Damba Ada Generasi yang Jadi Penerus

Soedjito, Usia 72 Tahun Masih Membuat Wayang

Dila Rahmatika – Madiun

Soedjito tak ingin mengalah kepada usia. Meski usianya sudah berkepala tujuh, kakek empat cucu itu masih menekuni pembuatan beragam karakter wayang dari kulit sapi.

KERIPUT tangannya tegas menyapu kertas dupleks dengan cat air warna terang. Di meja kerjanya berserakan wayang Janaka dan Srikandi ukuran 20 cm.

Di ruangan seluas 4 x 6 meter persegi itu juga menggantung beragam jenis karakter kreasinya. Di seberang meja kerjanya, Herlin (putrinya) juga sedang melukis. ”Lagi bantu anak bikin pesanan wayang mahar,” ujar Soedjito yang kini berusia 72 tahun.

Pensiunan Dinas Pengairan Kota Madiun (1990) itu sudah terbiasa dengan tatahan wayang. Meski kini lebih aktif membantu putrinya melukis wayang mahar. Dia tak lagi menerima pesanan sejak tukang yang biasa membantunya berproduksi meningal beberapa tahun silam.

” Terakhir saya natah wayang dengan kulit sapi itu setahun lalu. Pesanan lurah Bagi (nama desa di Madiun, Red),” kenang kakek yang beralamat di Jalan Imam Bonjol II Gang Jati Jajar, Kartoharjo, Kota Madiun, tersebut.

Sejak Lebaran tahun lalu, Soedjito tak lagi menatah wayang dari kulit sapi. Dia mengeluh tangannya tidak setangkas dulu. Berkat usul putri bungsunya, Soedjito kini hanya melukis wayang dari bahan kertas. Istilahnya wayang putihan. Wayang kertas itulah yang dibuat putrinya untuk pesanan wayang mahar. ”Belinya di Solo. Sudah nggak kuat kalau natah,” ungkapnya.

Soedjito lantas memandang jauh ke arah papan nama bertulisan Sanggar Kreasi Budaya. Di papan nama kuning kecokelatan itu tertulis ”Les Wayang Rp 10.000”. Namun, dia sudah tak ingat kapan tepatnya membuka les tersebut.

Ya, perajin wayang kulit itu mendamba generasi penerus yang mau berlatih membuat wayang. Seiring berjalannya waktu, banyak sejawatnya yang sudah tiada. Soedjito merasa prihatin akan masa depan kerajinan wayang kulit yang sudah lama digeluti. ”Tujuan saya buka les wayang untuk itu (regenerasi, Red). Tapi, sulit menemui anak muda yang mau.”

Namun, setidaknya suami Suwarsini tersebut sudah menularkan kecintaan terhadap wayang kepada putra-putrinya. Satu di antara empat anaknya malah sukses mewarisi bakatnya. Soedjito ingin regenerasi tak hanya berhenti di putri bungsunya itu. Tapi sampai menurun ke anak cucu. ”Maunya juga nurun ke anak-anak lain,” harapnya.

Masih segar dalam ingatan Soedjito saat-saat menghabiskan masa mudanya dengan belajar membuat wayang dari seorang pemuda di Ponorogo. Sayang, dia lupa di desa mana persisnya menimba keterampilan seni tersebut. Saat itu Soedjito muda tengah berdinas di Ponorogo pada 1986. Hampir setiap hari dia berlatih menatah wayang. ”Pas libur juga ngonthel,” kenangnya.

Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama di Surabaya, Soedjito memang sudah hobi menggambar wayang. Wayang kali pertama dikenalnya dari sang ayah Punto Sasmoyo. Punto dulu adalah seniman wayang orang. Dari situlah kecintaannya mulai tumbuh. ”Tapi, pas masuk STM sempat berhenti karena harus bikin gambar gedung terus,” jelas bachelor engineering dari Universitas Merdeka (Unmer) Madiun itu.

Membuat wayang butuh ketelatenan dan kesabaran tingkat tinggi. Dimulai dari teknik menatah, drenjem, dan cawi. Teknik-teknik tersebut mengharuskannya memperhatikan detail di setiap ukiran. (*/fin/c9/diq)

Teks foto:

SENIOR. Soedjito menunjukkan wayang gunungan kreasinya dari bahan kulit sapi. (BAHAS BIMANTARA/JAWA POS RADAR MADIUN)

  • Dikutip dari Jawa Pos, Minggu, 17 Desember 2017