Parade Musik Etnik Sepi Penonton

SURABAYA: Selama dua hari berturut-turut disajikan 8 (delapan) karya musik di gedung kesenian Cak Durasim Surabaya (15-16/12). Empat diantaranya adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya yang baru saja menyelesaikan tugas akhirnya. Dua karya yang lain dari Banyuwangi, sisanya dari Ponorogo dan Sumenep. Meski sajian ini sebetulnya berkualitas, apa boleh buat, ternyata tidak mampu menarik minat banyak pengunjung untuk menyaksikannya.

Hanya sejumlah puluhan penonton yang menyaksikan pertunjukan bagus ini. Itupun sedikit demi sedikit meninggalkan gedung begitu ada pergantian penampilan yang lumayan lama. Maklum, untuk menghadirkan karya musik seperti ini memang butuh waktu yang lama menata peralatan dan miknya, yang justru lebih lama ketimbang durasi musiknya sendiri. Dalam waktu jeda itulah terjadi kekosongan yang membosankan. Mungkin perlu ada selingan, misalnya, penata musik yang sudah tampil bisa menceritakan proses kreatif dan hal-hal terkait karyanya yang tentunya amat bermanfaat bagi penonton.

Empat karya dari STKW itu adalah “Klimbrukan” dari grup Jiwanada dengan penata musik Taufiq Hidayatullah, “Ji Ro Lu Jazz” dari grup Sa’wiroso dengan penata musik Yoga Pastyatji, Grup Panjak Hore dengan karya “Silir Sulur” yang digarap oleh Catur Fredy Wiyoga dan terakhir adalah grup Pancawarna dengan penata musik Sekar Miyatani yang menampilkan karya “Tuhu”.

Tiga dari empat karya tersebut sudah tampil semalam pada hari pertama, bersama dengan Angklung Pagak dari Banyuwangi yang digarap oleh Sunardianto. Sementara karya “Tuhu” akan disajikan malam ini bersama dengan Padepokan Seni Dewi Sekartaji dalam karya “Jenggirate Lare Osing” dengan penata musik Sutaji, “Cempluk Warsiah” garapan Bagus Tri Anggono dari kelompok musik Niken Gandini Ponorogo. Satu karya lainnya dari Sumenep Madura berjudul “Ghaik Bintang” hasil karya Ayos Arief dengan grup bernama Dcper Plat M.

Sukatno, SSn, MM, menyampaikan dalam sambutannya, bahwa acara ini baru pertama kali diselenggarakan selama tujuh tahun dia menjabat sebagai Kepala UPT Taman Budaya. Sebelumnya, tahun 2011-2012 acara semacam ini pernah diselenggarakan periodik, empat kali setahun, namun akhirnya tidak berlanjut lagi. Penyebabnya adalah kesulitan mencari seniman musik yang mampu menghasilkan karya dengan durasi satu jam lebih.

Karena itulah dalam festival kali ini, empat dari 8 karya yang disajikan merupakan tugas akhir mahasiswa STKW yang sudah pernah diujikan dan sudah mengalami penggarapan ulang. Dengan demikian, setidaknya kualitasnya sudah teruji secara akademis dan menawarkan inovasi yang menarik.  Kelompok musik Panjak Hore misalnya, menghadirkan instrumen hasil kreasi sendiri yang belum ada namanya. Seperti alat tiup yang digerakkan dengan tekanan dan tarikan tangan.

Sementara Angklung Paglak dari Sanggar Seni Blambangan “Art School Percussion” hanya menggunakan instrumen yang minimalis namun mampu tampil lengkap. Sebagaimana namanya, instrumen pokok dalam sajian ini terbuat dari bambu yang dimainkan tidak seperti angklung biasanya. Ada juga instrumen bumbung berisi pasir yang diguling-gulingkan untuk menghasilkan mirip suara hujan. Instrumen yang juga belum ada namanya ini biasanya berasal dari musik kontemporer namun sudah banyak dihadirkan dalam karya musik etnik. Sajian dari Banyuwangi ini bukan hanya instrumentalia belaka namun ada sedikit dialog dan tampilnya seorang penyanyi dengan suara luar biasa yang menghanyutkan. (hnr)