Bagaimana Kalau Wayang Dibuat “Games” di HP?

SURABAYA: Era kesejagatan dalam IT (Informasi Teknologi) merupakan tantangan tersendiri bagi pewayangan. Kalau dulu ada permainan anak-anak berupa umbul yang bergambarkan tokoh-tokoh wayang, sekarang sudah tidak zaman lagi. Anak-anak sekarang lebih akrab dengan gadget (gawai) dengan aneka macam game yang tersedia. Bagaimana kalau wayang dibuat menjadi games yang dapat diakses di gadget?

Tantangan ini dilontarkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur, Dr. H. Jarianto, M.Si, ketika membuka Festival Dalang Bocah di pendopo Jarengrana Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85 Selasa malam (10/4). Acara ini diselenggarakan oleh UPT Laboratorium, Pelatihan dan Pengembangan Kesenian (LPPKesenian) Disbudpar Jatim.

Pelaksanaan Festival Dalang Bocah sudah dimulai sejak Selasa pagi dan akan ditutup Rabu tengah malam (11/4), diikuti oleh 24 peserta dari Kota Surabaya, Kab. Mojokerto (3 peserta), Ngawi, Ponorogo, Kota Madiun, Kab. Madiun, Kota Kediri, Tulungagung (2 peserta), dan masing-masing satu peserta dari Pacitan, Trenggalek, Kota Malang, Jember, Kota Batu dan Gresik.

Seremonial pembukaan tersebut juga ditandai dengan sajian “Tari Cemeti Alit” yang pernah menjadi Juara III Pekan Seni Pelajar (PSP) tahun 2015 dan Tari Jekdong karya Agus Heri Sugianto, juara tingkat nasional Festival Karya Tari 2016.

Ditambahkan oleh Jarianto, untuk merealisasi tantangan tersebut di atas perlu ada kerjasama dengan pakar-pakar IT bagaimana caranya wayang itu juga terdapat dalam piranti-piranti IT yang canggih sehingga setiap orang mudah mengakses wayang. Tidak usah lama-lama, cukup beberapa menit berupa episode sehingga mudah dicerna oleh anak-anak kita.

“Ini adalah Pekerjaan Rumah (PR) kita yaitu selalu ada inovasi bagaimana caranya agar wayang dapat dinikmati oleh semua kalangan,” tegas Jarianto yang saat ini juga merangkap Pejabat Sementara Bupati Tulungagung ini.

Bahwasanya tantangan dunia hiburan dan televisi memang sedemikian kuat, diakui oleh Jarianto sendiri. Malah dirinya mengaku katut dengan cucunya, dimana kalau sore hari menemani cucu menonton acara televisi kesukaannya, sehingga lantaran ingin mengerti kesenangan cucu jadinya ikut tertarik juga.

“Coba kalau wayang dapat dibuat menarik seperti itu, mengapa tidak?” tegasnya lagi.

Tetapi yang perlu diperhatikan, pesannya, meski ada inovasi dalam hal IT, wayang harus tetap mengajarkan “kelakuan”, ada pembelajaran bagaimana budi pekerti yang sebenarnya.  Yang baik itu menang dan yang jelek itu kalah. Nilai-nilai budi pekerti inilah yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat secara berkesinambungan.

Sementara itu, meski semua itu memang tidak sulit dilakukan untuk wayang kulit, juga perlu dipikirkan bagaimana memodifikasi pertunjukan wayang orang agar menarik minat masyarakat umum. Perlu ada kajian yang mendalam bagaimana baiknya. Misalnya saja, apakah harus mengenakan kuluk semua? Di India wayang orang bisa dipentaskan tidak dengan busana yang ribet. Cukup dengan pita merah sebagai ikat kepala, kemudian ada tanda tertentu di dahinya, itu sudah menunjukkan tokoh yang dimaksud.

Meski demikian lelaki asal Trenggalek ini yakin bahwa seni pedalangan tidak ada hilang karena peradaban atau modernitas yang terjadi di masyarakat. Regenerasi dalang-dalang muda tumbuh terus. Jarianto mencontohkan, ada anak kelas 1 (satu) Madrasah Ibtida’iyah (MI, setingkat SD) sudah bisa mendalang. Ini luar biasa. Jangan dilihat kualitasnya tetapi kemauan untuk melakukan hal itu saja sudah luar biasa.

“Bahkan bisa jadi pewayangan dapat menjadi referensi bagi perkembanan peradaban selama ini, pungkasnya. (hnr)