Membentang Pameran KOPI Jombang

SURABAYA: Komunitas Pelukis (KOPI) Jombang menggelar pameran bersama “Membentang Ijo Abang” di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jatim, yang berakhir hari ini (30/12) setelah berlangsung sejak tanggal 26/12 yang lalu. Pameran  tahunan ini adalah yang keempat kalinya namun baru pertama kalinya diselenggarakan di Surabaya setelah tiga kali sebelumnya diselenggarakan di Jombang.

Sejumlah pelukis yang bertugas menjaga pameran menjelaskan, sebanyak 29 pelukis anggota perkumpulan ini memajang karyanya, masing-masing diwakili 1-2 karya. Dibentuk tahun 2009, beberapa pelukis anggota KOPI sudah sering berpameran di berbagai tempat, bahkan ada yang sudah rutin mengisi stan di Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) sejak tahun 2012. Namun kali ini mereka bersepakat menggelar pameran bersama sebagaimana rutin diselenggarakan setiap tahun, meski yang pameran terakhir ini berjarak lumayan lama dengan pameran sebelumnya.

Dalam sebuah pameran bersama seperti sekarang ini, tentu saja sekian macam ragam karya ditampilkan sesuai dengan yang biasa dilakukan oleh masing-masing pelukisnya. Memang tidak ada batasan tema tertentu yang dijadikan semacam frame untuk memfokuskan objek lukisan. Kalau toh ada tema pameran “Membentang Ijo Abang” itu hanya tema umum untuk menunjukkan potensi pelukis Jombang, yang dipanjangkan dengan kata Ijo (hijau, hidup) dan Abang (merah, berani). Atau dalam bahasa filosofisnya adalah “memperkuat niat untuk berkehidupan yang lebih baik dan manfaat.”

Dalam belantara berbagai macam karya itu maka yang kemudian menarik adalah karya-karya yang mudah mencuri perhatian karena keunikannya. Misalnya saja, lukisan “Joko Tarub” karya Marsim. Tema lukisan seperti ini memang sudah umum, sebagaimana karya Basuki Abdullah yang populer itu. Namun Marsim agak berbeda menyajikannya. Para bidadari itu tidak sedang mandi di air terjun melainkan di sebuah sungai. Nampak beberapa bidadari sedang terbang, sementara seorang bidadari berendam termangu dalam sungai karena kehilangan kain penutup. Nah kain itulah yang sedang dicuri oleh Joko Tarub yang sebagian diwujudkan dalam bentuk kain betulan, bukan hanya dilukis sehingga menjadi lukisan tiga dimensi. Satu hal lagi, ternyata sosok Joko Tarub itu adalah mengambil model wajah pelukisnya sendiri.

Demikian pula karya Windy berupa sebuah pohon tumbuh di atas kepala manusia. Digambarkan kepala manusia itu seorang lelaki berjanggut sangat lebat dan tubuhnya tertutup dedaunan. Dua ekor burung nampak bertengger di ranting-ranting pohon tanpa daun. Gambaran ini mengingatkan nasehat orang-orangtua zaman dulu kepada anak-anaknya agar jangan sampai memakan buah tertelan bijinya. Nanti bisa tumbuh di kepala.

Sementara Lukmanul Hakim menyukai figur-figur manusia batu seperti relief candi. Salah satu dari lukisannya menunjukkan sepasang lelaki dan perempuan berboncengan sepeda menyeberang di tengah keramaian lalu lintas penuh mobil. Lukisannya yang lain juga menggambarkan manusia batu dalam relief. Kali ini memperlihatkan kerumunan manusia dalam Lomba Panjat Pinang. Membayangkan ada lomba seperti itu yang diikuti “manusia-manusia batu” tentu sebuah imajinasi yang menarik. Atau, sebagaimana sebuah relief di candi, seolah mengabarkan bahwa lomba seperti itu sudah ada sejak zaman dulu kala. Menyimak lukisan ini berlama-lama lumayan mengasyikkan.

Karya Surjay Phiros “Menasehati Anak” yang memperlihatkan seorang anak dengan sebuah gelas di atas kepalanya tengah dikucuri air dari sebuah gayung. Tidak nampak jelas sosok yang mengguyur tersebut, kecuali samar-samar sebuah kepala, namun warna-warna biru yang ada padanya nampak bertaburan di sebagian tubuh anak itu. Model penggambaran yang tidak semata-mata ilustratif ini mengundang perspektif imajinasi yang berbeda pada setiap orang, namun pesannya sudah tersampai.

Ada beberapa lukisan realis yang mengandalkan kekuatan teknis namun mampu mengundang kekaguman, seperti karya-karya cat air Linda Octavia, kuda-kuda berlari karya Joko Priyono, figur harimau Sholeh Nugroho dengan judul “Santai Sejenak”. Penempatan lukisan ini di sebelah kanan karya Joko Priyono jadi menarik, seolah-olah kuda-kuda itu berlari karena ada harimau yang mengancam.

Karya M Akhyak berjudul “Kartini” terasa menghentak karena menggambarkan sosok perempuan tua, kurus, berkulit legam, sedang mengerjakan pembuatan gerabah. Gambaran ini sangat berbeda dengan yang kebanyakan dibayangkan biasanya. Sketsa-sketsa Shierly Lin menunjukkan garis-garis yang berkarakter, atau juga karya Ridho Hidayat yang mengingatkan suasana sawah pedesaan tanpa diperlihatkan ada manusianya. Hanya dua sepeda kosong bertengger di keheningan.

Masih banyak karya-karya yang menarik dilihat dari perpektif yang berbeda. Yang jelas dalam pameran ini ternyata sangat beragam karya para pelukis Jombang ini, sesuai dengan temanya “Membentang Ijo Abang” maka lukisan yang tampil juga membentang dari yang realis, surrealis, optic art, ilustratif, kaligrafi, dekoratif, nonfiguratif, atau yang mencoba kontemporer. Lengkap. (hnr)