Seno Adji Sudah Mendalang Sejak TK

Berbalut beskap ungu, langkahnya mantap menuju Pendopo Jayengrono Taman Budaya Jatim dalam Festival Dalang Bocah (10/4). Ketika namanya dipanggil, raut wajahnya berseri. Perlahan ia naik ke atas panggung, duduk dan mulai memainkan aksinya dengan lakon Laire Bratasena. Para penonton berdecak kagum melihat tangan mungilnya lincah memainkan tokoh demi tokoh.

Seno Adji namanya. Bisa jadi dialah peserta terkecil dalam festival yang diselenggarakan oleh UPT Laboratorium, Pelatihan dan Pengembangan Kesenian Disbudpar Jatim ini. Saat ini Seno baru berumur 8 tahun dan sekolah kelas 1 di SDN Tanjungrejo 3. Meski terbilang belia, ia tampak cakap memainkan wayang. Peserta dengan nomor urut 9 ini bukan kali pertama tampil mendalang. Sebelumnya, bocah laki-laki asal Kelurahan Tanjungrejo, Sukun Kota Malang itu pernah tampil di acara perpisahan TK (2 kali), greenschool dan peringatan 17 Agustus dengan durasi 1-1,5 jam.

Kecintaan terhadap wayang sudah dimilikinya sejak kecil. Putra kedua pasangan Sukamto Hadi Kusumo dan Sri Murtini ini mulai memainkan wayang-wayang milik ayahnya ketika berusia 3 tahun. Pasalnya, sebelum  menjadi guru ekstrakurikuler seni karawitan di SMPN 19 Malang, ayahnya pernah menjadi dalang mulai tahun 1991-2001. Sehingga ada alat-alat wayang di rumah mereka. Alat-alat itulah yang kemudian dimainkan Seno.

Darah seni tak hanya berasal dari ayahnya. Ibunya juga seorang sinden yang sudah berkarier 20 tahun lamanya. Maka tak heran, jika kecintaan akan seni menurun ke Seno. Diakui, Ibu dan Kakaknya, Ike (26 tahun), saat anak seusia Seno sibuk bermain aneka mainan modern, Seno tetap asyik bermain wayang. Ia lalu belajar sabet dan mulai berdialog dengan bantuan naskah.

Ike yang seorang guru, memang sudah  mengajari adiknya membaca sejak kecil. Tak ayal jika kemampuan baca Seno bagus. Selain itu, saat di rumah mereka  terbiasa  berbicara dengan bahasa Jawa Krama alus. Sehingga memahami teks wayang dan memperagakannya bukan hal yang sulit bagi Seno. Meski tetap semua itu dimulai dengan berproses. Sembari tertawa, ia mengenang tingkah Seno saat melihat televisi yang kerap membuat dialog sendiri.

Sukamto menambahkan, Seno memang memang mudah ketika diajari dialog wayang. Usai memberi contoh, ia  langsung bisa menirukan meski terkadang perubahan mood itu ada. Bagi Kamto, itu hal wajar mengingat Seno masih anak-anak. Ia juga tidak mau terlalu memaksa anaknya. Sebab ia ingin melihat Seno mencintai wayang karena keinginannya sendiri.

Menyoal lakon yang ditampilkan, Sukamto mengaku menggarap naskah yang berkisah tentang anak Prabu Dewanata yang lahir terbungkus. Selama dalam kondisi terbungkus, tidak ada satupun senjata yang bisa membedahnya. Ibunya, Dewi Kunti sedih melihat keadaan anaknya. Hingga akhirnya Pandu Dewanata bertapa dan Batara Guru menjawab tapanya. Dikirimnya Batara Narada dan Gajah Sena  ke Astina. Di sana, Gajah Sena membuka bungkusnya dengan gadingnya. Akhirnya terbebaslah bayi itu. Ia menangis keras. Prabu Dewanata dan Dewi Kunti bahagia melihatnya. Mereka melihat kuku anaknya yang panjang. Dewi Kunti hendak memotongnya, tetapi dilarang oleh Pandu Dewanata. Usai melihat bayi itu terbebas dari bungkus, Batara Narada dan Gajah Sena undur diri. Mereka kembali ke kahyangan dan membuang bungkus itu dari udara, ke negeri Banakeling. Sesuai dengan permintaan Batara Guru, anak itu kemudian dinamakan Bratasena.

Usai penggarapan naskah, Seno kemudian berlatih selama 2 minggu sebelum tampil bersama teman-temannya dari Sanggar Tirto Laras. Tak heran, bila banyak pengrawit dan sindennya masih SD. Meskipun ada yang senior. Mengingat ada 2 sinden yang berhalangan hadir karena UNAS, sang Ibu menggantikan mereka.

Ketika ditanya,  apakah Sukamto ingin (kelak) melihat anaknya menjadi dalang ia,  berucap, “kalau saya sih pengen dia jadi Presiden,” ungkapnya disusul tertawa. Tetapi ia tidak mempersoalkan jika kelak Seno menjadi dalang, asal itu murni dari kehendak Seno sendiri. Ia dan sang istri mengaku bangga dan bahagia melihat Seno bisa tampil di ajang Festival Dalang Bocah. Ia bahkan mempersiapkan sendiri wayang akan dimainkan Seno, mulai menata dan membungkusnya kembali dengan kain putih.

Seno sendiri  merasa senang bisa tampil di ajang Festival Dalang Bocah. Meski bulir-bulir keringat membanjir di wajahnya, ia mengaku tak kelelahan. Padahal ia baru saja bermain dengan durasi waktu 49 menit.

Ketika ditanya, apakah (kelak) ingin menjadi dalang, Seno dengan polos dan tegas menjawab, “iya…mau jadi dalang,” tuturnya. (nur)