Pojok Budaya Panji Akan Dibuka di UNIPA

Foto: Rektor UNIPA, Djoko AW

SURABAYA: Menyadari bahwa Budaya Panji bukan sekadar dongeng biasa namun mengandung banyak keteladanan yang layak dikaji dan dikembangkan maka Universitas PGRI Adibuana (UNIPA) Surabaya berencana akan membuka “Pojok Budaya Panji” sebagai sebuah pusat studi mengenai Budaya Panji. Hal ini dikemukakan oleh Rektor UNIPA, Drs. H. Djoko Adi Walujo ST, MM, DBA dalam kesempatan Diskusi Interaktif “Aspek Keteladanan dalam Cerita Panji” di Kampus UNIPA Dukuh Menanggal Surabaya, Rabu sore (14/2).

Diskusi tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Pemberdayaan Intelektual dan Kajian-kajian (LPIK) dibawah naungan UNIPA, menghadirkan pembicara Dr. Sunu Catur B, M.Hum dan Prof Dr. Henricus Supriyanto, M.Hum, keduanya dari UNIPA dan Henri Nurcahyo dari Komunitas Seni Budaya BrangWetaN.

Profesor Dr. H. Gempur Santoso, kepala LPIK, mengatakan bahwa belakangan ini aspek keteladanan sudah mulai terkikis di zaman now, karena itulah kali ini diskusi Cerita Panji disorot dari aspek keteladanan karena banyak hal yang dapat dipetik sebagai pelajaran. Dalam Cerita Panji selalu mengedepankan bahwa yang menang adalah yang berakhlak mulia. Cerita Panji sangat cocok sebagai keteladanan untuk masa kini dan masa mendatang.

Sementara Rektor UNIPA, Djoko Adi Waluyo, mengaku terperangah bahwa Cerita Panji tidak sesederhana yang dibayangkan. Cerita Panji bukan sekadar “kisah lelaki kehilangan bojo (isteri)” melainkan antara lain mengajarkan bahwa kesabaran akan berbuah kemuliaan. Kalau diluar negeri orang mengajarkan etika melalui dongeng-dongeng binatang (fable) namun menurut Djoko bangsa kita mengajarkannya melalui cerita manusia seperti Cerita Panji ini.

Ditambahkan, selama ini kita selalu menggunakan parameter orang asing, termasuk penentuan kualitas karya-karya ilmiah kita. Mengapa bukan kita sendiri yang menjadi wasit, toh kita sendiri yang tahu apa yang kita punyai. Karena itu, Cerita Panji ini adalah sebuah kebangkitan atas kedaulatan bangsa. UNIPA akan mengembangkannya sebagai sebuah kajian tersendiri yang dapat dimulai dengan hal yang sederhana seperti membuat “Pojok Budaya Panji”. Di situ dapat disimpan buku-buku tentang Panji, artefak-artefak Panji, film-film mengenai Panji sehingga siapapun yang ingin belajar Panji bisa datang ke UNIPA.

Dr. Ika Ismurdyahwati selaku ketua panitia yang menjadi moderator acara ini berharap pada para mahasiswa mulai tertarik dengan Cerita Panji sebagai bahan baku yang sangat banyak mengandung keteladanan untuk dipelajari. Penyelenggaraan diskusi ini yang bertepatan dengan Hari Valentine sekaligus merupakan simbol yang relevan terhadap Cerita Panji yang pada dasarnya justru mengajaran kasih sayang.

Dalam diskusi itu Sunu Catur B menyampaikan pemikiran mengenai hubungan Panji dan sejarah. Bahwa Cerita Panji memiliki latar belakang sejarah yang kuat, sehingga banyak orang yang kemudian menganggap bahwa Cerita Panji memang sejarah yang sesungguhnya. Tetapi justru karena itulah menjadi cara yang efektif untuk memulai belajar mengenai kandungan nilai-nilai dalam Cerita Panji. “Bayangkan kalau kitab suci itu berisi pasal-pasal seperti Undang-Undang, tentu membosankan, tetapi karena disampaikan dalam bentuk cerita jadinya mudah dipahami,” jelas staf pengajar UNIPA ini.

Sedangkan Henri Nurcahyo membeberkan sedari awal mengenai apa itu Cerita Panji, sejauh mana keistimewaannya, mengapa menarik untuk dipelajari, termasuk aspek keteladanannya. Bahwa Cerita Panji itu ibarat harta karun yang masih tersimpan rapat di kotak di dalam gua. Masih sedikit orang yang menyadari harta karun Cerita Panji ini. Padahal sebagai sumberdaya budaya, Cerita Panji tidak akan pernah habis digali malah akan bertambah banyak. “Hal ini berkebalikan dengan sumberdaya alam, yang semakin digali akan menjadi habis,” jelas inisiator Komunitas Peduli Budaya Panji ini.

Keteladanan Cerita Panji, menurut Henri, ada tiga hal. Pertama dapat dipelajari dari karakter Panji itu sendiri, yang pemberani, pantang menyerah, penuh kasih sayang, tidak pendendam, mahir dalam segala ilmu dan menguasai semua cabang kesenian. Kedua, keteladanan juga didapat dari moral Cerita Panji itu sendiri yang mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan. Bahkan masih ada keteladanan dari Cerita Panji yang ketiga, yaitu  sebagai sumber inspirasi yang dapat diekspresikan melalui berbagai karya seni serta juga ekonomi kreatif.

Sedangkan Henricus Supriyanto membeberkan mengenai alih wahana Cerita Panji dari cerita tutur menjadi era digital. Menurutnya, dengan mempertimbangkan kultur etnik dan sub etnik, era digital, alih wahana dan regulasi “Pemajuan kebudayaan”, maka mengomunikasikan Tradisi Lisan Panji dapat dilaksanakan melalui tiga cara. Pertama, melalui komunikasi langsung atau tatap muka, dengan cara mendongeng, mementaskan pertunjukan rakyat/tradisional amat efektif dilaksanakan di daerah 3T (Tiga T), yakni daerah terpencil, terdepan dan terpinggirkan.  Kedua,  melalui Komunikasi Bermedia, untuk daerah yang berlistrik, memiliki jejaring/ sinyal sms, (belum tentu ada jejaring internet). Tradisi Lisan Panji dapat dikomunikasikan melalui film pendek, video dan radio (komunikasi lisan). Ketiga, komunikasi di daerah modern/tanpa hambatan sistem komunikasi (radio, televisi nasional dan  lokal, film pendek dapat dijadikan media yang efektif). Di daerah ini tradisi lisan Panji telah mengalami “alih wahana”. (hnr)