Kentrung Dewi Rengganis dari Jember

SURABAYA: Pergelaran Seni Kentrung dari Jember dengan lakon Dewi Rengganis akan dihadirkan di Taman Budaya Jatim, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, hari Sabtu malam (10/3). Namun sebelum itu acara Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) dengan tema “Pesona Budaya Pendalungan” ini sudah dimulai sejak sehari sebelumnya (9/3) dengan berbagai acara kesenian.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Jarianto, M.Si mengatakan, meski ini acara rutin yang diselenggarakan oleh UPT Taman Budaya Jatim namun memiliki makna  besar bagi pengembangan pariwisata, seni dan budaya daerah, dalam hal ini Kabupaten Jember. Sebagaimana diketahui, bahwa Jember adalah kabupaten yang memiliki kekayaan multikultural, ibarat periuk besar tempat bersatunya berbagai macam seni dan budaya yang berbeda-beda. Kesenian bernuansa Jawa, Madura, Osing, Cina, Arab tumbuh subur di bumi Jember. Meski demikian persaingan selalu dihindarkan, dan kebersamaan menjadi keutamaan.

Dimulai Jumat sore, acara diawali dengan sajian tarian Bedaya Sarkara Warih, sebuah sajian tari yang berisikan pujian, doa dan harapan sebagai sumber kekuatan, untuk berbuat kebaikan, menjaga ketentraman dan kedamaian dan agar terhindar dari celaka dan bencana. Kata Warih (air) memiliki sifat yang khas. Ia menjadi sumber penghidupan bagi makhuk di muka bumi. Sarkoro Warih menjadikan kehidupan yang hampa dan hambar menjadi harmonis dan ceria, dalam balutan dan rajutan tali persaudaraan. Jadi dengan tarian ini diharapkan semoga menjadi sarana menghilangkan malapetaka dan bencana, selalu bersanding dengan damai, aman, dan sejahtera.

Setelah seremonial pembukaan dan suguhan lagu-lagu daerah, acara hari pertama dipungkasi dengan pergelaran seni pertunjukan dramatari “Sekar Gebang Taman” yang disajikan oleh Sanggar Seni Kartika Budaya dari Ambulu Jember.

Pertunjukan ini mengisahkan Adipati Kadipaten Gebang Taman, memiliki seorang putri yang cantik jelita bernama Roro Mangli. Kecantikannya membuat banyak pria ingin meminangnya. Pangeran Puger putra Mpu Condro adalah salah satu diantara pria yang berusaha meminangnya. Tetapi diam-diam Roro Mangli menjalin cinta dengan Pangeran Arjasa. Kisah cinta mereka tidak disetujui oleh Adhipati Gebang Taman. Maka diutuslah Mpu Condro untuk memisahkan cinta mereka.

Sebagaimana biasa, hari Sabtu pagi sengaja diperuntukkan bagi anak-anak dan keluarga dengan acara Lomba Melukis dengan media tas. Kemudian siang harinya disuguhkan gelar Seni Jaranan. Sebagaimana daerah lain juga Jaranan Kencak, Jaranan Buto, Jaranan Senterewe, Can Macanan Kadu’ dan Celengan  bersatu dalam satu kemasan. Jaranan adalah simbol kebersamaan persatuan dan kesatuan di antara berbagai macam kesenian. Jaranan adalah simbol prajurit yang cerdas, tangkas, lincah dan kesatria. Sedangkan Celeng dan Caplokan adalah lambang keangkaramurkaan yang selalu membuat keresahan, keributan di tengah ketentraman. Namun berkat  kesigapan para prajurit yang kesatria dan perwira maka keresahan dan keributan dapat disingkirkan.

Dan akhirnya, acara selama dua hari ini dipungkasi dengan sajian Guyon Maton berupa kolaborasi Campursari, Lawak dan Kentrung. Guyon Waton merupakan pertunjukan yang rekreatif, atraktif, komunikatif, dan tetap pada koridor etika dan estetika.  Lagu-lagu campursari, diselingi dengan sajian tari, dibumbui dengan lawakan-lawakan segar, dirangkai dengan seni kentrung dengan lakon tentang Dewi Rengganis.

Disamping berbagai sajian seni, di halaman Taman Budaya Jatim juga disajikan Pameran Hasil Karya dan Produk Unggulan berupa kuliner khas Jember seperti tape manis, prol tape, suwar-suwir, edamame, dan berbagai makanan tempo dulu. Juga hasil kerajinan masyarakat Jember yaitu batik, ukir, manik-manik, dan sejenisnya. Tidak lupa pula berbagai kerajinan berbahan baku dari batu-batuan pantai dan laut.

Info selengkapnya, Taman Budaya Jawa Timur, telp: 031 534 2128. (*)

Foto: Jaranan Campursari, source: jemberan.net