Risma Buka Pentas Ludruk di Balai Pemuda

SURABAYA: Ditengah kemelut soal Balai Pemuda, tiba-tiba Walikota Surabaya Tri Rismaharini membuka acara pergelaran ludruk di Balai Budaya yang berada di kompleks Balai Pemuda, Kamis pagi (14/12). Acara ini merupakan pementasan Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara dengan lakon “Cak Durasim Sang Pahlawan” yang naskahnya ditulis Meimura dan sekaligus menyutradarainya.

Lakon ini sebelumnya pernah dipentaskan di gedung kesenian Cak Durasim dalam ajang Festival Ludruk Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) pada bulan September lalu. Saat itu penyajiannya berhasil meraih lima terbaik tanpa peringkat.

Pentas ini merupakan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bernama “Nonton Bareng Kesenian Rakyat”. Semula direncanakan digelar di gedung ludruk THR namun lantaran peminatnya membludak dan juga tawaran dari Pemkot, pertunjukan dialihkan ke Balai Budaya.

Kali ini naskahnya masih relatif sama, hanya lebih ditekankan pada penyampaian pesan pada anak-anak bahwa seorang tokoh bernama Cak Durasim tidak akan pernah mati meski sudah ditembak oleh serdadu Jepang. Seorang Cak Durasim meninggal dunia maka segera disusul Cak Durasim – Cak Durasim baru yang siap menggantikan dan meneruskan perjuangannya.

Jika dalam pentas sebelumnya berakhir dengan kematian Cak Durasim, kali ini ada satu tambahan muncul seorang anak kecil yang menyebut dirinya Cak Durasim. Serdadu Jepang mendatanginya, langsung menembaknya. Kemudian muncul anak kecil lainnya, juga mengaku sebagai Cak Durasim. Dia juga ditembak mati. Tapi muncul lagi anak kecil, orang dewasa, bukan satu dua melainkan banyak orang yang sama-sama menyebut dirinya adalah Cak Durasim. Sedemikian banyak anak-anak dan juga orang dewasa yang bersedia menggantikan kepahlawanan Cak Durasim membuat Jepang bingung dan kewalahan sehingga dikeroyok habis. Itulah pesan moral yang ditekankan oleh Meimura melalui ludruk yang dikelolanya ini. Bahwa kepahlawanan tidak dapat dipadamkan.

Dalam sambutannya Risma Tri Rismaharini bercerita dengan penuh semangat kepada sekitar 400 anak-anak Sekolah Dasar dari beberapa sekolah di Surabaya. Dikatakannya, bahwa tidak setiap orang harus pinter matematika, pinter fisika, pinter kimia dan sebagainya. Risma bercerita bahwa semasa remaja dulu seorang atlet pelari dan juga penari.

Karena itu, pesannya, para guru jangan memusuhi muridnya yang tidak pinter dalam matematika atau pelajaran tertentu. Setiap anak memiliki bakatnya sendiri dan mempunyai jalan hidupnya sendiri-sendiri. Ada yang menjadi olahragawan, penari, penyanyi, pemusik atau menjadi pemain ludruk seperti yang mereka tonton sekarang ini. Dan semuanya berhak untuk menjadi orang sukses.

Sebagai walikota, kata Risma, dia ingin kota Surabaya ini menjadi maju dalam hal keseniannya. Punya gedung-gedung pertunjukan yang megah seperti di Broadway. Karena itu Pemkot akan segera membuat fasilitas kesenian yang dapat menampung berbagai potensi kesenian di Surabaya ini. (hnr)