan) dan besutan. Dalam pementasannya belum menampilkan cerita secara utuh, melainkan dialog yang dikembangkan secara spontan. Pada tahun 1922 – 1930 dalam pementasan ludruk mulai dimasukkan cerita didalamnya. Ludruk yang memasukkan unsur cerita didalamnya disebut ludruk sandiwara. Periode Lerok dan Ludruk. Periode ini berlangsung tahun 1930 – 1945 dengan bermunculan ludruk di berbagai daerah di Jawa Timur. Nama lerok dan ludruk tetap berdampingan sampai tahun 1955, selanjutnya masyarakat menggunakan nama ludurk. Tahun 1933 Cak Durasim mendirikan Ludruk Oraganizatie (LO). Ludruk ini terkenal dengan jula julinya yang menentang pemerintahan Belanda dan Jepang. Pada masa penjajahan Jepang, ludruk berfungsi sebagai sarana perjuangan. Pemain ludruk memanfaatkan pertunjukan sebagai alat penerangan kepada rakyat untuk mempersiapkan kemerdekaan. Bahkan pemerintah Jepang menangkap Cak Durasim ke dalam penjara hingga meninggal, karena tembang jula julinya yang terkenal: Bekupon omahe doro, melok Nippon soyo soro (Bekupon rumahnya burung dara, ikut Jepang tambah sengsara) Periode setelah Proklamasi Periode ini berlangsung tahun 1945- 1965 dimana mulai muncul seniman urban (dari desa pindah ke kota). Pelawak Astari Wibowo dan Samjudin mendirikan ludruk Marhaen pada tanggal 19 Juni 1949. Setelah berdirinya ludruk Marhaen di Surabaya, muncul perkumpulan ludruk lain, seperti ludruk Tresna Tunggal, Ludruk Sari Rukun, Ludruk Panca Bakti, Ludruk Irama Tunggal, ludruk Masa Rukun, ludruk Marikaton dan ludruk Massa. Tahun 1958 RRI Surabaya secara teknik menggunakan peran wanita yang dibawakan oleh wanita sungguhan karena dipentingkan suaranya saja. Sedangkan dalam pengembangannya, pemeran wanita juga tampil di panggung dan RRI Surabaya mendapat banyak ejekan dan cemooh dari para pendukung ludruk. Lama kelamaan cemooh, ejekan dan kritikan dari pendukung ludruk mereda. Ludruk pada masa itu merupakan alat bagi PKI untuk menggalang massa. PKI memanfaatkan ludruk untuk menanamkan pengaruhnya di masyarakat. Pada tahun 1963 tercatat ada 549 perkumpulan ludruk di Jawa Timur dan banyak diantaranya yang berhaluan kiri. Periode Orde Baru Periode ini dimulai tahun 1965 sampai sekarang, dimana sempat terjadi kevakuman pada tahun1965 – 1968. Kevakuman tersebut disebabkan karena ludruk menjadi organisasi terlarang Lekra. Perkumpulan ludruk yang berhaluan kiri bubar, sedangkan perkumpulan ludruk yang tidak terlibat dengan PKI tidak berani melakukan pementasan. Tahun 1967 Pemerintah Orde Baru berusaha membangkitkan kembali perkumpulan ludruk. Perkumpulan ludruk yang telah diseleksi dari pengaruh Lekra dibina oleh KODAM BRAWIJAYA. Tahun 1968- 1970 terjadi peleburan ludruk yang dikoordinasi oleh DAM Brawijaya. Perkumpulan ludruk di berbagai daerah dibina oleh ABRI hingga tahun 1975. Pembinaan tersebut mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat Jawa Timur dan Indonesia bahwa ludruk adalah teater tradisional khas Jawa Timur yang harus dilestarikan kehadirannya. Perkembangan kesenian ludruk tidak hanya terbatas di Jawa Timur, melainkan sampai di Jepara, Jawa Tengah. Kesenian ludruk dibawa oleh para pekerja PTPN IX Balong yang berasal dari Jawa Timur dan mulai melakukan pementasan sejak tahun 1969. Bahkan di tahun 1980an – 1990an Ludruk PTPN rutin mengadakan pementasan di halaman RRI Semarang. Setelah tahun 1990an, keberadaan ludruk PTPN mulai tenggelam. Untuk itu para pemain ludruk PTPN mencoba menyelamatkan keberadaan ludruk di Jepara dengan mendirikan perkumpulan ludruk Kembang Budoyo. Pada tahun 1980 – 1990 tercatat 104 perkumpulan ludruk di Surabaya, diantaranya ludruk RRI Surabaya, ludruk Susana, ludruk Sidik CS, ludruk Mandala dan ludruk Bakotas Surabaya. Seniman ludruk yang dikenal masyarakat seperti Cak Kartolo, Cak Markeso, Cak Baseman Pak Kadham (yang pada pada tahun 1960-an menjadi favorit Presiden Soekarno) dan Marlena. Sayangnya tidak ada catatan berapa jumlah perkumpulan ludruk saat ini. Sebenarnya penulis juga merasa bingung dengan literature sejarah ludruk, karena istilah ludruk sudah ada di kamus bahasa Belanda terbitan tahun 1800an, tetapi munculnya istilah ludruk juga disebutkan baru muncul tahun 1907. Terlepas dari kapan persisnya muncul istilah ludruk, yang paling penting ialah bagaimana nasib kesenian ludruk di masa yang akan datang. Baca bagaimana pementasan kesenian ludruk dilaksanakan ini pada tulisan saya berikutnya. Sumber: dikumpulkan dari berbagai media masa seperti harian Kompas, Jawa Pos, Surabaya Pos dan sumber lainnya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/eveline/mari-mengenal-ludruk-1-sejarah-ludruk_5517e32fa333117707b6633f

 

 

Ludruk adalah suatu kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang dipergelarkan di sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan, dan sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.[1][2][3]

Karakter pertunjukan

Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski kadang-kadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan nonintelek (tukang becak, peronda, sopir angkutan umum, dan lain-lain).[4]

Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerankan “Pak Sakera“, seorang jagoan Madura.

Kartolo adalah seorang pelawak ludruk legendaris asal Surabaya, Jawa Timur. Ia sudah lebih dari 40 tahun hidup dalam dunia seni ludruk. Nama Kartolo dan suaranya yang khas, dengan banyolan yang lugu dan cerdas, dikenal hampir di seluruh Jawa Timur, bahkan hingga Jawa Tengah.[5]

Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik.