Jaka Kendil Versi Janger Karisma Dewata

Dongeng Cerita Jaka kendil begitu populer di Jawa Tengah. Berkisah tentang seorang putra raja Asmawikana dari Kerajaan Ngambar Arum, Jawa Tengah, yang lahir dalam keadaan cacat yaitu memiliki kepala seperti kendil. Hal itu karena dia disihir oleh seorang dukun sewaktu dalam rahim ibunya. Meski begitu, ia menikah dengan seorang putri raja yang cantik jelita dan menyayanginya dengan tulus. Hingga berkat ketulusan sang putri, Jaka Kendil berhasil melepas sihir itu dan menjadi seorang pangeran tampan.

Tetapi kali ini cerita tersebut disajikan oleh kelompok Janger, kesenian hibrida Jawa – Bali khas Banyuwangi, dengan versi berbeda.  Lakon Jaka Kendil dibawakan grup Karisma Dewata di Gedung Kesenian Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu (3/3) dengan sutradara Pekik Sugiono, seniman Janger yang bergabung 7 tahun grup tersebut.

Lelaki yang berkiprah Janger sejak SMP itu menuturkan bahwa yang ingin ia angkat dari lakon tersebut yaitu tentang perjalanan Jaka Kendil mencari jati dirinya untuk berubah wujud menjadi manusia namun perjalanan hidupnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak halangan dan rintangan yang menghadangnya. Dengan kesabaran dan ketulusan hatinya, ia bisa berubah wujud menjadi manusia pada umumnya.

Mengingat Jaka Kendil adalah cerita rakyat maka banyak interpretasi berbeda, tetapi intinya mirip yaitu seorang anak laki-laki raja yang terlahir cacat karena ulah ibu tirinya yang iri dengan ibunya. Kemudian ia dibawa ibunya pergi dari istana dan menetap di dusun kecil. Ketika dewasa, ia bertemu dengan Retnosari, seorang putri bungsu raja yang cantik jelita dan baik hati. Ia jatuh hati pada putri tersebut. Hingga dilamarlah ia. Awalnya pernikahan itu ditentang tetapi akhirnya mendapat restu. Kakak-kakak Retnosari yaitu Retno Kumulo, Retno Kumulowati, dan Retno Kumoloningsih tak henti mencibir adiknya. Namun berkat kesabaran dan ketulusan hati Retno Sari mencintai suaminya, Jaka Kendil akhirnya berubah wujud menjadi pangeran tampan.

Pertunjukan Janger tersebut diawali dengan tarian Margopati. Sebanyak 5 penari menarikan tari tersebut. Sugiono menjelaskan biasanya kalau terop (tanggapan ketika diundang hajatan) juga menampilkan tari Jaran Goyang. Berhubung dibatasi waktu hanya 2,5 jam untuk tampil jadi hanya tarian Margopati saja yang ditampilkan.  Meski begitu pertunjukannya berlangsung meriah, apalagi saat muncul dua dagelan. Gelak tawa memenuhi ruangan Gedung Kesenian Cak Durasim. Penonton juga tertawa ketika Kepala UPTD Taman Budaya Jawa Timur diminta naik ke atas panggung untuk menari. Hal itu karena tingkah lucu salah satu dagelan saat menggodanya.

Pertunjukan Janger tersebut dibuka oleh Kepala UPTD Taman Budaya Jawa Timur, Sukatno dan dihadiri oleh Komunitas Ikawangi yang berada di Surabaya, yaitu ikatan keluarga masyarakat asal Banyuwangi.

Ada yang berbeda dengan suasana penonton kali itu. Sejak diberlakukannya peraturan baru untuk kenyamanan penonton, kini suasana gedung kesenian Cak Durasim menjadi tertib. Semua penonton duduk di kursinya masing-masing sesuai dengan nomor urutan tiket yang dimiliki. Mereka yang tidak kebagian tiket, bisa langsung menyaksikan pergelaran tersebut lewat tayangan yang ditampilkan di pendopo Jayengrana.

Aturan itu untuk mengantisipasi membludaknya penonton mengingat acara yang diselenggarakan di Taman Budaya itu gratis dan terbuka untuk umum sehingga pihak Taman Budaya mengatur, siapa cepat dia dapat. Mereka tidak lagi memberlakukan penerimaan pemesanan tiket karena belajar dari pengalaman ada calon pengunjung yang memesan 25 tiket tetapi yang datang hanya 5 orang. Hal itu membuat tidak kondusif apalagi ada calon pengunjung yang tidak bisa masuk karena tidak memiliki tiket padahal di dalam gedung ada kursi kosong. Dengan aturan baru tersebut, pengunjung yang hendak menyaksikan pertunjukan disarankan untuk datang lebih awal agar kebagian tiket dan bisa menyaksikan secara langsung di gedungnya bukan lewat tayangan proyektor. (nur).