Hari Teater Dunia dengan Puncak Musuh Masyarakat

SURABAYA: Peringatan Hari Teater Dunia (Hartedu) dilakukan oleh 16 (enam belas) komunitas teater Surabaya di Taman Budaya Jawa Timur (27/3). Acara ini diprakarsai oleh Jurusan Teater SMKN 12 Surabaya yang  menyajikan pertunjukan pamungkas “Musuh Masyarakat” dari naskah Henrik Ibsen yang diterjemahkan oleh Asrul Sani dan diadaptasi bebas oleh R. Giryadi.

Perayaan bertema Teater Membangun Karakter  ini melibatkan kelompok teater dari sekolah seperti  SMPN 57 Surabaya dengan lakon Jaboi,  Teater Cah Bocah dari Sidoarjo dengan lakon Tragedi Laut Wetan, Teater Sang Gendang dari SMPN 2 Sukodono dengan lakon Calo Larang. Juga teater kampus yaitu Teater Mata Angin Unair dengan lakon Pidato, Teater Sendratasik Unesa dengan lakon Endi, Teater Gapus Unair dengan lakon Kalamambung.

Teater lainnya yang ikut bergabung adalah Sketsa dengan  lakon Lebur Dening Pangastuti, Sanggar Mlasti Blitar dengan lakon Darsini, Teater Istana dengan lakon Wek-Wek, Teater Cuci Otak Kolaborat Kabel Teater dengan lakon di-ISI-ngi, Sanggar ADP dengan tari Sorote Lintang, Madi Becak dengan lakon  Pencilakaan Indah, Doet Theatre dengan lakon Dewa Mabuk , Ruang Karakter dengan lakon Ningsih Mantan Kekasih.

Namun bukan hanya pertunjukan teater panggung yang tampil melainkan juga serta penampilan fire dance dari The Nine Theatrevision SMKN 12 Surabaya yang menghadirkan semburan api. Demikian pula Teater Serambi STKW menyajikan pagelaran seni tradisional Bantengan,

Masing-masing kelompok ini bersaing menampilkan yang terbaik. Sanggar Mlasti Blitar misalnya, menyajikan  kisah soal pelacur bernama Darsini yang ingin berhenti dari pekerjaannya sebagai pelacur. Akan tetapi perjuangannya keluar dari lubang hitam tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia mendapat tekanan dari ibunya, asistennya dan pejabat yang membuatnya menarik ulur keputusannya karena taruhannya adalah mati. Sepanjang pertunjukan penonton yang kebanyakan usia remaja berteriak-teriak menyaksikan beberapa adegan yang tampak vulgar. tetapi hal itu tak mengurangi pesan edukasi yang hendak disampaikan lewat dialog antar tokoh.

Berbeda halnya dengan komunitas Gapus Unair, lewat lakon Kalamambung mengangkat sebuah pertanyaan, “Bagaimana ketika semua itu mencapai batas akhirrnya”. Lakon itu berdasar pada perkembangan hidup manusia yang kian meningkat dan modernitas mempengaruhi manusia dan pergerakannya sebagai manusia.

Persiapan perayaan Hatedu ini memakan waktu selama 3 bulan, kata kepala  jurusan Teater  SMKN 12 Surabaya, Harwi Mardiyanto. Bahwa acara ini juga bertujuan untuk silaturahmi dan mengumpulkan teman-teman yang bergiat di teater baik pelajar, mahasiswa dan seniman. Mereka yang berangkat dari biaya sendiri sedangkan pihaknya yang menjadi panitia memfasilitasi tempat pertunjukan, tempat istirahat dan konsumsi.

Ada 50 siswa jurusan Seni Teater  SMKN 12 Surabaya yang dilibatkan sebagai panitia. Mereka siswa kelas X dan XI yang mendapat mata pelajaran manajemen seni pertunjukan. Perayaan kali ini, pihaknya mendapatkan dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, UPT Taman Budaya Jawa Timur, SMKN 12 Surabaya, Dewan Kesenian Jakarta, Dewan Kesenian Jawa Timur, PDAM Surya Sembada Surabaya, Kedai Kopi 27 dan PDAM Sidoarjo. Selain itu, mendapat bantuan biaya dari para donatur dan orangtua siswa.

Puncak perayaan Hartedu 2018 ini adalah pertunjukan teater Musuh Masyarakat. Lakon ini merupakan kolaborasi seniman teater Jawa Timur yang berkisah tentang kericuhan air sendang yang membuat Dokter Waskito terusir dari rumahnya karena membuat pernyataan tentang hasil temuannya bahwa air sendang itu tercemar karena mengandung berjuta-juta bakteri infusoria yaitu binatang renik bersel satu yang berada dalam larutan hewan dan tumbuhan yang membusuk dan membahayakan kesehatan. Alih-alih mendapat dukungan, Dokter Waskito mendapat protes warga karena ada alibi bahwa Walikota hendak membangun pemandian eksklusif yang kelak hanya dinikmati oleh orang-orang kaya. Warga yang menentang temuannya lebih banyak dari yang mendukung sehingga ia kemudian menjadi musuh masyarakat.

Mereka yang terlibat dalam pertunjukan ini adalah Dody Yan Masfa sebagai Walikota, R. Giryadi (Dokter Waskito), Deny Tri Aryanti (Nyonya Waskito), Rusdi Zaki (Dukun Sendang), Agung Kasas (Dalang), M Nasir  dan M Rifai sebagai Cantrik, Isnu Billy (Penjual Air), Arif Kriying (Jahil), Dimas Putra (Bondet), Megah Ayu (Watang) dan para warga yang diperankan oleh Lucky Novi, Vely, Agus Sighro, Agus Rego, Angryawan Fauzi, Diby, Tedy, Tio, Diky, Nely Ika, Syfa, Kunia, Nabila, Vincent, Dian, Maya Novia, Safira, Mega, Tiara, Amala, Ilfa, Ayu Tya, dan Harwi.

Pertunjukan tersebut berlangsung lebih kurang 2 jam dan mengundang decak kagum penonton terlebih ketika kemunculan Harwi sebagai warga. Ketua jurusan teater itu tampil dengan improvisasi yang  mengundang gelak tawa penonton. Selain itu, kehadiran tokoh anak yang beraksi kocak membuat pertunjukan berlangsung meriah. Sayang sekali dagelan yang dikeluarkan saat adegan dalang dengan dua cantriknya berlangsung terlalu lama sehingga penonton bosan. Ketika memasuki adegan baru, interpretasi penonton berubah. Hal itu karena banyak improvisasi yang dilakukan oleh pemeran.

Kedepan Harwi berharap akan lebih banyak link-link yang masuk mengingat Dewan Kesenian Jakarta juga mendukung. Selain tampil di perayaan Hartedu ini, pihaknya juga akan tampil di Nganjuk dan Blitar tetapi belum tahu kapan pastinya mengingat menunggu anak-anak SMKN 12 Surabaya selesai UNAS. (nur).