Janger Karisma Dewata, Terlaris di Banyuwangi

Jungkir balik menghadapi persaingan ketat kesenian di Banyuwangi, tak menjadi soal bagi grup Janger Karisma Dewata asal Dusun Curahkrakal Desa Tambakrejo Kecamatan Muncar-Banyuwangi. Lewat kreasi dan inovasinya terus-menerus, grup Janger ini terkenal di tingkat lokal Banyuwangi dan didaulat sebagai satu dari tiga Janger terlaris di Banyuwangi bersama grup Sri Budaya Pangestu dan Sastra Dewa.

Grup itu sudah dua kali tampil di Taman Budaya. Sebelumnya di tahun 2013, mereka tampil dengan lakon Bebantening Asmara yang bersumber dari cerita Geger Gunung Wilis di Jenggala.

Dibawah asuhan Kawit dan Sutaji, kelompok Janger yang berdiri sejak 5 Mei 2000 itu awalnya adalah bernama Wahyu Budoyo namun keberadaannya kembang-kempis. Sutaji yang saat itu kuliah di IKIP Negeri Surabaya (sekarang Unesa) miris melihatnya dan  bertekad pulang ke Banyuwangi. Ia kemudian menjadi fasilitator dan berusaha menghidupkan kembali. Namun itu bukan hal mudah, tanggapan yang didapat grupnya masih sepi. Akhirnya tahun 2002, ia mengubah nama grupnya menjadi Agung Budaya.

Sutaji

Meski sudah mengubah nama, tanggapan grup Jangernya tetap sepi. Akhirnya dia mengajak kakak iparnya, Kawit untuk memperbaiki Jangernya. Dengan modal Rp 50 juta dari Kawit, ia membeli gamelan perunggu dan memperbaiki Jangernya. Tetapi belum berjalan mulus. Janger Agung Budaya masih tak ramai tanggapan. Akhirnya tahun 2010, grup Janger itu resmi berganti nama menjadi Karisma Dewata.

Sejak berganti nama, Sutaji mengaku Karisma Dewata mulai berkembang pesat. Tanggapannya mulai banyak. Hingga pada tahun 2011-2012 sampai di puncak jayanya dan dinobatkan sebagai janger terlaris hingga sekarang. Bahkan dalam sebulan mereka bisa pentas 20 kali lebih. Selain pentas di lokal Banyuwangi, mereka juga mendapat undangan pentas di Lumajang dan Jember. Lakon terlaris yang diminati masyarakat adalah Wahyu Kembang Jayakusuma.

Pada tahun 2014, waktu diselenggarakannya kegiatan kesenian di Banyuwangi, Karisma Dewata menampilkan lakon Luntung Kamandalu dan membuatnya berhasil menjadi Janger terbaik se-Banyuwangi. Tahun 2015 pernah diundang Bupati Banyuwangi untuk dengan membawakan lakon Legenda Gunung Kembang Pitu. Sejauh ini, Karisma Dewata belum memiliki website sendiri yang memuat informasi terkait grupnya. Tetapi anggotanya berinisiatif sendiri untuk mengunggah pertunjukannya di akun sosial media lewat youtube. Kedepannya, Sutaji berencna untuk membuat website tentang Janger Karisma Dewata.

Banyak anak muda yang tergabung dalam grup Karisma Dewata. Di sanggar ini tidak hanya seni tari, melainkan juga seni teater, seni musik maupun drama tari.

Di Kecamatan Muncar sendiri, terdapat 3 Grup Janger yang dominan antara lain, Janger Karisma Dewata, Janger Sekar Arum Bhawono, dan Janger Sastra Dewa Sumberwangi. Lakon Jaka Kendil merupakan lakon yang sering ditampilkan. Selain unik, cerita yang diadopsi dari cerita Jawa ini tergolong menarik.

Sejauh ini, jumlah Janger yang ada di Banyuwangi kurang lebih mencapai 100 grup. Dan masih banyak lagi bermunculan grup-grup baru yang ingin menekuni kesenian tersebut. Namun sayang sekali sampai saat ini tidak ada forum ataupun komunitas antar grup Janger. Dengan banyaknya grup Janger di Banyuwangi maka persaingan antargrup semakin ketat.

Sugiono

Pekik Sugiono, sutradara dalam lakon Jaka Kendil, mengatakan bahwa kondisi Janger saat ini sudah sangat modern. Kini, Janger klasik sudah ketinggalan zaman dan tak lagi diminati penonton. Karisma Dewata pun menyesuaikan diri. Salah satu strateginya agar tetap eksis yaitu dengan menekankan kedisiplinan dan kerukunan diantara anggotanya.

Sebanyak 55 orang yang terlibat dalam pertunjukan ini terdiri dari pemain, pengrawit, dan kru properti. Sedangkan anggota Kariswa Dewata sendiri terdiri dari 100 orang. “Kariswa Dewata harus maju dan menyejahterakan anggota. Karena kami mementingkan anggota,” begitu harapan laki-laki yang juga pengasuh Padepokan Seni tari Sekartaji di Dusun Curahpacol itu.

“Semoga tetap lancar, banyak rejekinya. Tidak hanya dinikmati warga Banyuwangi tetapi juga masyarakat Jawa Timur,” harapnya.  (nur, lya)