Eko Pece: Kontemporer itu Sikap, Bukan Bentuk

SURABAYA:  Masih banyak yang beranggapan bahwa karya seni, khususnya tari, kontemporer itu lebih dikedepankan bentuk visualnya. Padahal, menurut Eko Pece, kontemporer itu masalah sikap. Bukan bentuk.

Dalam rangkaian Festival Kesenian Indonesia (FKI) ke-X yang berlangsung 7-9 Juli, Eko Pece Supriyanto memberikan workshop seni tari di pendopo kampus Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW Surabaya) hari Minggu (8/9). Memang dimajukan dari rencana semula hari ini (9/7), sehingga hari ini tinggal workshop seni rupa oleh pematung Nyoman Nuarta, workshop teater oleh Rachman Sabur, keduanya dilangsungkan di kampus STKW mulai pukul 10.00. Sedangkan workshop film diselenggarakan di Cinema XXI Ciputra Word, Jalan Mayjen Sungkono pukul 16.15 oleh Yandi Laurens, setelah pemutaran 15 (lima belas) film pendek sejak pukul 10.00. Terbuka untuk umum dan gratis.

Dalam workshop tari itu, puluhan mahasiswa dari berbagai daerah bagaikan masuk ke kawah candradimuka karena diplonco oleh seniman tari kaliber internasional itu. Mereka dipaksa menekuk-nekuk tubuhnya tanpa boleh mengeluh. “Gitu kok mau jadi penari,” tegasnya sambil membetulkan posisi tubuh peserta. “Kalau ada yang mau pingsan bilang yaa….,” selorohnya.

Dikatakan oleh staf pengajar ISI Surakarta itu, ada tiga hal yang harus dilakukan dalam melakukan dekontruksi karya seni tradisi. Pertama, mengunjungi tradisi, bertemu dengan seniman-seniman aslinya, yang sepuh-sepuh, melakukan riset tradisi dan bagaimana konteks seni dalam tradisi yang ada.

Kedua, mempertanyakan. Bagaimana detail tradisi tersebut, kapan waktunya, usia pelakunya, bagaimana konteks kemanusiaannya. Apa-apa yang menjadi pakem dalam seni tradisi dicoba dipertanyakan. Misalnya, mengapa tarian Jawa Timur rata-rata mengenakan gongseng. Mengapa ada gerakan-gerakan tertentu yang harus dilakukan. Hal ini harus disadari karena budaya kita memang meniru.

Yang ketiga adalah interpretasi. Apakah makna kesetiaan dalam epos Ramayana? Ada bedanya dengan kesetiaan terhadap pasangan kita sendiri, terhadap orang tua atau teman misalnya.

Eko menegaskan sekali lagi, bahwa kontemporer itu bukan masalah bentuk tetapi sikap. Dia contohkan dirinya sendiri, dibandingkan dengan Jecko Siompo dan Miroto yang sama-sama berguru pada Sardono W. Kusumo, namun karyanya berbeda satu sama lain. Meski satu guru, tetapi yang diajarkan bukan bentuk-bentuk tetapi bagaimana sikap kita. (hnr)

Sila liat foto-fotonya di:

https://www.facebook.com/henrinurcahyo?hc_ref=ARQrdhbYRWjWIZa58In2QD3atux41mXvimf5H0d6vdo7qNP_xWOo9sHMhbXXk9OTwLA