Trio Bayu Aji, Generasi Baru Dalang Wayang Thengul

BOJONEGORO: Baru berusia 18 (delapan belas) tahun, Trio Bayu Aji adalah generasi baru dalang wayang thengul. Siswa SMKN 12 Surabaya Jurusan Pedalangan yang segera lulus inilah satu-satunya dalang wayang thengul yang masih belia dari 11 (sebelas) dalang dewasa lainnya. Anak kandung dalang Ki Darno Asmoro ini bakal semakin piawai  mendalang lantaran segera melanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, juga jurusan pedalangan.

Remaja kelahiran 3 Maret 2000 ini sudah mantap bercita-cita menjadi dalang wayang thengul, meski kakak lelaki satu-satunya saat ini menjadi anggota kepolisian. Memang sejak Taman Kanak-Kanak (TK) Trio sering nonton wayang thengul. Ketika usia Sekolah Dasar (SD) Trio yang memang suka keramaian dan bercanda ini sering diajak ayahnya ketika mendalang. Bahkan ketika dirinya menginjak kelas 5 SD ayahnya sudah mengajarinya bagaimana mendalang thengul dan langsung praktek dalam sesi perang gagal di sela-sela ayahnya mendalang.

Sejak kecil memang hanya wayang thengul yang disaksikannya, tidak mengenal tentang wayang kulit, sehingga membuat Trio tertarik mendalaminya. Ketika kemudian masuk di SMKN 12 Surabaya, Trio tetap menekuni wayang thengul, meski juga harus memelajari wayang kulit sebagaimana pelajaran yang diterimanya. Dan hanya Trio, satu-satunya siswa yang menguasai wayang thengul diantara 7 siswa seangkatannya.

Pengalaman mendalang lainnya ketika berlangsung parade 10 (sepuluh) dalang wayang thengul di Kahyangan Api (15/4) dalam durasi 1 (satu) jam dengan lakon utuh. Sebelum itu juga pernah mendalang wayang kulit bersama dua dalang remaja lainnya. Kemampuannya mendalang wayang kulit ini dipelajarinya di sekolah dan pernah juga praktek mendalang untuk kepentingan pelajaran. Alhasil Trio sekarang sudah mampu mendalang wayang thengul dan wayang kulit. Meski diakuinya memegang anak wayangnya lebih sulit wayang thengul. Tetapi soal antawacana menurutnya lebih sulit wayang kulit.

“Saya ingin wayang thengul di Bojonegoro tidak punah dan lebih dikenal lagi oleh masyarakat,” tegasnya.

Meski demikian, bagi remaja yang tinggal di Dukuh Kedungrejo, Desa Gedangan, Kecamatan Kedung Adem, Bojonegoro ini tetap lebih menyukai wayang thengul. Bagi Trio wayang thengul itu unik, baik bentuknya maupun cara memainkannya. Berbeda dengan wayang kulit yang banyak ditemui dimana-mana. Sebagai putera Bojonegoro Trio merasa terpanggil menjalankan regenerasi dalang wayang thengul yang nyaris tidak pernah bertambah, malah semakin berkurang karena usia tua.

Tetapi kedepannya nanti Trio ingin menguasai dua-duanya, wayang thengul dan wayang kulit yang tidak mungkin dihindarinya ketika kuliah nanti. Bahkan ayahnya sudah menyiapkan seperangkat wayang kulit di rumahnya meski Ki Darno hanya spesialis wayang thengul, tidak menguasai wayang kulit.

Ketika tampil di Sugihwaras (12/5) Trio membawakan lakon “Bandar Subali mBalelo” selama 1 (satu) jam yang kemudian diteruskan ayahnya dengan lakon lain hingga dini hari. Pesan utama dalam lakon ini bahwa keserakahan itu pasti akan kalah, sebagaimana yang terjadi pada tokoh Subali. Selain itu Trio juga pernah membawakan lakon “Ali-ali Socoludiro”, yang dipelajarinya dari ayahnya sendiri. Meski beum pernah tanggapan secara utuh semalam suntuk namun Trio seringkali ikut mendalang bersama ayahnya untuk mengisi bagian awal sebelum dilanjutkan ayahnya. Biasanya dalam sebulan bisa 6-7 kali.

Tidak mengganggu sekolah? “Kan biasanya hari Sabtu malam, atau kalau pas sekolah ya izin,” jawabnya.

Namun demikian Trio jujur mengakui bahwa dirinya kurang menguasai karawitan meski juga diajarkan di sekolah. Yang kemudian dilakukannya adalah belajar langsung pada pengrawit supaya penampilannya yang lebih bagus ketika mendalang. Karena dalang yang bagus itu, ujarnya, memang harus paham iringan.

Menurut Trio, persoalan yang terjadi selama ini, tidak pernah ada regenerasi dalang wayang thengul. Dan Trio sebagai satu-satunya dalang muda menginginkan ada semacam pendidikan dalang dalam bentuk sanggar untuk anak muda agar tertarik dengan wayang thengul. Ketiadaan sanggar wayang thengul juga menjadi penyebab anak-anak muda tidak tertarik.  (hnr)