Wayang Thengul Kembali ke Khittah

BOJONEGORO: Pelestarian dan pengembangan wayang thengul yang merupakan kesenian asli Bojonegoro diharapkan tidak meninggalkan ciri khasnya agar kesenian ini betul-betul menjadi ikon daerah, asset lokal atau local genius. Wayang thengul harus kembali ke khittah.

Hal inilah yang menjadi landasan program Revitalisasi Wayang Thengul yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro selama 3 (tiga) hari berupa workshop sehari di kantor Disbudpar Bojonegoro (13/4) dan pergelaran 10 (sepuluh) dalang wayang thengul di objek wisata Kayangan Api desa Ngasem selama dua hari (14-15/4).

Drs. FY Darmono Saputro, MSi, staf pengajar karawitan di Sekolah Tinggi Keenan Wilwatikta (STKW) Surabaya yang salah satu pemateri workshop mengatakan bahwa kebanyakan  dalang wayang thengul cenderung membawakan gending-gending gaya Jawa Tengah sehingga tak ada bedanya dengan pergelaran wayang kulit. Hal yang senada dikemukakan oleh pemateri lainnya, Suyanto SPd, budayawan setempat, bahwasanya wayang thengul memiliki ciri tersendiri, baik bentuk wayang, struktur sajian, babon cerita serta iringannya.

Peserta workshop terdiri dari 10 dalang, 10 sinden dan 20 pengrawit, yang kesemuanya secara bergantian menggelar pertunjukan selama dua hari berturut-turut. Pada hari pertama, Sabtu, dimulai sejak pukul 13.00 hingga berakhir tengah malam menampilkan 5 (lima) dalang. Mereka adalah, secara berurutan, Ki Sumardji “Deglek”, Ki Parwito, Ki Ponidi, Ki Suntoro, dan Ki Sutopo. Sedangkan pergelaran hari Minggu berlangsung sejak pagi hari pukul 08.30 hingga pukul 16.30 sore hari menampilkan dalang Ki Wantiyo, Ki Trio Wahyu Aji, Ki Suwarno, Ki Santoso dan dipungkasi dengan pergelaran dalang Ki Lasmijan.

Dalam satu hari pergelaran diiringi oleh 5 (lima) sinden yaitu Ny. Suprapti, Ny. Saenah, Ny. Suwarmin, Ny. Tegowati dan Ny. Sulastri. Sedangkan pada hari kedua sebanyak lima sinden juga yang terdiri dari Ny. Yayuk Hariyati, Ny. Sumarmi, Ny. Suhartini, Ny. Sugiyem dan  Ny. Suwiji. Sementara setiap dalang masing-masing membawa pengendangnya sendiri-sendiri.

Pembukaan secara formal acara ini dilakukan pada hari Minggu pagi oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro, Amir Syahid, SSos, MSi, yang mewakili Pj. Bupati Bojonegoro. Dalam kesempatan ini juga dimeriahkan oleh sajian Tari Thengul yang dibawakan oleh para penari asuhan Nika Kusuma.

Dari kesepuluh dalang tersebut, 3 (tiga) diantaranya membawakan cerita terkait legenda lokal Bojonegoro yaitu Anglingdarmo yang masih tergolong Cerita Panji Minor, yaitu Ki Suntoro (Aji Gineng), Ki Sutopo (Madrim Sayembara) dan Ki Suwarno (Angling Darma Meguru). Tiga dalang yang lain menghadirkan lakon yang bersumber dari Babad Tanah Jawi yaitu Ki Wantiyo (Sabdo Palon Gugat), Ki Sumardji (Sungging Mubengkara) dan Ki Trio Wahyu Aji (Dipati Bandar Subali Bedah Negara Majapahit). Sedangkan lakon yang bersumber dari cerita rakyat juga dibawakan oleh tiga dalang yaitu Ki Lasmijan (Mustika Tuban), Ki Parwito (Jaka Ampiran Lelana) dan Ki Santoso yang membawakan lakon Minak Lana Padangan. Dengan demikian hanya satu dalang yang menghadirkan Cerita Menak yaitu Ki Ponidi dengan lakon Raden Said Brandal Lokajaya.

Beragamnya sumber cerita yang dibawakan wayang thengul, menurut Suyanto, merupakan kelebihan wayang thengul dibanding wayang golek lainnya seperti wayang golek Sunda yang babon ceritanya adalah Mahabarata dan Ramayana. Juga wayang golek Yogyakarta yang sumber lakonnya berasal dari Cerita Menak. (hnr)