Masyarakat Suka Ketoprak, Tapi Tak Bisa Menghidupi

NASIB ketroprak di Jawa Timur memang tidak seberuntung wayang kulit yang teramat sering digelar dimana-mana. Bahkan juga kalah dengan ludruk yang juga masih lumayan banyak diundang pentas dalam hajatan. Sementara pentas ketoprak terhitung sangat langka, lebih langka lagi diundang dalam hajatan. Padahal masyarakat masih banyak yang senang menonton ketoprak.

Bukti bahwa ketoprak masih sangat banyak penggemarnya adalah ketika ada pentas Ketoprak Langen Siswo Budoyo Surabaya di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya Sabtu lalu (9/12). Menurut catatan yang masuk di Taman Budaya Jatim, sudah ada sekitar 300 (tiga ratus) calon penonton yang jauh-jauh hari pesan tiket masuk, khawatir tidak kebagian kursi seperti pentas Wayang Orang Sri Wandowo dan Swargaloka sebelumnya. Hanya dengan jumlah tersebut maka kapasitas gedung Cak Durasim sebanyak 400-an sudah hampir penuh. Belum termasuk penonton dadakan.

Menurut pengakuan pimpinan Ketoprak Langen Siswo Budoyo, Pak Yadek, kesempatan untuk bisa pentas tidak lebih dari satu tahun sekali di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya ketika ada bantuan produksi dari pemerintah kota Surabaya. Karena itu banyak pemain ketoprak yang juga merangkap menjadi pemain wayang orang dan ludruk supaya mendapat kesempatan pentas lebih banyak. Dan itu sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak kelompok seni tradisi yang hanya berbeda nama dan ketuanya saja namun kebanyakan pemainnya itu-itu juga.

Ketika pentas di Cak Durasim itu misalnya, sebanyak 14 (empat belas) dari 32 (tiga puluh dua) pendukungnya berasal dari grup Wayang Orang Mustika Yuastina Surabaya. Hampir separuhnya. Sebanyak 7 pemain lainnya malah ngebon dari Wayang Orang Bharata Jakarta, dan hanya 11 pemain yang bukan dari dua grup tersebut. Itupun bukan sepenuhnya dari ketoprak Langen Siswo Budoyo, karena ada artis seni tradisi Deny Tri Aryanti yang juga dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, serta pelawak andal Jo Klutuk dan Jo Klitik.

Dua nama yang disebut terakhir itulah yang mendominasi dan menjadi tulang punggung kelancaran pentas berjudul “Prahara Gunung Kelud” tersebut. Mereka bukan hanya tampil melawak yang terpisah dari tubuh lakon namun justru menjadi bagian penting sepanjang pertunjukan sebagai pelaku utama. Bukan hal yang sulit bagi mereka untuk membuat penonton ger-geran sehingga pertunjukan berlangsung segar dan menghibur. Bahkan, sesama pemain sendiri tidak betah menahan tertawa berhadapan dengan mereka. Itu sebabnya Jo Klutuk dan Jo Klitik laris diajak pentas dalam gelar wayang kulit sebagai penyegar pertunjukan. Sutradara Bagus Wiyadi alias Pak Yadek tentu tidak kesulitan mengarahkannya.

Cerita Sederhana

Cerita yang dibawakan kali ini memang sederhana, tidak rumit yang mengas-ngais filosofis dan juga tidak berangkat dari problematika keluarga kerajaan yang feodalis. Kalau toh ada bagian adegan di keraton, sama sekali jauh dari kesan elitis tanpa harus membawakan dalam bahasa Jawa Tinggi yang sulit dipahami masyarakat Surabaya.

Sebagaimana judulnya, cerita dimulai ketika terjadi erupsi gunung Kelud. Suasana kalut dan serba kacau terjadi di masyarakat. Orang tua, muda dan anak-anak berlarian tunggang langgang berusaha menyelamatkan diri. Di tengah keramaian orang tersebut ada seorang laki-laki menggandeng dua bocah sambil berlari. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat seorang bayi menangis di samping jenasah ibunya. Tanpa pikir panjang diraihnya bayi tersebut lalu kembali lari bersama menyelamatkan diri dari amukan lahar panas gunung Kelud.

Lima belas tahun kemudian. Ki Sentanu, nama lelaki itu, dalam kondisi sedang sakit berpesan kepada ketiga anaknya yaitu Wiranti (diperankan oleh Denny), Sanjaya (Jo Klitik) dan Sancaka (Jo Klutuk). Dia membuka sebuah rahasia bahwa  sebenarnya mereka bertiga, khususnya Wiranti bukanlah saudara kandung. Sebelum meninggal Ki Sentanu (Sentot Eko Harjanto) memerintahkan agar Sanjaya menikah dengan Wiranti menjadi suami istri. Disamping itu juga meminta Sanjaya untuk mengembalikan pusaka yang saat ini masih di tangannya ke Jenggala Pura. Kemudian Ki Sentanu pun meninggal dunia.
Setelah kematian Ki Sentanu, Sanjaya berangkat mengembalikan pusaka ke Jenggalapura dan menitipkan calon istrinya (Wiranti) kepada adiknya (Sancaka). Dalam perjalanan, Sanjaya mengalami beberapa kejadian diantaranya melihat sebuah kerusuhan dalam acara pengantin. Sanjaya tergerak langsung ikut membantu dan berhasil mengalahkan penyerangnya. Karena kemenangannya tersebut maka Sanjaya langsung diangkat menjadi menantu di Kadipaten Jenggalapura, menggantikan mempelai laki-laki yang terbunuh.

Tetapi Sanjaya tidak jenak selama berumahtangga. Dia selalu teringat dengan calon istrinya (Wiranti) di rumah, maka Sanjayapun meninggalkan Kadipaten Jenggalapura. Setelah sampai di rumah betapa terkejutnya Sanjaya ketika melihat ada bayi yang diketahui kemudian adalah anak dari Sancaka dan Wiranti. Pertengkaran kakak berdik itupun tidak terhindarkan lagi. Beruntung datang sang Adipati Jenggalapura (Budi Prayitno) yang menyusul Sanjaya dan mendamaikan mereka. Dengan bijaksana sang Adipati memerintahkan agar Wiranti tetap menjadi istri Sancaka, sedangkan Sanjaya kembali menjadi menantu di Kadipaten Jenggalapura.

Hiburan Sesaat bagi Penghibur

Usai menyaksikan pementasan, tentu saja penonton sangat terhibur. Pentas ketoprak yang biasanya tampil dengan bahasa Jawa halus kali ini berlangsung sangat akrab dengan dialog sehari-hari yang gampang dicerna. Lagi-lagi harus menyebut kepiawaian pasangan pelawak Jo Klithik dan Jo Kluthuk yang membuat pertunjukan segar dari awal hingga akhir. Hal ini sanggup diimbangi oleh Denny yang berperan bagus sebagai Wiranti. Disamping itu kehadiran Dewi Triyanti sebagai puteri Jenggala bernama Retno Martani layak diacungi jempol. Akting puteri Kartolo yang menjadi bintang pertunjukan ini betul-betul cantik sebagaimana orangnya.

Usai pementasan, Pak Yadek bercerita bahwa pementasan ini setidaknya menjadi hiburan sesaat bagi para pemain. Karena diundang pentas seperti ini sangat jarang. Dalam kesehariannya para pemain mengais rejeki sendiri-sendiri dengan kemampuannya, ada yang menjadi cucuk lampah dalam berbagai acara atau membuka salon kecantikan dan sebagainya. Beruntung kadang-kadang ada juga panggilan pentas hingga ke Pati, Jawa Tengah.

Pementasan sukses, penonton senang, semua terhibur, dan para pendukung pertunjukan ini kembali dalam keseharian mereka yang justru tidak bisa mengandalkan penghasilan dari panggung. Apa boleh buat, rata-rata kesenian tradisi memang tidak dapat diandalkan menjadi sumber penghasilan. Padahal untuk dapat menyajikan sebuah pertunjukan bagus butuh persiapan yang tidak gampang dan sangat lama. Hanya mereka yang berbakat yang sanggup tampil bagus.

Pertanyaannya, kalau betul masih banyak masyarakat yang gemar ketoprak, dan seni tradisi pada umumnya, apakah mereka bersedia membuka dompet untuk membeli tiket menontonnya? Pentas seni tradisi memang masih digemari, masih banyak orang yang mau menontonnya, asal gratisan. Itu sebabnya pentas tobong bangkrut. Itulah ironinya.

Ketika banyak orang menganggap bahwa kesenian tradisi itu perlu dan harus tetap ada, tetapi dalam satu tarikan nafas yang sama nasib para pemainnya sungguh memrihatinkan. Kalau toh mereka masih sanggup bertahan, itu semata-mata karena dedikasi dan kecintaan mereka sendiri terhadap seni tradisi. Bahwasanya seni tradisi tak ubahnya ibarat “agama kedua” bagi orang-orang seperti ini. Mereka inilah para pejuang tanpa pamrih yang menguri-uri seni tradisi. Bukan sebatas basa-basi. (henri nurcahyo)