Ziarah ke Makam Cak Durasim

SURABAYA:  Tokoh legendaris ludruk Cak Durasim, tidak terpisahkan dengan Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Nama Cak Durasim digunakan sebagai nama Gedung Kesenian di kompleks TBJT. Karena itu setiap tanggal 20 Mei pimpinan dan staf TBJT menyempatkan diri melakukan ziarah ke makam Cak Durasim yang berada di kompleks pemakaman Tembok Surabaya, sebagaimana yang dilakukan pagi tadi (21/5) karena 20 Mei bertepatan dengan hari Minggu.

Tanggal 20 Mei dipilih karena pada tanggal tersebut tahun 1978 Taman Budaya Jawa Timur (waktu itu bernama Taman Budaya Surabaya) berdiri, sebagai institusi yang langsung berada di bawah koordinasi Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun ini tepat berusia 40 (empat puluh) tahun.

Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Sukatno, SSn, MM, beserta sejumlah staf memanjatkan doa dan menaburkan bunga di makam yang dihiasi oleh patung dada Cak Durasim itu.  Entah siapa yang melakukannya, patung itu kini diberi warna-warni cat. Di bawahnya, tertulis: “Tanda Keperwiraanmu, Pejuang dan Pelopor Seni Rakyat. Bekupon Omahe Doro, Melok Nippon Tambah Soro. Gondo Durasim. Wafat pada tanggal 7 Agustus 1944. Dibangun/diresmikan 27 Desember 1956. Panitya.”

Dalam sejarahnya memang Cak Durasim menjadi korban penjajah Jepang karena perlawanannya yang dilakukan dengan menggunakan media ludruk. Kidungannya yang terkenal “Bekupon Omahe Doro..” itulah yang menjadi pemicu sehingga tentara Jepang kemudian membunuhnya.

Sementara itu di kompleks pemakaman yang sama terdapat sejumlah seniman ternama dimakamkan, diantaranya budayawan Krishna Mustajab, penyanyi Vicky Fendi, musisi Slamet Abdul Sjukur, penyanyi Gombloh, dan menurut catatan Isfanhari, pengamat musik Jatim, di sini juga terdapat makam Dimas Hamzah (juara Bintang Radio Televisi Nasional, dan ketua Papikop/Persatuan Artis Kota Pahlawan), Sulbani (pemain flute terkenal tahun 60-an), Djuki (Dirigen pribumi pertama jaman Radio Nirom), dan M Chanan (pemain saxophone terbaik dijamannya 1935-an). Disamping itu juga terdapat makam wartawan dan pemerhati budaya Jawa, yang biasa dipanggil Pak Petruk.

Bahkan di makam tembok juga dimakamkan KH Ridlwan Abdulloh, pencipta lambang Nahdatul Ulama.(h)