Erros Djarot: Skandal Kebudayaan Bila PSLI Berhenti

SURABAYA: Kondisi ekonomi negeri ini memang sedang sulit, tetapi bilamana penyelenggaraan Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) berhenti, itu adalah skandal kebudayaan. PSLI tidak boleh berhenti ketika sudah menginjak tahun kesebelas sekarang ini. Gubernur harus malu, Walikota harus malu, kita semua harus malu kalau PSLI tidak ada lagi.

Hal ini ditegaskan oleh budayawan dan sekaligus politisi Indonesia, Erros Djarot, ketika tiba-tiba hadir dalam acara sarasehan yang diikuti para peserta PSLI di Jx International menjelang tengah malam kemarin (20/10). Seperti biasa, satu hari menjelang penutupan, panitia menggelar sarasehan untuk para peserta, melakukan evaluasi dan membicarakan perbaikan-perbaikan untuk penyelenggaraan PSLI berikutnya. PSLI ke XI ini berlangsung sejak tanggal 12 Oktober dan ditutup sore ini (21/10).

Pada kesempatan itulah M. Anis selaku Ketua Sanggar Merah Putih sebagai penyelenggara PSLI melontarkan wacana, kalau memang kondisi perekonomian tahun depan makin sulit maka opsinya adalah mengurangi sewa stand dengan konsekuensi panitia harus cari sponsor lebih banyak. Opsi kedua, PSLI break dulu.

Sejumlah peserta langsung menolak opsi break, sebab akan sulit bangun lagi dan secara psikologis malah merusak citra PSLI. Mereka mengakui bahwa transaksi memang kurang baik, hingga H-1 penutupan hanya terjual 105 karya dengan nilai total Rp 860 juta. Ada sejumlah 130 stand dengan 200-an pelukis terlibat dalam kegiatan ini. Tetapi PSLI bukan semata-mata transaksi, namun ajang silaturahim pelukis berbagai daerah, ada aspek edukasi dan juga membangun aspirasi. “Tugas PSLI adalah menyebarkan keindahan,” ujar Anis.

Pelukis Azzam pun lantas mengajak peserta untuk berdoa, atas kepergian teman-teman yang pernah menjadi peserta PSLI seperti Berti, M. Roeslan Abdulgani, bahkan juga B. Sutopo yang sudah terdaftar sebagai peserta namun keburu meninggal dunia. Ada standnya di PSLI sekarang ini yang ditunggui keluarganya.

Anis juga mengakui, momen penyelenggaraan PSLI ini berlangsung dalam suasana duka karena bencana alam di Palu Sulawesi Tengah. Ada rasa tidak enak. Kepedulian peserta untuk merelakan karya-karyanya dijual untuk membantu korban bencana itupun kurang mendapat sambutan masyarakat.

Seniman Jangan Cengeng

Dalam suasana murung itu tiba-tiba muncul Erros Djarot, yang baru mendarat dari Bali dan langsung bergabung dengan peserta sarasehan, bukan menuju hotel. Semula sutradara flm dan pencipta lagu ini duduk di deretan paling belakang acara sarasehan yang berlangsung lesehan. Namun menjelang ditutup, Eros didaulat ke depan untuk memberikan sambutan.

“Seniman tidak perlu cengeng, tidak boleh ada yang sedih, kondisi sekarang ini bukan monopoli pelukis, yang lain juga sama saja,” tegas adik kandung seniman film Slamet Rahardjo ini.

Ditambahkannya, kegigihan panitia berhasil menyelenggarakan PSLI secara rutin hingga tahun ke-11 ini  adalah sebuah prestasi tersendiri. PSLI bukan hanya pasar, tetapi even dialog antar seniman, juga dengan masyarakat, pelukis bisa menjual lukisan kapan saja dan dimana saja. Tidak harus di PSLI. Dialog seniman itu penting. Even ini adalah sebuah cermin untuk melangkah maju.

“Saya sendiri saja tidak bisa hidup dari kesenian, beli bajay saja tidak mampu, meski dimana-mana nama saya selalu disebut pencipta lagu Badai Pasti Berlalu,” ujar lelaki kelahiran Rangkas Bitung, 22 Juli 1950 ini.

Dengan berapi-api pendiri Partai Nasionalis Bung Karno (PNBK) ini juga membakar semangat para pelukis agar tidak menghamba pada pejabat pemerintah. Kalau ada pejabat kurang bermutu itu wajar sebab mereka bukan seniman. Jangan terlalu berharap belas kasihan pada pemerintah. Posisi seniman itu hanya satu tingkatan di bawah Nabi. Yang bisa memecat seniman hanya Gusti Allah. Justru pejabat itu adalah pasien kita yang harus diberi pencerahan.

“Karena itu kalau memang Surabaya sudah tidak sanggup lagi, biar Jakarta yang nanggung,” tegas Erros disambut tepuk tangan meriah. Ini kriminalitas kebudayaan, tambahnya.

Sebelumnya, M. Anis memang mengatakan bahwa mendatangkan Gubernur Jatim terpilih Khofifah Indraparawangsa sebagai model lukisan di PSLI beberapa hari yang lalu lebih bernuansa politis ketimbang semata-mata sebagai model beneran untuk dilukis. Ini adalah upaya agar Gubernur pengganti Soekarwo ini juga peduli kesenian. Bahkan ketika Khofifah bermaksud hendak membeli lukisan, panitia justru melarang untuk membeli satupun karena bisa menimbulkan iri hati peserta lainnya. Khofifah memahami hal ini, malah memberikan souvenir puluhan kain batik untuk para pelukis.

Menurut Erros, PSLI adalah gambaran bagaimana kita bermasyarakat dan berbangsa yang beradab. Bayangkan, ini sudah tengah malam, tetapi kita masih di sini, bicara bagaimana memajukan bangsa melalui kebudayaan. Kalau bukan orang kurang waras tidak ada.

“Sudahlah Mas Anis, kalau PSLI berhenti, kita gak usah berteman lagi,” ujar Erros sambil menepuk bahu sahabat dekatnya itu.

Suasana gedung Jx hening, jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 00.00. Erros lantas bicara dengan nada sendu. “Acara tahunan harus tetap ada. Saya terharu, ini peristiwa yang tidak ada duanya yang dapat memberi spirit baru. Harus tetap dipertahankan dengan cinta, karena cinta adalah senjata yang luar biasa,” tutur sutradara film Tjoet Nja’ Dhien itu . (hnr)