Gelar Wayang Thengul Sepuluh Dalang

BOJONEGORO: Sebanyak 10 (sepuluh) dalang Wayang Thengul (wayang boneka) akan menggelar pentas selama dua hari berturut-turut di objek wisata Kayangan Api, desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Sabtu-Minggu (14-15 April). Program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro ini didahului dengan menggelar workshop bagi para dalang wayang tengul, sinden dan niyaga di tempat yang sama satu hari sebelumnya (13/4).

Kepala Seksi Kebudayaan dan Kesenian Disbudpar Kab. Bojoneoro, Dheny Ike, menjelaskan di Bojonegoro, hajatan ini merupakan yang pertama kali dilakukan khusus untuk wayang thengul, dimana seluruh dalang dikumpulkan dalam sebuah pergelaran bersama. Program revitalisasi wayang thengul ini merupakan salah satu prioritas dalam tahun 2018 ini, yang nantinya akan disusul dengan revitalisasi seni Tayub pada bulan September mendatang.

Dalam workshop tersebut akan dihadirkan dua orang narasumber yaitu Suyanto Munyuk dari Bojonegoro sendiri dan FY. Darmono Saputro dari Surabaya. Sejak pagi hingga sore mereka akan berbicara di depan 10 dalang, 10 sinden dan 20 pengrawit, mengenai bagaimana membawakan pergelaran wayang thengul sesuai dengan ciri khas Bojonegoro.

Lewat sambungan telepon Suyanto menambahkan bahwa sebagai kesenian tradisi khas Bojonegoro sudah seharusnya wayang thengul juga membawakan gaya Jonegaran dalam hal musik dan juga pertunjukannya. Bahkan masih banyak ditemui dalang wayang thengul yang membawakan lakon tak ubahnya seperti wayang kulit. “Kita akan kembalikan ke khittah,” ujar pegiat kesenian Bojonegoro itu.

Ditambahkan oleh Dheny, acara workshop sudah dimulai sejak pagi pukul 08.00 hingga pukul 17.00. Sedangkan gelar wayang thengul hari Sabtu (14/4) dimulai sejak pukul 13.00 hingga pukul 21.00 WIB, kemudian Minggu (15/4) dimulai sejak pagi pukul 8.00 hingga pukul 17.00 sore hari. Pada hari kedua ini akan diundang para siswa SMP, SMA dan SMK setempat agar mereka dapat mengapresiasi seni tradisi yang menjadi ikon budaya Kabupaten Bojonegoro itu.

“Terus terang, program ini juga menjadi bagian dari tugas saya sebagai peserta Diklat,” ujar Dheny Ike, yang juga dikenal sebagai koreografer yang sering mendapatkan kejuaraan di berbagai festival itu. Kali ini Dheny memang baru saja mengakhiri pendidikan dan latihan sebagai pejabat baru di lingkungan Disbudpar Kabupaten Bojonegoro.

Kesepuluh dalang itu adalah Ki Mudo Suntoro, Ki Sudarno, Ki Santoso, Ki Parwito, Ki Ponidi Guno Carito, Ki Dasari, Ki Lasmijan, Ki Suwarno, Ki Sumardji (Marto Deglek) dan Ki Sutopo.

Ditanya soal frekuensi tanggapan,  Dheny mengatakan bahwa selama ini para dalang itu bahkan ada yang hanya menggelar wayang tengul satu kali selama setahun. Tetapi ada pula yang lumayan laris hingga mencapai belasan kali tanggapan setahun. Sepinya tanggapan ini justru tidak sebanding dengan jumlah dalang. Bahkan ada sebagian dari dalang wayang thengul itu yang kemudian juga melayani tanggapan wayang kulit sehingga kemudian mempengaruhi gaya  mendalang wayang tengul.

Dalam pergelaran kali ini masing-masing dalang mendapatkan durasi sebanyak 1 (satu) jam, diiringi oleh dua sinden, sehingga masing-masing sinden mendapat kesempatan dalam dua kali pergelaran. Panitia akan menyediakan 10 (sepuluh) judul cerita yang akan dibagi kepada 10 dalang dalam pertemuan teknis Senin ((9/4).

Objek wisata Kayangan Api itu sendiri merupakan salah satu andalan Pemkab Bojonegoro, dimana sering digunakan oleh Diparbud untuk penyelenggaraan acara-acara kesenian. Di tempat inilah terdapat sumber api abadi yang pernah digunakan untuk menyalakan api Pekan Olahraga Nasional (PON).

Narahubung: Dheny Ike, telp: 0812 3589 005. (*)