Raden Wijaya versi Ludruk Lerok Anyar

SURABAYA: Ludruk selama ini identik dengan seni pertunjukan rakyat yang mengangkat kisah legenda atau keseharian. Tidak banyak ludruk yang membawakan cerita berlatar sejarah. Beda dengan ketoprak. Hal inilah yang dilakukan oleh Ludruk Lerok Anyar ketika tampil di Gedung Kesenian Cak Durasim Sabtu lalu (4/8) dengan membawakan lakon “Babad Bumi Tarik Raden Wijaya.”

Garis besar isi ceritanya memang bisa ditebak sebagaimana tertulis dalam buku-buku pelajaran sejarah. Kisahnya tentang kegigihan Raden Wijaya dalam menyatukan bumi nusantara hingga lahirlah kerajaan Majapahit. Dimulai tahun 1292, ketika Singosari diserang oleh kerajaan Daha dari Kediri dibawah pimpinan Jayakatwang. Singosari dibumihanguskan dan Raja Kartanegara terbunuh dalam peristiwa itu. Raden Wijaya, menantu Raja Kartanegara behasil lolos dari kepungan prajurit dan menyelamatkan diri ke Sumenep dan kembali menyusun strategi mengalahkan Jayakatwang mengambil alih kerajaan Singosari sekaligus mendirikan kerajaan baru bernama Majapahit.

Tetapi ketika lakon ini diangkat menjadi sebuah pertunjukan, tentu saja tidak mengalir linier sebagaimana pelajaran sejarah. Kisah sejarah tersebut disajikan dengan berpijak dalam unsur-unsur ludrukan,  dibumbui dengan humor dan juga kritik sosial.

Dalam pertunjukan ini juga dihadirkan setting bendera merah dan bendera putih seakan mengirim pesan bahwa sesungguhnya bendera Merah Putih yang digunakan sebagai bendera kebangsaan Indonesia sekarang ini berasal dari kerajaan Majapahit. Lantaran pergelaran ini diselenggarakan bulan Agustus, sepertinya sekaligus ikut menyongsong peringatan Proklamasi Kemerdekan Indonesia. Memang terasa ada nuansa “Agustusan” dalam gelar ludruk ini.

Dengan melibatkan sekitar 50 orang pemain, secara umum struktur pementasan kali ini ludruk  diawali dengan pembukaan tari remo, atraksi bedayan yang berupa penampilan beberapa travesti yang berjoget ringan sambil melantunkan jula-juli, adegan dagelan dan penyajian lakon atau inti dari pementasan.

Namun kali ini penari remo tidak hanya menari saja tetapi juga ikut berperan rangkap sebagai prajurit dalam lakon tersebut sehingga ada sambungan gerak dalam tarian remo yang langsung masuk pada bagian lakon.

Menurut sutradara ludruk dari kabupaten Malang ini, Marsam Hidayat, tidak mudah menggunakan lakon sejarah dalam pementasan ludruk. Agar tidak terkesan seperti ketoprak, Marsam memasukkan unsur-unsur ludruk dalam pementasan, khususnya humor-humor ludrukan sehingga membuat segar pertunjukan.

“Ketika seseorang menyukai pertunjukan yang berkualitas. Maka rupiah adalah nomor sekian. Sumbang atau merdu, ludruk adalah milik kita bersama yang perlu dijaga dan dilestarikan agar tidak tertelan oleh kemajuan jaman,” ujar sutradara terbaik Fesival Ludruk Jawa Timur tahun 2017 ini.

Ditambahkannya, ludruk Lerok Anyar bukanlah ludruk konvensional juga bukan teater modern. Bisa disebut drama rasa ludruk tetapi masih menghasilkan unsur-unsur kekinian dan yang terpenting ada penampilan tari remo. Karena penonton saat ini ada dua. Yang pertama ludruk dengan penonton lama dan yang kedua ludruk dengan penonton baru. Dari situlah dia menyiasati dengan cara penonton lama diberikan sedikit unsur kekinian. Dengan demikian dia yakin ludruk akan hidup sepanjang zaman karena tradisi tidak akan pernah mati. (lya)