Dalang Margono Ciptakan Berbagai Produk Kreatif

SURABAYA: Margono (40 tahun) bukan sekadar dalang wayang kulit biasa, tetapi dia juga mampu membangun usaha kreatif produksi wayang kulit beserta produk ikutannya. Pada kesempatan Festival Dalang Bocah Jawa Timur di Taman Budaya Jatim kali ini (10-11/4), alumnus jurusan pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) tahun 2007 itu menggelar aneka produknya seperti wayang kulit, pin  dan gantungan kunci wayang, blangkon dan juga beberapa wayang golek (boneka) dengan aneka tampang yang lucu.

“Boneka-boneka ini biasanya dipesan para dalang sebagai adegan selingan untuk lucu-lucuan,” ujar bapak dua putera tersebut.

Pada mulanya memang hanya iseng, menyalurkan kemampuannya yang diperoleh semasa menjalani pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Surabaya. Ketika lulus dari ISI dan berprofesi menjadi dalang, Margono menangkap peluang industri kreatif yang mengasyikkan sesuai dengan bidangnya. Lantas lelaki kelahiran Wonogiri 5 Desember 1978 ini membuat wayang kulit sendiri yang akhirnya malah banyak dipesan oleh dalang-dalang yang lain, disamping dijual bebas sebagai elemen dekorasi.

Dengan harga berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta, dalam satu bulan dapat menghasilkan 150-200 buah wayang. Dan kini sudah 37 karyawan yang membantu usahanya, sudah dirangkul sebagai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan berpameran ke kota-kota di Jawa dan Bali serta pernah juga pameran di tiga kota di Amerika Serikat. Bahkan pesanan dari luar negeri masih terus berdatangan. Termasuk, pernah melayani pesanan dari Belgia untuk membuat wayang versi negara itu dengan bahan kulit. Meski demikian, Margono tetap mempertahankan produksi tangan (hand made) sehingga tidak dapat dibuat massal. Beruntung ada bantuan dari Kemendikbud berupa peralatan yang agak meringankannya.

Meski demikian, toh Margono yang merupakan keturunan ke 19 dari keluarga dalang ini juga memikirkan kalangan sejawatnya sesama seniman. Dia mendirikan dan mengetuai komunitas budaya bernama Pagelaran Wayang Kolosal Nusantara yang menghimpun seniman berbagai disiplin termasuk tari dan teater. Yang menarik, komunitas ini memiliki maskot berupa wayang kulit Semar setinggi 6 (enam) meter yang biasanya dikirab dalam suatu pawai, dimainkan dalam adegan wayang, dan kemudian dipajang sebagai elemen dekorasi. Hal itulah yang akan dilakukan dalam acara Festival Semar di Sobokarti Semarang (22/4) menyongsong Hari Jadi Semarang ke 471.  (hnr)