Ketika Nyai Rara Kidul Mantu

MALANG: Ludruk Brawijaya dari desa Pandanarum, Kecamatan Pacet, kabupaten Mojokerto mengisi pentas periodik perdana di Taman Krida Budaya (TKB) Jawa Timur di Malang, Sabtu malam (24/3) dengan lakon “Dalang Sariguno Nyi Rara Kidul Mantu.” Memboyong peralatan dekor panggung sendiri, ludruk pimpinan Mulyono (50 tahun) ini berlangsung kurang meriah sehingga banyak anak-anak kecil yang tertidur di lantai depan panggung hingga pertunjukan usai.

Babak Dagelan yang berlangsung lumayan panjang mampu mengundang ledakan tawa penonton berkali-kali meski sebetulnya materinya lawas dan banyak mengeksploitasi fisik pemain yang bergigi tongos, dan sering memainkan kepala lawan main. Seorang tokoh ludruk berkomentar, “main di sini itu enak, masiyo gak sepiro lucu sing nonton ger-geran.

Dalam lakon tersebut dikisahkan, pada suatu ketika masyarakat dilanda wabah penyakit. Ketika ada yang sakit pagi, sore harinya meninggal dunia. Ketika ada yang sakit sore esok paginya meninggal dunia. Mereka menyebut wabah itu dengan nama Pagebluk, artinya mereka percaya bahwa hal itu merupakan tanda bahwa Nyai Rara Kidul hendak punya hajat (mantu).

Pada saat itulah datang orang aneh yang di kemudian hari diketahui merupakan utusan dari Nyai Rara Kidul. Orang ini mencari dalang bernama Sariguno, dalang sejati yang dikenal sebagai dalang ruwat. Dia menyebut tanggal 1 Sura, malam Jumat Legi, agar dalang tersebut mengisi acara wayangan di pantai segara kidul. Tentu saja Sariguno senang menerima order tersebut, begitu pula isterinya. Tetapi yang kemudian terjadi, ketika Sariguno sedang latihan mendalang di rumah, tiba-tiba meninggal dunia.

Dalam sebuah pesta hajatan, nampak Nyai Rara Kidul duduk di singgasana, nampak sepasang payudaranya menyembul keluar leher busananya. Terlihat Sariguno sedang mendalang. Banyak biyada, putera dan puteri sebanyak 144 orang. Nampak juga Alibari, putera Adipati Gresik. Lelaki inilah yang dijadikan menantu oleh Nyai Rara Kidul karena diduga  memiliki wahyu. Ternyata mereka semua hanyalah berupa roh termasuk Sariguno.

Ketika hajatan sedang berlangsung, datanglah Sampokong, seorang saudagar dari Cina yang dimintai tolong oleh Ki Wiroguno, saudara dalang Sariguno. Terjadilah perdebatan antara Nyai Rara Kidul dengan Sampokong yang menghendaki semua roh dapat dikembalikan ke alamnya semula. Adu kesaktian terjadi antara keduanya, Nyai Rara Kidul kalah, musnah kerajaannya dan kembalilah semua roh.

Maka Nyai Rara Kidulpun bersumpah, akan menghancurkan armada  Sampokong. Kisah inilah yang kemudian melahirkan dongeng pecahnya kapal Dampo Awang, milik Sampokong, akibat Nyai Rara Kidul mengamuk. Dongeng ini merupakan kelanjutan kisah Dalang Sariguno Nyai Rara Kidul Mantu, yang kata Mulyono, akan diangkat dalam pergelaran berikutnya. Ide cerita dan penulisan berasal dari Mulyono sendiri sedangkan sutradara ditangani oleh Didit dan Pi’i dari Jombang.

Cerita seperti ini merupakan cerita lama yang dibawakan ludruk di desa-desa yang merupakan pengalaman Mulyono ketika masih kecil.  Lelaki ini memang asli kelahiran desa Pandanarum dan sejak kecil hobi nonton ludruk tobong yang sering main di desanya. Baru pertama kali ini dia mengangkat kembali cerita tersebut saat pihak UPTD Taman Budaya memintanya pentas di TKB Malang.

Mulyono memang berasal dari keluarga ludruk, ayahnya seorang wiyaga dari dalang Ki Sleman, kakak kandungnya pun, Abdul Fatah, ikut main dalam pertunjukan kali ini berperan sebagai dalang Sariguno. (hnr)