Drama Tari Hayam Wuruk dan Ludruk Karya Budaya

SURABAYA: Pergelaran drama tari “Penobatan Hayam Wuruk” dan Ludruk Karya Budaya dengan lakon “Keris Nogo Sosro” akan dipentaskan di pendopo Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya dalam acara Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) dari Kabupaten Mojokerto, (6-7 April).

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, Sinarto, SKar, MM, menyatakan bahwa acara ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan di Taman Budaya Jawa Timur dengan menampilkan potensi seni budaya dan pariwisata berbagai daerah secara bergantian. Hal ini dimaksudkan untuk menjadikan Taman Budaya Jatim sebagai etalase seni budaya dan pariwisata Jawa Timur.

Acara hari pertama dimulai dengan Bedaya Majaputri sebagai tarian pembuka, setelah seremonal pembukaan disajikan Tari Mayang Rontek, Lagu Daerah “Mojokerto Suminar” dan dipungkasi dengan dramatari. Bedaya Majaputeri merupakan sebuah karya tari garapan baru  yang menggambarkan suka cita Putri-Putri Kerajaan Majapahit dalam menanti dan menyambut kedatangan rombongan Prajurit Majapahit dari medan laga kembali ke kota Raja dengan membawa sebuah kemenangan.

Tari Mayang Rontek merupakan tarian yang menggambarkan ungkapan selamat datang dan penyambutan tamu yang menceritakan keelokan dan keanggunan gadis menuju melepas masa lajang. Tari Mayang Rontek melambangkan bertemunya pengantin Mojoputri dalam temu manten Loro Pangkon.

Sedangkan dramatari Penobatan Hayam Wuruk berkisah ketika Raja Jayanegara mangkat, digantikan Tri Buana Tungga Dewi Jaya Wisnu Wardhani, kemunculan Patih Gadjah Mada hang berhasil memadamkan pemberontakan yang susul menyusul.   Sampai akhirnya, ketika Raja Putri merasa gelisah, karena tergerus usia dan sudah tidak sanggup lagi memerintah kerajaan Majapahit, akhirnya pada tahun 1334 M Hayam Wuruk naik tahta menggantikan ibunya dengan gelar Bhre Jiwana Hayam Wuruk Maharaja Sri Rajasanegara.

Karya koreografi Sunawan ini memang sebelumnya pernah dipentaskan di Candi Brahu, namun kali ini lebih fokus ke pemberontakan Sadeng dan Kuti yang terjadi pada era Tribuana Tunggadewi. Patih Gadjah Mada yang kala itu bertugas di Daha dipanggil ke pusat pemerintahan untuk meredam pemberontakan tersebut. Atas keberhasilannya inilah berbuahkan diangkat menjadi Maha Patih yang kemudian seusai pelantikan Gadjah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal itu, Sumpah Palapa.

Hari kedua, acara sudah dimulai Sabtu pagi dengan Lomba Mewarnai dan Melukis Tempat Pensil untuk keluarga, siang harinya digelar kesenian Bantengan, dan dipungkasi dengan pergelaran ludruk Karya Budaya. Pertunjukan ini mengisahkan ulah Liwon dan Demo berpura-pura mencari pusaka keris Nagasasra dengan harga mahal untuk mengerjai Joyo Srondol, seorang lintah darat yang sangat meresahkan masyarakat. Menyadari bahwa dirinya dikerjai, Joyo Srondol akhirnya menyadari perbuatannya yang meresahkan dan berjanji tidak aan mengulangi lagi.

Sebagaimana biasa selama dua hari acara GSBD ini juga digelar pameran hasil-hasil potensi unggulan daerah, bursa karya seni dan bazaar kuliner di halaman Taman Budaya Jatim. (hnr)

Foto: Saat latihan di Mojokerto (foto; Jabbar Abdullah)