Pentas Ludruk Khusus untuk Anak-anak

SURABAYA: Perkumpulan Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara (IBSN) menggelar pertunjukan khusus untuk anak-anak Sekolah Dasar (SD) dalam program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bernama “Nonton Bareng Kesenian Rakyat”. Menampilkan kembali lakon “Cak Durasim Sang Pahlawan” acara ini digelar hari Kamis (14/12) pukul 09.00 pagi di gedung ludruk THR Surabaya.

Lakon besutan Meimura ini memang pernah dipentaskan dalam Festival Ludruk Jawa Timur di gedung Cak Durasim Surabaya (25-27 September) dan berhasil meraih penghargaan sebagai Lima Penyaji Terbaik. “Kali ini kami tampilkan kembali supaya anak-anak dapat mencontoh semangat kepahlawanan Cak Durasim,” tegas Meimura, yang bertindak sebagai sutradara.

Menurut sekretaris perkumpulan ludruk IBSN ini, pihak Kemendikbud akan membeli tiket untuk 300 anak, masing-masing dengan harga Rp 30.000,- dan menyediakan angkutan bus untuk tiga SD yaitu, SDN Kedungdoro, SDN Pakis V dan SDN Gunung Anyar Tambak. Sementara pihak IBSN sendiri mempersiapkan khusus tontonan kali ini, berbeda dengan yang sudah pernah dipentaskan. Beberapa perubahan itu misalnya, penari Remo Ibu Murgiati mendendangkan kidung dengan tema anak-anak, seorang guru SD di Bangkalan bernama Nur Afiah ikut tampil sebagai isteri Cak Durasim. Bahkan yang berperan sebagai Bu Nyai adalah seorang akademisi dari Universitas Narotama, Dr. Ayu Rai.

Sementara pemain ludruk senior yang ikut bergabung kali ini adalah Hengki Kusuma dan Said Kelana yang membawakan peran serdadu Nipon. Mustinya ikut juga Cak Momon, namun saat ini sedang jatuh sakit. Pemeran Cak Durasim tetap dibawakan Sabil. Sedangkan untuk pembuka berupa Bedayan dibawakan oleh anak-anak SD dan SMP.

Memang kelompok ludruk ini sudah berhasil merekrut anak-anak muda usia Taman Kanak Kanak hingga ibu-ibu. Yang tercatat saat ini ada 58 orang anggota, dan 32 diantaranya mendukung lakon berdurasi 90 menit ini.

Mei merasa yakin bahwa ludruk tidak akan punah di Surabaya karena di kampung-kampung masih banyak yang suka ludruk, termasuk anak-anak. Pentas rutin ludruk IBSN di gedung ludruk THR setiap Sabtu malam selalu didatangi penonton, bahkan pernah mencapai 300 orang. Meskipun ketika hujan turun, penonton hanya 8 orang, namun ludruk masih tetap main. Dan yang menarik, tidak ada penjualan tiket untuk penonton melainkan menggunakan sistem saweran. Dengan cara ini dapat dilakukan subsidi silang antar penonton. “Hasilnya malah lebih banyak,” ujar Meimura

Perihal Irama Budaya sendiri, sebelum menetap di THR, kelompok ludruk ini semula nobong di kawasan Pulo Wonokromo. Ketika kemudian oleh Pemkot diberikan tempat di THR, nasibnya tidak menjadi lebih baik. Meimura berkisah, menjelang Sakiya, pimpinan grup, meninggal dunia dia berpesan agar Mei meneruskannya. Namun saat itu Meimura tidak respon. Sampai kemudian Mei mendengar bahwa ludruk ini akan “dijual” oleh Deden, anak angkat Sakiyah, yang menggantikan ayahnya. Maka bersama teman-temannya Meimura bergerak mengaktifkan kembali, menata organisasi, mengurus badan hukum, dan agar tidak terikat dengan perjanjian sebelumnya maka memakai nama baru Irama Budaya Sinar Nusantara. Tambahan dua kata terakhir itu dimasudkan agar ludruk ini mampu menjadi sinar bagi seni tradisi di nusantara ini. Terbukti, hanya grup ini yang masih sanggup bertahan pentas rutin seminggu sekali hingga sekarang ini.

Perlahan namun pasti, upaya yang dilakukan oleh manajemen baru ini membawa berkah. Pihak DPRD Kota Surabaya sudah menjanjikan akan ada bantuan Rp 5 juta setiap pentas selama 50 kali setahun. Walikota Surabaya sendiri, yang baru saja bertemu Meimura Jumat kemarin (8/11) memberi kabar baik bahwa nantinya gedung ludruk akan dipindahkan ke mall bagian depan, karena kontrak Surabaya Mall akan selesai akhir tahun 2018 nanti. Pusat perbelanjaan itu akan diubah menjadi pusat aktivitas kesenian. Bahkan, konon akan digabung dengan Taman Remaja Surabaya. (hnr)