Dua Kutup Menggugat di Galeri Nasional

JAKARTA: Pameran lukisan “Dua Kutup” oleh masdibyo dan Gigih Wiyono di Galeri Nasional dibuka semalam (10/12). Tampil mengenakan kaos hitam bertuliskan “Koruptor Dilarang Membeli Lukisan Karya masdibyo”, pelukis ini sudah melancarkan gugatannya sebelum dia bicara. Dua buah kaos dengan desain yang sama juga dipajang di ruang pamer. Malah sebuah lukisan yang terdiri dari  6 (enam) panel diberi judul “Koruptor Dibuang ke Laut Diadili Ikan Laut Dalam” menunjukkan sikapnya.

Dalam pembukaan pameran, juga dimanfaatkan oleh masdibyo menggugat  ketidakberesan yang terjadi selama ini. Menurutnya, kebanggaan bisa berpameran di gedung A Galeri Nasional ini menjadi runtuh karena ternyata tidak ketat seleksinya. Bagaimana mungkin seorang Butet Kertarajasa bisa berpameran  tunggal di Galnas, bahkan juga seorang bankir kaya raya Gunawijaya namun tidak jelas namanya dalam percaturan seni rupa. “Hampir saja saya membatalkan pameran ini,” tegasnya berapi-api.

Masdibyo sendiri, menurutnya, dibutuhkan 43 kali pameran tunggal sehingga bisa berpameran di Galnas ini. Dia berharap seniman yang berpameran di galeri terhormat ini bukan hanya karena dekat dengan kuratornya. Namun Dibyo tidak menyebut, bahwa sebetulnya dia sudah pameran tunggal  ke-10  diselenggarakan di Galnas tahun 1995.

Selain itu dibutuhkan biaya ratusan juta rupiah untuk pameran ini karena semuanya harus merogoh kocek sendiri. Dia berharap perupa yang berpameran di Galnas dapat didanai oleh pemerintah. Karena perupa yang tampil di Galnas ini adalah potensi bangsa yang membawa nama harum negara dari bidang seni rupa.

“Semua yang dikatakan masdibyo itu benar adanya,” sambung Gigih Wiyono. Dia berharap substansi persoalan ini bisa disampaikan ke Jokowi sehingga ada perhatian terhadap pembangunan seni budaya. “Karena untuk sehat itu harus berani menelan pil pahit,” tambahnya.

Tetapi Eko Sulistyo, SS, Deputi IV Bidang Komunikasi Politik Presiden RI, ketika memberikan sambutan sebelum membuka pameran ini berkomentar, “apa yang disampaikan panjang lebar tadi intinya hanya satu, dana.” Lantas Eko berseloroh, “mungkin kalau Wiji Thukul masih hidup akan merevisi puisinya, hanya ada satu kata, dana.”

Eko juga menyampaikan komitmen pemerintah terhadap pembangunan kebudayaan sebagaimana sudah ditegaskan dalam Trisakti, yaitu berkedaulatan di bidang kebudayaan. Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah juga memperhatikan soft infrastructure yaitu pembangunan di bidang kebudayaan yang sudah diagendakan melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU Pera). Presiden juga sudah menyampaikan dalam pidato awal tahun, bahwa pemerintah akan fokus dalam pembangunan sumberdaya manusia, termasuk masalah kebudayaan.

Direktur Kesenian Kemendikbud, Dr. Restu Gunawan, yang ikut hadir dalam pembukaan itu langsung ditodong untuk menjawab gugatan Masdibyo tadi. Menurut Restu, sebetulnya pemerintah sudah menyediakan dana untuk seniman, antara lain melalui program Fasilitasi Kegiatan Kesenian (FKK). Petunjuk Teknisnya sudah dirilis, dan seniman dapat mengajukannya. “Cuma kalau untuk kegiatan Januari ini sampeyan terlalu cepat Mas, dananya belum turun,” jelasnya.

 

Dua Kutup

Meski pameran “Dua Kutup” ini adalah yang ketiga kalinya, setelah Bandung dan Surabaya, namun materi karyanya sama sekali berbeda. Masdibyo menyajikan 30 karya yang dibuat dalam kurun waktu 2007-2017, sedangkan Gigih Wiyono menghadirkan 23 lukisan dan 9 patung bertarikh 2013-2017. Meski selama ini masdibyo cenderung “anti kurator” namun tercatat nama Dwi Marianto sebagai kurator. “Dia tidak masuk dalam wilayah karya kok,” kilahnya.

Disebut “Dua Kutup” antara lain karena Masdibyo mewakili budaya pesisiran lantaran berasal dari Pacitan dan tinggal di Tuban, sedangkan Gigih yang tinggal di Sukoharjo Jawa Tengah merupakan representasi budaya agraris. Dalam hal karya, masdibyo terkesan meledak-ledak temanya, namun Gigih tampil lembut meski menyimpan gugatan yang dalam sebagaimana budaya Jawa.

Namun apapun yang mereka ungkapkan dalam karyanya sesungguhnya memiliki kesamaan bahwa pameran bersama ini adalah pengungkap spirit dan membawa pesan tentang kekuatan cinta. Mereka bersepakat membawa energi perdamaian dan kasih sayang. Tentang manusia dan sesamanya, manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan.

Dua Kutup adalah sebuah perbedaan dalam kebersatuan. Bagaimana memahami kehidupan yang heterogen sehingga perbedaan adalah rahmat yang patut disyukuri dengan cara saling menghargai. Dua Kutup adalah penyatuan hasil olah kreatif dua perupa, hadir dan melebur membawa energi cinta dan kasih sayang. (hnr)