Prof Djoko Saryono: Tanpa Wayang, Tidak Ada Kejawaan

SURABAYA: Wayang sebagai lakon sekaligus seni pertunjukan dapat hidup sampai sekarang berkat kefundamentalan dan kestrategisannya dalam kehidupan masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa. Tanpa wayang, tidak ada kejawaan; kejawaan tiada berarti tanpa wayang.

Sebagaimana dikatakan oleh orang Inggris bahwa tidak ada Inggris tanpa Shakespeare, dalam hal ini juga dapat dikatakan bahwa tidak ada masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa tanpa wayang [wong lan kabudayan Jowo tanpa wayang mesthi gothang].

Prof. Djoko Saryono mengemukakan hal itu ketika hadir sebagai salah satu narasumber Sarasehan Seniman Pedalangan yang diselenggarakan dan berlangsung di Taman Budaya Jawa Timur Kamis malam (31/5). Mengawali acara ini sudah tampil sebagai narasumber adalah Prof. Henri Subiyakto dari Unair. Disamping itu, setelah Prof. Djoko Saryono, dijadwalkan dalang Ki Purboasmoro sebagai narasumber sekaligus memeragakan fragmen pergelaran wayang.

Dalam makalahnya yang berjudul “Revitalisasi Wayang dan Pengelolaan Kemajemukan Lokal”  Djoko Saryono menyampaikan bahwa secara historis, sosiokultural, religiokultural, geokultural, dan antropo-psikologis, keberadaan, kedudukan, peranan, dan fungsi wayang sangat fundamental dan strategis dalam kehidupan masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia dan lain-lain.

Dikatakan fundamental karena keberadaan, kedudukan, peranan, dan fungsi wayang telah menjadi prasyarat yang harus ada dalam kehidupan masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Jawa.

Wayang menjadi presensi atau representasi keindonesiaan termasuk kejawaan [dapat juga kebalian dan lain-lain], bukan sekadar menjadi identitas keindonesiaan atau kejawaan; wayang [setidak-tidaknya] menjadi ”tulang sumsum”, bahkan ”jiwa-raga” masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa; dan wayang menjadi pusat, sumbu atau hulu kehidupan masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa.

Makna Wayang dikatakan strategis karena keberadaan, kedudukan, peranan, dan fungsi wayang sangat penting-utama [sentral] sebagai kendaraan atau wahana mencapai tujuan luhur dan sasaran kehidupan masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa. Tidak mengherankan, wayang lazim dijadikan acuan, sumber, dan dasar berperasaan, berpikir, bernalar, berlaku, berbuat, dan atau bertindak dalam kehidupan masyarakat, kebudayaan, dan masyarakat Indonesia khususnya Jawa.

Oleh karena itu, tambah Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) ini, wayang sebagai lakon dan seni pertunjukan memiliki kekuatan integratif sekaligus instrumental yang kokoh dalam masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa: kekuatan integratif wayang mampu mengutuhkan sekaligus merekatkan masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa, sedangkan kekuatan instrumental wayang dapat mengantarkan sekaligus ”memfasilitasi” masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa mampu mencapai tujuan luhur dan sasaran kehidupan yang dikehendaki bersama.

”Semua itu menandakan bahwa wayang telah menjadi ”darah daging” masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Jawa. Meski hal ini dapat berlaku juga bagi masyarakat, kebudayaan, dan peradaban lain yang memiliki tradisi wayang,” tegas akademisi yang juga sastrawan ini.

Pada bagian lain Djoko menegaskan bahwa  wayang merupakan karya agung budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Sekalipun memperoleh bahan-bahan pengayaan dari berbagai budaya manca, wayang terbukti otentik karya anak bangsa Indonesia. Hal ini menandakan bahwa wayang merupakan sumbangan penting Indonesia bagi kebudayaan dan kemanusiaan.

Disamping itu wayang beserta segala dimensi dan spektrum keberadaannya dapat menjadi modal pembangunan bangsa dan komunitas di Indonesia, bahkan bangsa-bangsa dan komunitas-komunitas di dunia. Di sini wayang diharapkan semakin mampu memberikan sumbangan penting bagi pertumbuhan kebudayaan dan kemanusiaan di tengah-tengah makin gencarnya globalisasi dan regionalisasi.

Mengingat sedemikian bernilainya wayang maka Djoko Saryono berharap bahwa bersama-sama dengan kearifan lokal dan pusaka budaya Indonesia lainnya, wayang sebagai kearifan lokal sekaligus pusaka budaya yang diakui oleh dunia sudah seharusnya dijadikan landasan pembangunan, kebudayaan, dan kemanusiaan di dunia khususnya di Indonesia.

Menjadikan wayang sebagai salah satu (bukan satu-satunya) landasan pembangunan, kebudayaan, dan kemanusiaan merupakan wujud mengupayakan, bahkan merealisasikan model pembangunan inklusif atau responsif kebudayaan. Dalam hubungan ini pembangunan inklusif atau respontif kebudaya lokal yang berakar pada tradisi wayang.

Para pengkaji, peneliti, pemerhati, pencinta, dan para pemangku wayang lainnya ditantang untuk sanggup merestorasi, merevitalisasi, bahkan mentransformasi wayang agar benar-benar fungsional sebagai landasan pembangunan inklusif atau responsif kebudayaan lokal.

Jika hal tersebut  bisa terwujud, kesinambungan pembangunan, kebudayaan, dan kemanusiaan niscaya dapat dirasakan oleh semua warga bangsa Indonesia. Kesinambungan inilah yang dapat menjadi pegangan semua warga bangsa Indonesia menjalani berbagai perubahan yang diakibatkan oleh proses pembangunan, perubahan kebudayaan, dan perkembangan peradaban. (h)