Pentas Ludruk “Bui” Rasa Teater 

Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara (IBSN) mementaskan naskah “Bui” karya Akhudiat. Dimulai dari tari Remo, Bedayan, Lawakan dan masuk ke cerita utama. Andaikata tiga babak pertama itu dihilangkan, masihkah pementasan Sabtu malam (30/12) di THR Surabaya ini dapat disebut ludruk? Gaya pemanggungannya tidak berbeda sama sekali dengan teater modern, alias tidak mambu ludruk babar blas.

Dalam naskah aslinya, yang ditulis Akhudiat tahun 1975, bercerita tentang dialog panjang dua orang narapidana, salah satunya adalah guru, yang menjadi tahanan baru. Tahanan lama mencoba akrab dengan si guru, dan terjadilah percakapan yang surrealis, lantaran keduanya tidak lagi berbeda karakternya satu sama lain. Mereka mengintip kamar pastur, kamar pengantin baru, bermain imajinasi sebagai pemancing ikan, juga menjadi dua ekor kucing, hingga akhirnya tahanan pertama dibuka pintunya oleh sipir: “Hari Raya…. !!! Ucapkan pada saya “selamat Hari Raya”….!” Keduanya saling jabat tangan. Selesai.

Ketika mendapatkan Anugerah Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk Kategori Pencipta, Pelopor, dan Pembaharu tahun 2016, Akhudiat berkata,  “Dunia panggung itu dunia imajiner, dari dulu saya memang tidak suka yang konvensional.” Maka tidak heran jika dramawan kelahiran Rogojampi, 5 Mei 1946, yang sering menjuarai lomba penulisan naskah drama ini menghasilkan karya yang tidak sebagaimana biasanya.  Karya teaternya yang berjudul “RE”, misalnya, tidak menampilkan dialog, melainkan hanya berupa matriks dan tabel.

Ketika kemudian naskah “Bui” diangkat menjadi lakon ludruk dalam pementasan kali ini, ternyata yang terjadi di atas panggung sangat jauh berbeda. Memang ada dua narapidana yang teribat dalam dialog panjang, masing-masing berada dalam sel jeruji besinya. Tahanan pertama agaknya orang kaya (diperankan Hengki Kusuma), mungkin bandar narkoba, yang bebas keluar masuk sel, mendapatkan pelayanan istimewa. Sedangkan tahanan kedua (Agung Kasas), mengaku masuk tanpa proses peradilan, dituduh korupsi dana BOS, padahal menurutnya itu hanya permainan kepala sekolah.

Pada babak pertama si guru digojlok habis-habisan oleh tahanan pertama, namun dalam babak kedua mereka sudah akrab hingga bisa bermain kartu remi dan tenis meja dalam imajinasi. Baru babak ketiga situasinya terbalik. Tahanan pertama yang semula bisa seenaknya melakukan video call pada isterinya dan mendapatkan jatah konsumsi istimewa, kali ini harus menangis histeris karena sipir memberi tahu bahwa surat keputusan sudah turun, dia akan dipindahkan ke sel isolasi.

Giliran tahanan kedua yang justru tenang meski dimarahi tahanan pertama. Dia heran dengan sikap temannya yang meronta-ronta menyesali nasibnya. Maka ketika tahanan pertama dibawa keluar oleh sipir, narapidana  guru yang tak pernah dijenguk isterinya itu bermonolog kalimat panjang yang sebelumnya diulang-ulang oleh tahanan pertama: “Penjara dimana-mana. Seperti halnya negara, dimana-mana sama saja. Tidak di Amerika, tidak Rusia, tidak Cina, juga republik bangsa kita. Negara ini adalah penjara besar, lebih besar dan keras seperti tempurung. Dan saya seperti kodok, tidak bisa membedakan antara ngorek dan ngorok. Tapi saya bukan kodok Tuaan….”

Yang kemudian menjadi pertanyaan, mengapa sutradara Meimura sama sekali tidak menyebutkan pementasan ini adalah karya adaptasi, dan bukan naskah asli dari Akhudiat? Dialog-dialog surrealis diubah total oleh Mei menjadi percakapan realis perihal kasus yang sering terjadi di masyarakat. Ada guru yang terlibat korupsi, ada bandar narkoba yang tetap dapat menjalankan bisnisnya di penjara, ada sipir yang mudah disogok dan tidak ada yang gratis dalam penjara. Mencoba satu kali hisapan rokok saja harus membayar. Semuanya itu tidak ada dalam naskah aslinya.

Pementasan ini rasanya lebih pantas disebut pentas teater modern yang diawali dengan pakem ludruk berupa dua penari remo, jejeran bedayan dan lawakan yang dangkal. Memang tidak ada salahnya membuat pentas “ludruk rasa teater” sebagaimana juga ada “ludruk rasa ketoprak” bahkan juga ludruk full dagelan, sehingga Kartolo Cs ketika dikritik bukan ludruk lantas mengklaim sebagai “Ludruk Dagelan”.

Lagi pula, sudah berulangkali Ludruk IBSN sejak dipegang oleh Meimura mementaskan naskah teater modern yang tidak lazim bagi ludruk tradisional. Karena itu, dalam garapan yang seperti ini jangan berharap ada peran pembantu yang selalu menyampirkan serbet di pundaknya, adegan meja kursi tuan dan nyonya, adegan tangis-tangisan atau adegan laga yang belakangan disukai penonton sebagaimana sebelumnya justru menjadi andalan pentas ketoprak. Untungnya penggunaan bahasa Jawa dialek Surabayan menjadikan pertunjukan ini terasa akrab bagi penonton.

Begitulah, diantara sejumlah grup ludruk yang masih bertahan sekarang ini, Ludruk Irama Budaya Nusantara telah hadir dalam penampilan tersendiri, yaitu “ludruk rasa teater” yang bahkan berbeda dengan ketika masih bernama Irama Budaya saja. Toh ludruk IBSN masih juga menggarap naskah-naskah dari cerita rakyat biasanya.

Ditunggu saja dalam pementasan rutin selama 50 (lima puluh) kali sepanjang tahun 2018 yang sudah dijamin dengan kucuran dana dari Pemerintah Kota Surabaya. Kalau sudah begitu, jangan harap ada kritik sosial kepada pemerintah kota muncul dari ludruk IBSN sebagaimana yang justru menjadi karakter ludruk sebagai ruang ekspresi rakyat jelata. Meskipun, pentas kali ini sendiri memang sebuah kritik sosial terhadap sistem penjara yang dilunakkan dengan sebutan Lembaga Pemasyarakatan.

Yang jelas, Walikota dan DPRD sudah mengulurkan berbaik hati tangannya. Berterima kasihlah. (henri nurcahyo)