Masdibyo Pameran Tunggal ke 44

JAKARTA: Belum lama berselang pameran berdua dengan Gigih Wiyono di Galeri Nasional (10 Januari), kali ini Masdibyo akan menggelar Pameran Tunggal yang ke 44 kalinya. Rasa-rasanya tidak ada satupun pelukis yang sanggup menyaingi pelukis asal Pacitan yang bermukim di Tuban ini dalam hal produktivitas berpameran tunggal.

Pameran akan dibuka tanggal 2 April, dilangsungkan di Bakrie Tower, Kompleks Rasuna Epicentrum, Jl. HR. Rasuna Said Jakarta selama sebulan penuh hingga tanggal 30 April mendatang. Menurut rencana pembukaan dilakukan oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, Hilmar Farid.

Sebagaimana biasanya pameran dengan tema “Kuating Katresnan” ini dipersiapkan oleh Masdibyo sendiri sejak penulisan, konsep desain dan pembuatan katalog, undangan, persiapan teknis pameran, bahkan tidak ada sponsor sama sekali. Semuanya ditangani sendiri oleh lelaki berusia 56 tahun ini, termasuk kurator. Tentu saja, berbagai urusan teknis terkait karyanya. Masdibyo bukan tipe pelukis yang hanya duduk manis dan semua urusan pameran diserahkan event organizer.

Lahir di desa Mangunharjo, kecamatan Arjosari, Pacitan, Jawa Timur pada tanggal 7 September 1962, alumnus jurusan seni rupa IKIP Negeri Surabaya ini dikenal sebagai sosok yang gigih menciptakan kesuksesan dunianya sendiri. Sangat sedikit pelukis yang juga sekaligus menguasai marketing sebagaimana Masdibyo. Di tengah cibiran dan cemoohan serta pandangan sinis dari sejumlah kalangan, bapak tiga puteri ini terus melaju dengan karya-karyanya. Ketidak-senangan terhadapnya justru diserap menjadi energi yang membuncah. Dia sadar betul, bahwa memilih jalan hidup sebagai seniman itu ibarat memilih jalan yang sepi.

Sudah menjadi kredo Masdibyo, bahwa “tidak perlu kuatir tidak terkenal, tidak diakui, yang penting adalah sinau (belajar) terus, berkarya terus, pameran terus, riang gembira terus.” Para pecinta lukisannya, katanya, adalah orang-orang “tumbuh” yang eksistensinya dibentuk oleh proses yang panjang, bukan spekulan yang senang pada sesuatu yang instant. Lukisan Masdibyo tidak menjanjkan apa-apa termasuk keuntungan finansial bila setiap saat butuh uang dan menjualnya. “Namun saya terus belajar dan berusaha agar yang mengoleksinya tidak buang uang sia-sia,” tegasnya.

Sepanjang tahun 2018 ini saja, pelukis yang pernah menjadi guru dan kartunis koran ini sudah mengagendakan sejumlah pameran. Selain pameran “Dua Kutup” di Galnas Januari lalu, dalam tahun ini Masdibyo juga akan menggelar pameran tunggal di Korea Selatan. Belum lama ini dia sudah jalan-jalan di Negeri Ginseng tersebut terkait rencana pamerannya.

Perihal karyanya, kekuatan Masdibyo adalah dalam hal tema. Dia tidak mau terbelenggu dalam satu gaya tertentu, tidak mengenal periode yang baku. Bahkan dalam satu kali pameran yang cenderung mirip, selalu saja ada karya yang lain dari yang lain, posisinya agak disembunyikan di ruang pamer, namun justru karya itulah yang diincar kolektor.

Tema pameran tunggal kali ini, “Kuating Katresnan” (kekuatan cinta) merupakan ekspresinya terhadap kecintaan Masdibyo dalam banyak hal. Dia cinta perempuan, mulai dari ibunya, isterinya, ketiga puterinya, termasuk juga “pacar-pacarnya” yang selalu berganti. Dia cinta negeri ini, sampai-sampai pernah menjadi Bakal Calon Bupati Pacitan dan juga hampir-hampir saja terjun berpolitik melalui sebuah partai baru. Masdibyo adalah sosok yang mencintai apa dan siapa saja, termasuk mereka yang tidak menyukai dan membencinya, dan juga mencintai dirinya sendiri. Karena semuanya itu adalah energi yang terus menerus menggerakkan hatinya untuk berkarya. (hnr)