Menggapai Bintang Musik Tradisi

SURABAYA: Lagu “Ghaik Bintang” tentu sangat populer di kalangan masyarakat Madura, khususnya anak-anak tempo doeloe. Beruntung lagu dolanan itu dipopulerkan kembali dalam berbagai kreasi seni, seperti tari anak-anak dan kali ini diaransemen dalam sebuah pertunjukan musik. Adalah Ayos Arief yang menata musiknya dalam sajian Parade Musik hari kedua di gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu malam (16/12).

Ghaik Bintang adalah tetembangan sederhana yang mengisahkan seorang anak laki-laki berpamitan kepada adiknya karena hendak pergi menuntut ilmu (bintang) meski harus dicapai dengan susah payah (sesulit memetik janur). Tidak jauh kok, hanya di alun-alun kota. Dalam konteks budaya Madura, lagu itu bagian dari filosofi Bhuppa’ Bhabhu’, Ghuru, Rato. Yaitu hormat dan menjunjung tinggi petuah orangtua, hormat kepada guru dan juga setia terhadap pemerintah (Rato).

Ketika kemudian Ayos mengemasnya dalam sajian musik jazz, yang terjadi adalah pertunjukan luar biasa yang mempesona. Mungkin tidak banyak yang mengira bahwa di Sumenep ada kelompok musik hebat seperti DCeper Plat M ini. Padahal kelompok ini sudah menjelajah ajang Jazz Gunung. Bahkan dalam peringatan Hari Jadi Sumenep sebulan yang lalu diselenggarakan Festival Jazz yang baru pertama kali di Madura. Ini artinya, bahwa musik Madura tidak hanya identik dengan musik tradisi yang itu-itu saja melainkan sudah dikreasi sedemikian rupa melampaui zamannya. Mengemas tradisi Madura dalam balutan musik jazz yang berasal Barat, tentu sangat menarik.

Tentu saja bukan jazz kental yang disuguhkan, melainkan sudah mengalami percampuan (fushion jazz) yang merangkum beberapa lagu daerah serta promosi pariwisata sebelum berpuncak di lagu Ghaik Bintang itu tadi. Meski nyaris semua instumennya modern, toh tidak melupakan tiupan saronen dan kenong telok yang khas itu. Sajian dari Sumenep ini menjadi klimaks acara Parade Musik yang diselenggarakan dua hari. Ghaik Bintang, tak ubahnya sebuah kemauan kuat untuk meraih kecemerlangan musik tradisi di tengah gempuran musik modern dari Barat.

Sebelumnya, kelompok musik Niken Gandini dari Ponorogo juga menyajikan karya yang berbeda. Berlabel “Cempluk Wasinah” garapan penata musik Bagus Tri Anggono ini pada mulanya berlangsung biasa-biasa saja, dimana tiga penyanyi perempuan dan satu laki-laki melantunkan sejumlah lagu. Tetapi menjelang akhir sajian tampillah tokoh Warok yang menari. Kemudian salah satu dari penyanyi perempuan tadi maju dan mengudar gelung rambutnya. Tingkahnya seperti orang kesurupan, yang akhirnya disadarkan kembali oleh Warok dan diminta berdamai dengan Warsiah, perempuan rivalnya dalam cinta segitiga. Sepertinya ini cuplikan kisah Suminten Edan.

Penampilan kelompok musik dari Ponorogo ini juga tidak alergi dengan instrumen Barat. Ciri khas terompet reog tetap dikumandangkan, diselingi dengan dentingan bass gitar elektrik.

Pada sajian kedua, tampil kelompok musik dari Padepokan Sekartaji dengan judul karya “Jenggirate Lare Osing Banyuwangi” yang digarap oleh penata musik Sutaji. Sanggar musik ini memang sudah kenyang pengalaman di berbagai festival dan kerap meraih kejuaraan. Yang tampil kali ini nampaknya adalah anak-anak pelajar yang sangat atraktif, sedikit melucu, dan menunjukkan gairah semangatnya yang menggebu-gebu. Hampir semua instrumennya berupa perkusi, kecuali sedikit menjelang akhir dilantunkan musik tiup.

Satu-satunya kelompok musik dari Surabaya adalah Panca Warna dengan penata musik Sekar Miyatani yang menghadirkan karya berjudul “Tuhu”, yang tampil pertama kali. (henri nurcahyo)