Workshop Tari Garapan Baru di Taman Budaya Jatim

SURABAYA: Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya Jawa Timur menyelenggarakan pelatihan (workshop) Tari Garapan Baru yang diikuti oleh 75 peserta dari 37 kab/ kota se-Jawa Timur pagi hari ini hingga besok sore (8-9/5). Masing-masing sanggar di kab/kota mengirimkan 2 (dua) peserta yang kemudian dilatih oleh narasumber Drs. Sabar Harianto, MPd, Ayu Titis Rukmanasari, MSn, dan Bimo Wijayanto, SSn.

Kepala UPT TBJT, Sukatno, SSn, MM, ketika membuka acara ini mengatakan, kegiatan workshop ini merupakan kelanjutan dari program pendokumentasian musik iringan karya tari Jawa Timur tahun 2017 yang telah mendapatkan penghargaan tingkat provinsi seperti Pekan Seni Pelajar (PSP), Festival Karya Tari (FKT) atau festival tingkat nasional.  Sebanyak 24 musik iringan tari telah direkam dalam 2 (dua) keping Compact Disc (CD) masing-masing berisi 12 karya musik iringan tari yang dilakukan di Jayabaya Record di Malang.

“Memang hanya musiknya saja, sehingga kalau ada yang tertarik dapat menghubungi koreografernya langsung,” jelas Sukatno.

Menurut Sukatno, dengan adanya workshop ini dimaksudkan agar para pelatih mendapatkan panduan yang jelas sehingga tidak mengarang koreografi sendiri. Ditambahkannya, memang ada kesulitan tersendiri ketika mengubah tarian utuh yang berupa komposisi untuk festival menjadi tarian tunggal untuk pembelajaran. Meskipun dalam musik tidak terlalu berbeda tetapi pasti ada penggarapan baru agar mudah dipelajari. Bahkan ada penata tari yang keberatan atau meragukan bahwa hal itu dapat dilakukan.

Terhadap tantangan ini Sukatno menyatakan, “terserah saja, yang jelas kalau mau direkam untuk tarian tunggal maka akan mudah disebarluaskan. Kalau tidak, ya hanya berhenti saat festival itu saja atau dipentaskan sendiri oleh koreografernya.”

Dicontohkannya, “Tari Boran” misalnya, sejak awal memang sudah merupakan tari komposisi, dimana masing-masing penarinya cenderung melakukan gerakan yang berbeda. Hal ini akan menyulitkan ketika diajarkan menjadi tarian tunggal. Sementara “Gelang Ro’om” yang semula merupakan tari komposisi, belakangan sudah bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk tarian tunggal.

Dua buah CD hasil dokumentasi TBJT tahun 2017 yang kemudian dibagikan untuk peserta itu berisi musik iringan tari garapan baru untuk anak dan dewasa. Nama-nama kaya tari anak adalah Tari Ronjengan, Tari Kampret (Sabar), Tari Jaran Sungklir (Dwi Wahyuningsih), Tari Jekdong (Agus Heri Sugianto), Tari Serak Serok (Sugen Hariyatin), Tari Tekongan, Tari Cemeti Laut (Yuni Sulistyowati), Tari Kiso (Putri Jania), Tari Rancak Umbul Kidung (Pujianti Catur Siwi), Tari Barung (Ajeng Ratri Pratiwi), Tari Gugur Gunung (Reka Ayu Pramidhita) dan Tari Iren (Pitri Karlina).

Sedangkan musik iringan karya tari dewasa adalah: Tari Api Kahyangan (Dheny Ike Kirmayanti), Tari Mahameru (Dimas Pramuka Atmadji, Lindah Apriliyanti), Tari Ning Saropah (Budi Alfan, Ayu Titis Rukmanasari), Tari Gayatri/ Raja Padmi, Tari Kembang Reog Gung (Bimo Wijayanto), Tari bedaya Majakirana (Dimas Pramuka Atmadji, Epsi Poerwadi), Tari Gandrung Marsam, Tari Ja’ripah (Subari Sufyan), Tari Ning Pasaruang, Tari Gandawati (Intrasminah), Tari Sendon Asmoro (Afif Kurniawan) dan Tari Keling (Dedy Satya Amijaya). (hnr)