Seni Bantengan Versi Mahasiswa Teater STKW

SURABAYA: Serambi Teater, komunitas teater Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya menampilkan pertunjukan Bantengan dalam acara perayaan Hari Teater Dunia (Hartedu) di halaman Taman Budaya Jawa Timur, Selasa (27/3). Pertunjukan seni tradisi yang dijadikan ikon kesenian Kabupaten Mojokerto itu memberi warna tersendiri dari kebanyakan kelompok lainnya yang berupa pementasan di panggung.

Dari 15 pemain, 7 diantaranya adalah mahasiswa, sedangkan 8 pemain lainnya adalah anggota grup Bantengan Putro Sawunggaling, Dlanggu, Mojokerto.  Hal ini karena Rio, aktivis Teater Serambi, juga anggota grup Bantengan asal Dusun Glonggongan Desa Talok tersebut.

Gagasan menampilkan Bantengan ini dilatari oleh undangan Harwi Mardiyanto, Ketua Jurusan Teater SMKN 12 Surabaya untuk pentas mewakili Serambi Teater. Maka  Rio Teguh Prakoso berembuk dengan teman-temannya. Peralatan dan perlengkapan Bantengan berada di Mojokerto sempat menjadi kendala, tetapi mereka tidak berkeberatan tampil.

Rio dan teman-temannya harus latihan keras karena pemain musiknya bukan yang biasa, tetapi  anak-anak SMP yang baru belajar  musik iringan Bantengan sehingga harus mau berproses dari awal. Laki-laki kelahiran Mojokerto, 15 Maret 1994 itu mengaku keterlibatan siswa SMP itu  bertujuan untuk regenerasi pemain, disamping  bagi teman-teman komunitasnya untuk mencari pengalaman dan pengetahuan baru yang kelak bisa diamalkan.

Rio tak menampik bahwa banyak peluang menampilkan pertunjukan lain, namun ia tak kuasa menolak tawaran kali ini. Ia sendiri juga mencintai kesenian Bantengan dan tidak merasa keberatan menampilkannya. “Alasan kenapa saya harus repot-repot biaya sendiri dan segala pengorbanan itu, saya rasa itu efek dari kecintaan saya terhadap Bantengan. Alasan lainnya, ya saya ingin melestarikan, mengembangkan dan memperbaiki citra Bantengan dengan keilmuan yang saya dapat dari kampus,” ungkapnya.

Pertunjukan Bantengan kali ini agak berbeda dengan yang ditampilkan ketika mereka tanggapan. Dibatasi durasi hanya 20 menit, mereka hanya menampilkan aksi pencak kombinasi, sabung tangan kosong dan sabung api. Saat tanggapan, mereka menampilkan banyak pertunjukan seperti pencak tunggal, kombinasi, sabung tangan kosong, sabung clurit, sabung api, Debus, Bujang Ganong, Barongan, Macanan dan Bantengan.

Kelompok Bantengan Putro Sawunggaling itu sendiri  berdiri sejak tahun 2010 dibawah naungan Karang Taruna. Nama grupnya mengadopsi dari legenda Raden Sawunggaling yang gemar mengembara ke hutan belantara dan memiliki kemampuan menundukkan binatang dan penghuni hutan. Penggerak grup ini adalah anak-anak muda desa yang berorganisasi dengan sistem terbuka, ketika ada permasalahan diselesaikan dengan cara berembuk.

Sebetulnya anggota inti grup Bantengan ini hanya 15 orang, tetapi banyak anggota dari luar sekitar 50 orang. Mereka tidak pernah absen dari Festival Bantengan yang diadakan Kabupaten Mojokerto, kecuali ketika ditunjuk sebagai panitia untuk membantu Dinas Pariwisata pada tahun 2015 dan 2017. Sedangkan pada tahun 2014, grupnya berhasil meraih juara umum dan tahun 2016 berhasil meraih juara 2 di event serupa. Meski tanggapan yang diterima grupnya musiman, ia berharap kesenian bantengan terus berkembang dan menjadi pertunjukan yang enak ditonton di manapun.

Terkait dengan perayaan Hari Teater Dunia, mahasiswa jurusan teater STKW ini mengatakan, “saya berharap teater Indonesia kedepannya banyak memunculkan tokoh teater baru yang dari kalangan muda. Semoga teater Indonesia berani menciptakan atau menggunakan teori-teori pertunjukan yang pencetusnya adalah bangsa kita sendiri.”

Selama pertunjukan para penonton merubung aksi mereka. Banyak dari mereka yang juga sibuk mengabadikan momen atraksi mereka, terlebih ketika aksi sabung api. Meski sempat membuat penonton lari karena ada 2 penampil yang kesurupan. (nur).