Meneguhkan Kembali Kediri Bumi Panji  

SURABAYA: Selama ini Kabupaten Kediri sudah mengklaim sebagai Bumi Panji. Hal itu terus menerus direalisasi dalam berbagai program, antara lain dalam sajian Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) di Taman Budaya Jatim selama dua hari penuh (20-21/4).  Beragam pergelaran yang disajikan semuanya bertema Panji, yaitu  lagu “Panji Balik Kampung”, tari “Dara Kedungwulusan”,  dramatari “Legenda Panji Asmarantaka Badar” hingga pagelaran ketoprak tobong lakon “Kameswara Winisuda”.

Apalagi, Cerita Panji yang  sudah ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World (MoW) tahun lalu, disusul penyelengaraan Festival Nasional Panji di  Kabupaten Kediri 2017 dan segera disusul festival yang sama tingkat Asia bulan Juli tahun ini. Bahkan sebanyak 16 (enam belas) buku Cerita Panji kuna sudah dikembalikan pihak Perpustakaan Nasional ke pemerintah Kabupaten Kediri sehingga semakin meneguhkan Kabupaten Kediri sebagai Bumi Panji.

Dalam acara GSBD ini, garapan tarinya pun dilatari oleh ceritera-ceritera lokal Kediri. Tari Langen Putri Gandasari misalnya, diperagakan oleh 7 penari putri berbalut mahkota dan berselendang biru muda. Tari ini berkisah tentang ungkapan syukur masyarakat sekitar Kelud yang memiliki tanah subur dan hasil bumi melimpah. Sebagai rasa syukur digelarlah upacara sesaji Kelud. Terinspirasi dari perselisihan Jathasutra dan Putri Gandasari (nama lain Dewi Kilisuci). Beberapa gerakan dan pola lantai yang menggambarkan orang-orang tengah berdoa.

Selain itu, tari Kebur Ubalan juga sarat makna. Diperagakan oleh 4 penari putri dan 4 penari putra tari ini berkisah mengenai perjalanan cinta Jaka Gendam dengan Endang Werdiningsih yang harus menikah dengan Adipati Panjer namun akhirnya menyatu abadi. Ternyata keduanya adalah penjelmaan Joko Sedono dan Bathari Sri Dewaning Sandang Pangan.

Penonton lantas menyoraki ketika mereka menari berpasang-pasangan. Suasana romansa dan ceria tergambar dari wajah penari. Tari ini sewaktu GSBD Kediri November 2017 lalu ditampilkan dalam wujud sendratari, yang kemudian oleh Sugeng dan timnya dikreasi menjadi tari pergaulan.

Tak ketinggalan, tari Dara Kedungwulusan yang berkisah tentang penyamaran Dewi Sekartaji menjadi Klenthing Kuning. Tari ini diperagakan oleh 7 penari putri yang berbalut baju tari warna kuning.  Dewi Sekartaji berupaya membaur bersama masyarakat dengan Klenting Abang, Klenting Biru, Klenting Ijo, dan Klenting Ungu. Dara Karangwulusan merupakan proses kenangan sejarah kehidupan bagi Dewi Sekartaji sehingga tetap terjalin ikatan rasa cinta dan kasih sayang.

Lagu daerah, tari dan drama tari diproduksi dan ditampilkan perdana di acara GSBD Kediri 2018 ini, menurut Sugeng, pengasuh Sanggar Ande-Ande Lumut bahwa tahun ini adalah kali kelima Kediri tampil di acara ini. Lima kali pula sanggar asuhannya berusaha menampilkan kreasi-kreasi yang  tak lepas dari ceritera dan tradisi khas Kediri.

Lagu “Panji Balik Kampung” yang perdana dinyanyikan di GSBD ini adalah garapan Sugeng. Pria yang bekerja di Dinas Parbud ini menciptakannya selama 3 hari. Tentu bukan hal yang susah mengingat dia adalah seniman karawitan. Lagu Panji Balik Kampung selain berkisah tentang panji juga berkisah tentang potensi wisata Kediri.

Dalam kata sambutannya, Bupati Kediri Haryati, menyampaikan apresiasinya terhadap pemerintah Provinsi Jawa Timur atas terselenggaranya kegiatan ini. Kedepan, pihaknya berupaya mengenalkan dan melestarikan kebudayaan Kediri agar tak hanya dikenal di lingkup lokal tapi juga di lingkup global. Tak lupa ia mengungkapkan rasa syukurnya, karena Kediri berkesempatan tampil pada bulan April pas musim kemarau. Selama dua GSBD sebelumnya, Kediri selalu dapat jatah tampil di musim hujan.

Uniknya, GSBD Kediri kali ini bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kartini yang jatuh 21 April. Pegawai Taman Budaya mengenakan baju adat Jawa. Perempuannya mengenakan kebaya sedang laki-lakinya mengenakan beskap. Mereka satu per satu naik ke atas panggung berlenggak-lenggok bak model profesional. Gelak tawa penonton membanjir di pendopo Jayengrana. Bahkan sebelum memberikan pidato penutupan, kepala Taman Budaaya, Sukatno menyayikan lagu “Ibu Kita Kartini”, yang kemudian diikuti oleh pegawai Taman Budaya dan seluruh hadirin (Nur).