Jember Akan Membuat Taman Budaya

Kabupaten Jember berencana akan membuat Taman Budaya sebagaimana yang sudah ada di kabupaten Tulungagung. Hal ini ditegaskan oleh Bupati Jember, dr. Hj Faida, MMR, ketika memberikan sambutan dalam acara Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) di pendopo Jarengrana Taman Budaya Jawa Timur, Jum’at (9/3).

Sebagaimana diketahui, bahwa di provinsi Jawa Timur hanya ada satu-satunya Taman Budaya di tingkat Kabupaten atau kelas B, yaitu Tulungagung. Hal ini melengkapi keberadaan Taman Budaya Jatim di tingkat provinsi sebagai Taman Budaya kelas A. Hingga saat ini, Taman Budaya di Tulungagung itu adalah satu-satunya Taman Budaya kelas B di Jawa Timur,  sedangkan di Indonesia ada di Semarang (Taman Budaya Raden Saleh) dan Taman Budaya Tegal di kabupaten Tegal.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Dr. H. Jarianto, MSi, dalam berbagai kesempatan memang menginginkan adanya Taman Budaya di setiap kabupaten, bukan hanya ada di tingkat provinsi saja. Malah dari 34 provinsi di seluruh Indonesia, hanya 27 provinsi yang memiliki Taman Budaya. Hal ini sudah lama juga disampaikan kepada pemerintah pusat agar ditiru di daerah-daerah lain. Maka dengan adanya Taman Budaya di Jember nantinya akan menambah jumlah Taman Budaya kelas B di provinsi Jatim.

Lewat sambutannya, Bupati Jember mengatakan seni budaya di Jember adalah Pandhalungan karena di sana terdapat campuran kebudayaan Jawa-Madura. Dengan adanya Taman Budaya di Jember itu, kata Bupati, dimaksudkan untuk meningkatkan dan mengembangkan kesenian. Ia juga menuturkan bahwa di Jember terdapat destinasi-destinasi wisata baru baik edukasi dan religi.Tak lupa ia juga mengenalkan wisata Teluk Cinta (lebih familiar dengan love beach) yang kini jadi serbuan wisatawan ketika berkunjung ke Jember.

Selama ini Jember dikenal sebagai kabupaten berbudaya Pandhalungan sehingga melahirkan kesenian dan kebudayaan hibrida campuran antara Jawa, Madura dan Osing. Selain itu, kabupaten ini terkenal sebagai penghasil  4C yaitu Coffee, Cacao, Cigarette, dan Culture yang produknya mendunia. Hal itu yang kemudian menjadikan Jember memiliki Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia yang menyediakan bibit kopi dan cokelat unggulan.

Selain itu Jember memiliki musik khas yaitu musik patrol. Musik tersebut kemudian dipadukan dengan tabuhan gamelan yang menghasilkan musik rancak nan indah. Begitulah ciri khas Jember yang ditampilkan dalam acara GSBD yang berlangsung dua hari itu (9-10/3).

Sukses Meski Hujan

Acara yang dibuka oleh Sekretaris Daerah Jawa Timur, Akhmad Sukardi, ini juga menampilkan Sanggar Kartika Budaya, Jaranan Putra Sakti dan Sanggar Suro Budaya, dan beberapa kesenian lain yaitu Tari Bedoyo Sarkaro Warih, Lagu Daerah Jember Kota Pandhalungan, Dramatari Sekar Gerbang Taman. Esoknya, mereka menampilkan tari Gambyong, tari Suwar-Suwir Jember, campursari Suro Budoyo, dan pergelaran kentrung lakon Legenda Dewi Rengganis yang fenomenal dikenal sebagai penguasa puncak Gunung Argopuro di wilayah Situbondo dan Bondowoso. Masyarakat akhirnya mengenalnya sebagai Puncak Rengganis.

Tari Bedoyo Sarkara Warih dan dramatari Sekar Gerbang Taman misalnya, cukup membuat penonton berdecak kagum. Karya tari garapan Enys Kartika, pengasuh Sanggar Kartika Budaya itu ditampilkan perdana di GSBD. Butuh dua bulan baginya menciptakan karya tersebut dan melatih anak-anak sanggarnya. Tari Sarkara Warih merupakan hasil eksplorasi baru yang merupakan tarian persembahan yang ditarikan 9 penari putri. Sarkara berarti Gula Manis sedangkan Warih berarti air. Air gula manis dipercaya bisa meningkatkan kekuatan. Jadi lewat persembahan tarinya, ia menitipkan pesan bahwa kekuatan untuk menghadapi hidup ini berasal dari usaha dan doa.

Memasuki hari kedua, acara GSBD diawali dengan lomba menggambar yang diikuti oleh anak TK dan orangtuanya disusul pertunjukan jaranan “Putra Sakti” dari Jember. Penampilan memukau dari para pemain jaranan, membuat para peserta berdecak kagum. Mereka pun tak ragu untuk berjoged bersama dan berebut swafoto dengan para pemain jaranan. Apalagi dengan kehadiran sosok Refi, anak dari Feri, pengasuh jaranan “Putra Sakti” membuat para orangtua yang kebanyakan ibu-ibu berebut foto dengannya. Bocah 5 tahun itu lihai menari dan melakukan atraksi salto di depan penonton.

Malamnya, acara dibuka dengan tari Gambyong dan tari Suwar-Suwir Jember yang berangkat dari ikon Jember sebagai kota Pandhalungan yang menjadi tempat menyatunya berbagai budaya yang luar biasa. Setelahnya dilanjutkan sambutan penutupan oleh kepala UPTD Taman Budaya Jawa Timur, Sukatno. Lewat sambutannya ia menyampaikan apresiasi yang luar biasa kepada masyarakat Jember.

Meski diguyur hujan dua hari berturut-turut, acara berlangsung sukses. Penontonnya juga antusias. Ia memaparkan bahwa acara Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) sudah digelar selama 8 tahun berturut-turut yang dibiayai dari APBD kabupaten dan provinsi. Tetapi untuk doorprize-nya, pihaknya melakukan kerjasama bersama sponsor. Hal itu bertujuan untuk memacu semangat masyarakat untuk melihat dan mengapresiasi kegiatan seni dan budaya daerah.

Selain menampilkan pagelaran kesenian khas Jember, juga dipamerkan beberapa produk UMKM dan ekonomi kreatif seperti Kampung Wisata Tanoker, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, PT. Boss Image Nusantara, Taman Botani Sukorambi, Canking Snack & Product, IKA Zahro Accessories, Pusat Oleh-Oleh Primadona, Rollas Coffe and Tea, Rezti’s Batik mBoelae, Warung Pandhalungan, dan Komunitas Perupa Jember yang digelar di halaman Taman Budaya (nur).