Hari Ghulur menuju American Dance Festival

SURABAYA: Seniman muda potensial Surabaya, Moh. Hariyanto alias Hari Ghulur bakal berlebaran di Amerika Serikat karena Selasa siang ini (12/6) harus terbang ke Durham North Carolina untuk mengikuti forum bergengsi dalam dunia tari internasional yaitu American Dance Festival (ADF). Dosen tetap Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya ini menjadi orang Jawa Timur kedua yang berhasil masuk ADF setelah Ahmad Fauzi (alm) yang  dua kali ke AS (1993 dan 1994). Bahkan Fauzi waktu itu masih menjadi mahasiswa STKW Surabaya.

Lahir di Sampang 16 Oktober 1986, seniman yang menguasai tari tradisi Jawa Timur dan kontemporer ini akan berangkat mengikuti program  International Choreographers Recidency (ICR) di American Dance Festival (ADF) mulai 13 Juni-22 Juli 2018. Selama 6 minggu, Hari akan mengajar satu master class, menghadiri diskusi dan seminar tari, mendapat kesempatan untuk mengakses arsip tari ADF, menonton semua pertunjukan selama ADF berlangsung,  serta menciptakan karya pendek dengan penari-penari setempat.

Senin siang kemarin (11/6) Hari  menggelar pamitan di pendopo STKW yang dilaksanakan oleh Sawung Dance Company yang dikelola Sekar Alit, penari yang juga isteri Hari. Dalam kesempatan itu Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT)  Pemberdayaan Lembaga Seni Wilwatikta, Drs. Arif Rofiq, M. Hum, mengemukakan rasa bangganya bahwa salah satu dosen STKW itu terpilih dalam forum tari prestisius dunia. Dia percaya bahwa hal ini dapat memacu kreativitas mahasiswa STKW yang nampaknya lebih terpacu adanya figur berprestasi ketimbang kuliah formal.

American Dance Festival sendiri, yang sudah dimulai sejak tahun 1934 adalah salah satu festival tari yang paling dikenal di Amerika Serikat yang dimotori oleh koreografer legendaris Martha Graham bersama dengan Hanya HolmDoris Humphrey dan Charles Weidman. Suratkabar terkemuka Amerika,  New York Times menyebut ADF sebagai “salah satu institusi terpenting di Amerika Serikat”.

Beberapa seniman Indonesia yang pernah mengikuti Festival ini antara lain Eko Supriyanto (Eko Pece), Ali Sukri, Ari Ersandi, Bobby Ari Setiawan dan Danang Pamungkas, kini menjadi seniman tari produktif dan memiliki peran penting dalam perkembangan tari di Indonesia. Selain itu juga ada nama-nama Sardono W. Kusumo, Sal Murgiyanto, Dedy Luthan (alm), ibu Gusmiyati Suid (alm),  Ery Mefri, Miroto,  Boy G. Sakti dan Sukarji Sriman.

“Merekalah yang mempertahankan nama baik serta reputasi seniman tari Indonesia, sehingga kita sebagai penerus tari kontemporer Indonesia tetap dipercaya untuk berpartisipasi dalam ICR program, master class, workshop maupun presentasi karya serta dialog diskusi dan six week classes,  di ADF  Duke University, Durham North Carolina,“ komentar Eko Pece dalam status Facebook Sekar Alit yang mengunggah berita ini.

Eko sendiri sempat menjadi bahan pembicaraan karena menjadi penari latar penyanyi ternama, Madonna, yang juga pernah terlibat dalam ADF. Lepas dari ADF Eko kerap keliling dunia membawakan karya-karyanya hingga kini.

“Kita musti berterima kasih buat para senior kita karena dari merekalah terbuka jaringan residensi ini,” tambahnya.

Tahun ini dengan dukungan dana dari Asian Cultural Council New York (ACC) dan kerjasama dengan ADF, 4 koreografer dari Asia Tenggara akan berpartisipasi pada ADF 2018. Yayasan Kelola bertindak sebagai lembaga yang berkoordinasi dengan para koreografer di Asia Tenggara, meminta rekomendasi nama para koreografer dan mempersiapkan keberangkatan mereka ke ADF. Pemilihan koreografer untuk ICR dilakukan oleh ketiga lembaga tersebut atas rekomendasi para koreografer alumni ADF yang pernah menjadi mitra ACC.  Empat koreografer yang terpilih adalah Davy Yon dari Phnom Penh, Kambodia, Hong Sam Thi Pham dari Saigon (Vietnam), Padung Jumpan dari Bangkok, Thailand dan Mohammad Hariyanto dari Surabaya, Indonesia.

Hari Ghulur menamatkan studi S1 di jurusan Sendratasik Unesa dan S2 di Pascasarjana ISI Surakarta, saat ini menjadi dosen di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya dan Dosen Luar Biasa di Universitas Negeri Malang. Hari juga mendirikan Sawung Dance Studio sebagai wadah penari dan koreografer muda di Jawa Timur untuk terus berkarya, berinovasi dan bereksperimen.

“Dengan mengikuti Festival ini diharapkan akan menambah kapasitas seniman Indonesia untuk dapat melahirkan karya karya baru yang dapat diakui di dunia internasional dan melakukan pengembangan ekonomi kreatif pada dunia seni tari, serta menjadi inspirasi bagi penari dan koreografer muda di Indonesia untuk terus berkarya dan berprestasi,” ujar Sekar Alit.

ACC, Kelola, and ADF percaya bahwa pertukaran seniman antara Amerika dan Asia akan menumbuhkan saling pengertian dan saling menghormati. Melalui pertukaran budaya seniman yang terlibat mendapat kesempatan untuk menjalin hubungan yang berkelanjutan serta inspiratif. Para koreografer dari Asia akan mendapat pengalaman dari ADF dan komunitas ADF akan diperkaya dengan kehadiran seniman-seniman dari Asia. Kerjasama antara  ACC , Kelola dan ADF juga akan mengasah kemampuan Lembaga untuk melakukan pertukaran budaya internasional yang berkelanjutan di masa depan.

Sementara itu, dalam acara pamitan kemarin Hari Ghulur menyuguhkan trailer karyanya yang bakal dipresentasikan di ADF. Karya yang belum berjudul ini  mengeksplorasi posisi duduk bersila yang menjadi budaya tersendiri di Madura. Bagi orang Madura duduk bersila memiliki makna filosofis yang menunjukkan kesantunan.  Mereka yang bersila tidak jenak, berubah-ubah posisi, akan dinilai kurang baik menurut budaya Madura. Hari yang berdarah Madura itu sampai terbiasa bersila meski sedang duduk di kursi. Bahkan di rumahnya sendiri bapak anak semata wayang ini juga terbiasa duduk lesehan bersama keluarganya saat makan dan bercengkerama meskipun tersedia kursi.

Bersila adalah juga mengakrabi tanah, bumi, tempat manusia berasal dan kembali. Hal ini menjadi ketertarikan tersendiri bagi Hari yang diwujudkan dalam karya Ghulur-ghulur sebagai tugas akhir studi pascasarjana di ISI Surakarta yang disajikan di atas tanah lumpur di Sumenep.   Dalam perkembangannya karya yang sama kemudian disajikan di atas lembaran seng gelombang dalam pertunjukan di gedung Cak Durasim Surabaya dan juga Teater Salihara Jakarta.

Tampil bertelanjang dada dan mengenakan kopiah, Hari Ghulur menunjukkan kepiawaiannya dalam kelenturan tubuh. Gerakan-gerakan yang dipertontonkan lebih banyak dalam posisi meditasi teratai sempurna, dimana dua telapak kaki berada di atas paha, sebuah posisi yang sulit. Sementara kedua tangannya terus bergerak dinamis. Dan, inilah yang mengagumkan, dalam sikap seperti itulah dia memungkasi karyanya dengan bergerak mundur hingga keluar panggung. Luar biasa. (hnr)