Menyongsong Festival Dalang Bocah Jawa Timur

SURABAYA: Sekitar 25 peserta akan terlibat di Festival Dalang Bocah yang diselenggarakan oleh         UPT Laboratorium Pelatihan dan Pengembangan Kesenian (LPPKesenian)  Disbudpar Jawa Timur yang rencananya akan digelar 10-11 April  mendatang di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya.

Menyongsong acara tersebut digelar workshop di gedung Cak Durasim, Selasa (3/4) dengan narasumber FY Darmono Saputro dengan materi tentang Sejauh Mana Penggarapan Pakeliran Dalang Bocah dan Problematikanya, dan Bambang Murtiyoso membawakan materi Garap Lakon Kangge Festival Dalang Bocah.

Kepala UPT LPPKesenian, Efie Wijayanti, S.Sos, M.MPd,  mengatakan, Festival Dalang Bocah bukan kali pertama digelar namun sudah  menjadi agenda tahunan untuk revitalisasi kesenian, termasuk  seni pedalangan.  Pihaknya berharap ada pembinaan rutin di daerah dan seni pedalangan bisa masuk muatan lokal di sekolah. Karena itu  tahun 2019 mendatang LPPKesenian akan bekerjasama dengan pemerintah kabupaten untuk merevitalisasi wayang.  Sejalan dengan rencana itu, pihaknya juga bekerjasama dengan Kabupaten Pacitan untuk merevitalisasi wayang beber.

Darmono Saputro menjelaskan tentang siapa dan bagaimana kriteria dalang bocah. Menurutnya, dalang bocah adalah dalang yang masih pelajar atau anak-anak, berusia 8-15 tahun, berada di usia SD SMP baik laki-laki atau perempuan dan terampil.

Tohir, perwakilan dari Kediri kemudian bertanya tentang kriteria usia yang dimaksud. Ia mengatakan tentang salah satu calon peserta yang hendak dikirimnya berusia 15 tahun lebih beberapa bulan tetapi dia masih duduk di bangku SMP. Menjawab pertanyaannya, panitia menjelaskan, hal itu tak menjadi soal sebab masih bisa dikategorikan sebagai remaja.

Lebih lanjut, Darmono memaparkan hal-hal yang harus dikuasai dalang bocah dalam pertunjukan pakeliran wayang dalang anak-anak, meliputi teknik ungkap yang terdiri atas lakon, gerak wayang/sabet, catur, vokal tembang dan gending, dhodogan dan keprakan dan sanggit. Penguasaan itu amat diperlukan, mengingat acapkali ditemukan naskah lakon yang kurang kreatif, adanya kelemahan kemampuan peraga baik dalang dan pendukung yakni pendukung, pengrawit dan sinden. Hal itu juga bisa disebabkan oleh lemahnya sarana dan prasarana dalam proses latihan entah karena minimnya fasilitas pakeliran atau bisa juga karena penyusunan naskah lakon yang dilakukan oleh pelatihnya.

Meminimalisasi hal itu, Darmono menegaskan perlunya dilakukan penyusunan naskah pakeliran yang kreatif untuk anak-anak, begitupun ketika menggarap gending pakeliran.  Sedangkan untuk bobot sajian, perlunya menyederhanakan lakon agar sesuai dengan kemampuan/kejiwaan anak, menggarap struktur gending iringan yang lebih kreatif dan tidak monoton dan menguatkan dalang dengan kemampuan sabet, catur, suluk, tembang, dodhogan, keprakan, dan unsur lain pendukung penyajian.

Menyoal tema, para dalang bocah yang terlibat bisa menggunakan Epos Mahabarata/ Ramayana dengan bentuk cerita wayang yang lain misal cerita kancil,wayang golek/thengul, dan krucil yang kemudian penyajiannya disesuaikan dengan durasi tampil berkisar 45 menit- 60 menit. Audiens yang hadir di workshop itu adalah dari jajaran Dinas Parbudpora Kabupaten, guru, pembina dan pelatih dalang. (nur)