Plesetan Lakon Calon Arang Jadi Calo Larang

SURABAYA: Kreativitas ini patut diacungi jempol. Lakon Calon Arang yang terkenal itu diubah dengan judul “Calo Larang” (Calo Mahal) dalam pementasan teater  Sang Gendang dari SMPN 2 Sukodono Sidoarjo. Meski judulnya  yang diubah, namun substansi  persoalannya masih tetap dengan setting masa kini.

Dalam versi aslinya, Calon Arang adalah sosok perempuan dalam cerita rakyat yang digambarkan sebagai penguasa ilmu hitam yang merusak panen petani dan menyebabkan datangnya penyakit. Ia memiliki anak yang cantik bernama Ratna Manggali tetapi tidak ada yang menikahinya karena para pemuda takut pada ibunya.

Pertunjukan yang ditampilkan di perayaan Hari Teater Dunia (Hartedu), Selasa (27/3) di Pendopo Jayengrana, Taman Budaya Jatim itu  disajikan dengan gaya  yang segar. Meski tetap menggunakan nama tokoh Calon Arang dan Ratna Manggali, akan tetapi konteks ceritanya berbeda.

Lakon Calo Larang berkisah tentang kumpulan anak-anak muda yang gemar menonton pertandingan sepak bola. Merekapun bermaksud membeli tiket  pertandingan klub sepak bola kesayangan mereka. Akan tetapi mereka kehabisan tiket sehingga terpaksa harus berhadapan dengan calo yang menjual tiket dengan harga yang mahal. Mereka akhirnya batal membeli tiket dan hanya menyaksikan pertandingan lewat televisi.

Kumpulan anak-anak muda itu tahu bahwa  juragan para calo  itu adalah anak buah ibu Ratna Manggali, teman mereka.  Mereka akhirnya tidak mau berkawan lagi dengan Ratna. Ratna pun kecewa dengan perlakuan ibunya yang serakah. Ia akhirnya mencuri buku tabungan dan uang ibunya. Ia meminta teman-temannya membantunya menyadarkan ibunya bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga bukan setumpuk uang. Ia meminta mereka menyamar sebagai agen tiket. Ibunya pun membeli lewat agen itu dan ternyata ketika hendak dijual kembali tiket itu tidak laku karena merupakan tiket palsu.

Akhirnya, Calon Arang alias Calo Larang itupun gulung tikar dan anak buahnya pun mulai meninggalkannya, barulah ia sadar bahawa harta yang paling berharga adalah keluarga.

Ide kreatif itu digarap oleh Mamak panggilan akrab Achmad Pujilaksana, pelatih teater Sang Gendang, SMPN 2 Sukodono. Untuk menggarapnya, ia melibatkan 22 siswa terdiri atas 15 pemain dan 7 pemusik yang berlatih selama 3 minggu berturut-turut. Mereka antusias menyambut perayaan Hari Teater Dunia yang diadakan oleh SMKN 12 Surabaya itu mengingat hal itu bisa menjadi ajang belajar mencari pengalaman dan pengetahuan dari seniman teater di Jawa Timur. Mereka tak mempermasalahkan harus biaya mandiri (tidak mendapat bantuan dana dari panitia), karena yang terpenting adalah mereka berproses dan pentas. Beruntunglah pihak sekolah memberikan bantuan dana.

Mengingat teater Sang Gendang bulan Maret ini mengikuti dua kegiatan yaitu Pekan Seni Pelajar Kabupaten Sidoarjo dan Perayaan Hari Teater Dunia, ia membagi anak-anak latihnya dalam dua kelompok. Sehingga ketika kelompok yang ikut Pekan Seni Pelajar tampil, mereka yang di kelompok Hartedu membantu persiapan, begitupun sebaliknya. Keguyuban ini sengaja dibentuknya agar anak-anak latihnya semakin mencintai teater dan mau bekerjasama satu sama lain.

Maka tak ayal jika sudah banyak prestasi yang ditorehkan oleh teater Sang Gendang ini. Terbentuk sejak tahun 2010, teater ini sudah pernah mengikuti Festival Teater Nasional dan berhasil meraih beberapa penghargaan yaitu 5 penyaji terbaik, sutradara terbaik, artistik terbaik, penata musik terbaik di Taman Ismail Marzuki, Jakarta 2016 lalu. Mengikuti Pekan Seni Pelajar Jawa Timur di Kediri tahun 2017 dan berhasil mendapat juara Harapan 1 dan penata musik terbaik. Tahun 2018 ini mereka mengikuti Pekan Seni Pelajar di Kabupaten Sidoarjo dan 2019 mendatang mereka ditunjuk mewakii Kabupaten Sidoarjo di ajang PSP yang digelar di Surabaya.

Mengikuti acara Hartedu, Mamak menyampaikan rasa kagumnya pada sosok Harwi dan anak-anak didiknya. Dia berharap semoga ada kesehatan bagi Harwi dan orang-orang yang lain yang bisa mengatur dan mempromotori ruang-ruang berteater mengingat teater bukanlah sebuah ruang yang populer. Ia tak menampik bahwa ruang teater masih kalah populer dengan ruang-ruang yang lain tapi teater memberikan ruang alternatif yang lebih dalam nilai-nilai yang tidak didapatkan di sekolah. (nur)