Dalang Harus Kreatif  tapi Tetap Ajarkan Kebaikan

SURABAYA:  Dalam hidup itu yang penting ada perubahan, dan perubahan itu inovasi dan kreativitas. Dimanapun dan dalam bidang apapun, kalau kita tidak memiliki  pikiran-pikiran tentang perubahan maka kita akan ketinggalan. Ini adalah modal dalam kinerja kehidupan. Kita harus kreatif, inovatif dan tanggap terhadap situasi sosial. Bagaimana kondisi sosial saat ini dan bagaimana kita melakukan hal yang cocok dengan kondisi tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Jarianto, MSi, ketika membuka acara Sarasehan Seniman Pedalangan di Taman Budaya Jawa Timur Kamis sore (31/5) menambahkan, bahwa kita tidak dapat bertahan hanya dengan ilmu kita sendiri tanpa memperhatikan lingkungan. Meskipun di sisi lain para dalang juga memerhatikan waton dan ugeme pedalangan yang harus tetap dipegang. Kalau dulu wayang itu dikatakan baik karena memang ada sesuatu yang ingin dimiliki oleh masyarakat. Karena yang diberikan dalang itu adalah sesuatu berupa ajaran tentang kehidupan.

Hanya saja yang perlu disadari bahwa kehidupan masyarakat zaman dulu itu masih bodo, ilmu pengetahuan tidak terlalu tinggi, sehingga tuntunan kehidupan itu sangat diperlukan. Tetapi perkembangan sekarang sangat luar biasa, ilmu pengetatuan dan teknologi pengaruhnya juga luar biasa. Seiring dengan hal itu kalau kontennya masih mengena, masalahnya masih kena, problemnya masih bagus, maka para dalang masih akan tetap eksis di pedalangannya.

Meski demikian Jarianto yang saat ini juga merangkap Plt Bupati Tulungagung itu menambahkan bahwa kondisi pedalangan di Jawa Timur masih bagus. Regenerasi dalang terus berlangsung. Misalnya saja, ada anak masih kelas 1 (satu) Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) di Tulungagung  mendalangnya luar biasa. Pergelaran wayang kulit ada dimana-mana, bahkan banyak dalang dari Jawa Tengah yang menggantungkan hidupnya dengan pergelaran di Jawa Timur. Hal semacam ini tidak terjadi serta merta. Pembinaan dalang di Jatim sudah dilakukan selama 20 tahun.

Terkait dengan biaya menggelar wayang, Jarianto menyarankan agar masyarakat tidak segan-segan bekerjasama atau patungan mengundang dalang. Kalau ada hajatan sunatan misalnya, mengapa beberapa orang tidak bekerjasama mengundang satu dalang sehingga biayanya menjadi murah karena ditanggung bersama.

“Kalau kurban satu sapi untuk 7 orang bisa mengapa untuk nanggap seharusnya cara yang sama dapat dilakukan untuk menggelar wayang,” ujar Jarianto.

Acara sarasehan ini sudah dimulai siang tadi dengan pembicara Prof. Dr. Henri Subiyakto, staf ahli Menkominfo, kemudian dibuka oleh Kadisbudpar Jarianto, MSi, dan setelah jeda buka puasa serta sholat tarawih, malam ini dilanjutkan dengan materi dari Prof. Dr. Djoko Saryono dari Universitas Negeri Malang dan dalang Ki Purboasmoro.  (h)