Prof Henri Subiyakto: “Dalang Harus Kenal Media Sosial”

SURABAYA:  Posisi dalang wayang memiliki peran yang sangat penting sejak dulu hingga sekarang, tetapi harus diingat bahwa dunia sudah berubah. Media massa sudah bukan lagi berupa kertas, radio dan televisi, tetapi media sosial. Kecenderungan masyarakat untuk mengonsumsi media sosial semakin besar dan justru lebih mempercayainya. Karena itu dalang harus kenal media sosial.

Hal itu disampaikan oleh Prof. Henri Subiyakto dalam acara Sarasehan Seniman Pedalangan yang diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Timur Kamis (31/5). Ditambahkan oleh staf ahli Menteri Komunikasi dan Informasi (Kominfo) itu, bahwa kecanggihan teknologi sudah sangat memudahkan orang untuk mengakses informasi media sosial seperti Facebook, Instagram, Youtube dan sebagainya hanya dengan menggunakan perangkat handphone di genggaman tangan.  Masyarakat kita sudah sangat tergantung dengan handphone bahkan mengalahkan keluarganya sendiri. Kalau radio adalah perpanjangan telinga, televisi perpanjangan media pandang dengar (audio visual), maka handphone adalah perpanjangan hidup kita. Ini fakta.

Kondisi seperti itulah yang harus disadari oleh kalangan dalang karena melalui media sosial bukan hanya berkembang berita-berita yang positif namun juga informasi buruk yang menyesatkan. Celakanya, ada kecenderungan masyarakat untuk lebih memercayai informasi yang memuaskan diri sendiri karena sependapat, meskipun hal itu adalah berita bohong. “Ini namanya post truth,” tegas guru besar ilmu komunikasi Universitas Airlangga itu.

Berita-berita bohong (hoax) itu memang sengaja disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan ketenteraman dan kedamaian di Indonesia. Hoax sengaja diproduksi terus menerus dan berulang-ulang sehingga akhirnya masyarakat malah menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Hoax itu seperti narkoba, ada yang memroduksi, mendistribusi dan mengonsumsi. Celakanya, produsen hoax itu banyak menggunakan media dengan nama-nama berbau Islam. Biasanya ada kata “viralkan, “sebarkan”, dan semacamnya, bahkan diakhiri dengan ancaman kalau tidak mau menyebarkan.

Dampak dari maraknya hoax dan ujaran kebencian (hate speech) adalah terjadinya sikap dan opini yang salah tertanam kebencian terhadap pemerintah dan aparat. Terjadi pengelompokan dan radikalisme hingga terorisme. Rawan eskalasi konflik dan kerusuhan (hate crime), rusaknya demokrasi, merongrong dan bisa memecah belah NKRI serta juga menjelekkan agama.

Banyak korban hoax yang tidak sadar karena mereka berada di ruang gema (echo chamber effect) yaitu mereka hanya mau mendengar yang sudah sepikiran sehingga memperteguh sikap mereka. Seperti gema suara di ruang tertutup, pikiran yang berulang akan memerkuat pandangan yang makin mengental dan ekstrim. Hoax dan media abal-abalpun dianggap sebagai kebenaran karena sesuai dengan suara yang bergema.

Memang ada semacam ungkapan “sing waras ngalah” tetapi, kata Henri, kalau yang waras terus-terusan mengalah maka yang berkuasa adalah orang-orang gila, orang yang tidak benar, dan orang-orang yang ambisius dengan niat buruk demi mencapai kepentingannya. Karena itu, tegasnya, sudah saatnya yang waras jangan mau ngalah. Sudah saatnya para dalang mengambil peran dalam dunia digital dan literasi. Selain menyuarakan pesan-pesan melalui pergelaran maka dalang juga perlu bersuara melalui media sosial.

Sarasehan Pedalangan ini berlangsung sejak Kamis siang hingga malam hari. Selain Henri Subiyakto, juga hadir sebagai narasumber adalah Prof Djoko Saryono dari Universitas Negeri Malang dan dalang Ki Purboasmoro. (h)