Gelar Wayang Beber Dua Dalang

  1. PACITAN: Pergelaran wayang beber di pendopo Kabupaten Pacitan Senin (26/3) berlangsung unik karena dilakukan oleh dua dalang di atas pentas. Yang menarik, satu dalang memang sudah senior, yaitu Rudhi Prasetya, sedangkan dalang satunya adalah anak muda, siswa SMK kelas XII (tiga).

Acara tersebut diselenggarakan oleh UPT Laboratorium, Pelatihan dan Pengembangan Kesenian (LPP Kesenian) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur dengan nama program “Pergelaran Revitalisasi Kesenian Daerah Wayang Beber 2018” bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan. Dalam acara tersebut dihadirkan penonton dari beberapa sekolah, sejak Sekolah Dasar (SD) hingga SMA/K.

Sebelum gelar wayang beber, acara diawali oleh seni pertunjukan berjudul “Sekartaji, Sekartaji” oleh siswa SMKN 1 Pacitan yang pernah menjadi Juara Pertama Apresiasi Seni Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) di Surabaya tahun lalu. Cerita yang disajikan adalah fragmen dari cerita Jaka Kembang Kuning pada saat adegan di pasar, ketika Raden Panji mencari  Dewi Sekartaji dan sempat saling melihat namun tidak sempat bertemu. Karya ini digarap oleh penata tari Iswinedar dan penata musik Tri Gangsar Wicaksono serta sutradara Pandu Sadeka.

Dalang muda yang tampil pergelaran wayang beber itu adalah Handika Adi Kuncoro, lahir tanggal 21 Juli 1999 siswa kelas XII SMK Negeri Kebonagung, Pacitan. Anak pertama dari empat bersaudara ini mengaku tidak berasal dari keturunan seniman. Ayahnya seorang petani. Dia mengaku baru belajar dalang belum genap satu tahun. Sebelum pentas di pendopo kali ini Kuncoro, panggilannya, latihan serius di sekolah seharian penuh.

Tetapi ternyata Kuncoro pernah pentas pertama kali di desanya sendiri, yaitu  lapangan Ketro pada saat ada acara Agustusan tahun lalu. Belajar mendalang dilakukannya di Sanggar Lung asuhan Rudhi Prasetya atas dorongan kepala sekolahnya. “Saya mendapat dukungan dari guru-guru dan kepala sekolah serta dorongan dari Rudhi sendiri dan juga orangtua,” jelas anak muda yang tinggal di Dusun Wonojoyo desa Ketro, Kecamatan Kebonagung ini.

Dalam pergelaran itu Kuncoro duduk sejajar dengan Rudhi. Kuncoro hanya membawakan cerita dua gulungan, untuk seterusnya dilanjutkan oleh Rudhi. Pola ini sengaja dibuat agar diketahui sejauh mana Kuncoro mampu melakukan perpindahan gulungan yang ternyata diketahui dia sepertinya belum sepenuhnya trampil. Kuncoro mengaku tidak bisa bermain gamelan, masih belajar. Saat pergelaran pun masih membaca catatan, meski tidak semuanya.

Ditanya pendapatnya soal anak didiknya, Rudhi menatakan, “Saya bangga dengan Kuncoro, karena dia mau menjadi dalang wayang beber dan serius belajar tentang Panji dalam wayang beber. Yang penting dia mau terus berlatih menjadi dalang wayang beber untuk meneruskan generasi pewaris budaya bangsa.”

Kuncoro adalah satu-satunya siswa Sanggar yang sudah berani pentas dalang Wayang Beber, sementara masih ada 5 siswa lainnya yang siap menjadi generasi muda dalang wayang beber. Diantaranya adalah siswa SMP, santri Pondok Tremas,  yang masih terus berlatih di Sanggar. “Teknik mendalangnya sudah bagus, saya bangga padanya,” tukas Rudhi. (hnr)