Galeri Nasional Bukan Sekadar Tempat Pameran

SURABAYA: Pada dasarnya Galeri Nasional Indonesia (GNI atau Galnas) bukan sekadar tempat pameran lukisan saja. Tetapi juga melakukan edukasi, apresiasi dan menjadi pusat dokumentasi serta pendataan karya. Galeri Nasional berfokus pada seniman-seniman yang ingin mewujudkan mimpi, mengembangkan dan mengasah karya-karyanya.  Terhadap seniman yang ingin bekerjasama dengan Galnas membantu menyediakan tempat pameran, memberikan ruang apresiasi seperti diskusi, publikasi internal sampai dengan pembuatan katalog.

Hal itu dikemukakan oleh Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto, sebagai narasumber utama seminar dengan tema “Apresiasi Seni Rupa dan Peranan Galeri Nasional Indonesia” di gedung Jx International, Jl. A. Yani Surabaya, Jum’at (19/10).  Sebagai penanggap adalah Wahyudin, kurator dari Yogyakarta, dan dipandu oleh moderator Agus Koecink, seorang perupa dari Surabaya.

Acara ini diselenggarakan untuk menyemarakkan Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) yang diadakan oleh Sanggar Merah Putih, sejak tanggal 12 Oktober dan berakhir hari ini (21/10).

Dalam seminar ini dihadiri oleh kalangan mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya, Universitas PGRI Adibuana (Unipa), Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, dan juga para siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 12 Surabaya jurusan seni rupa. Tidak lupa pula para peserta umum yang terdiri dari kalangan perupa, pengamat, jurnalis dan para peminat kesenian. Sekitar 100 orang menempati kursi-kursi peserta seminar.

Hanya saja, ditambahkan oleh Pustanto, Galnas tidak membolehkan adanya transaksi karya yang dipamerkan. Silakan lakukan transaksi di luar pameran. Galnas menolak komersialisasi. Galnas tidak bersikap diskriminasi terhadap perupa. Silakan ajukan proposal dengan tawaran program yang meyakinkan. Jangan hanya asal berpameran saja, tetapi ada juga unsur edukasi dan sesuatu yang baru yang dapat ditawarkan.

Dalam hal ini peranan kurator sangat penting untuk mewacanakan yang ditawarkan perupa sehingga dapat difasilitasi berpameran oleh Galnas. Boleh menggunakan kurator tamu atau dilakukan sendiri oleh perupa dapat menjadi kurator. Itu namanya bottom up curatorial. Artis  yang merangkap kurator.

Sementara itu Wahyudin selaku penanggap banyak mengapresiasi apa yang sudah dilakukan GNI atau yang populer disebut Galnas selama ini. Menurut Wahyudin, perupa muda perlu bekerjasama dengan kurator untuk membuat proposal program yang dapat diajukan ke Galeri Nasional. Wahyudin berharap para perupa dapat membangun eksistensi di Galnas, dan membangun capaian artistik yang memungkinkan menjadi rujukan bagi proses kreatif perupa. Galnas adalah lembaga yang otoritatif. Galeri nasional penting bagi perupa tapi perupa juga lebih penting untuk galeri nasional.

Karena itu perlu dipikirkan serius, bagaimana mengomunikasikan program-program galeri nasional sehingga informasi-informasi mengenai galeri dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat luas.

Wahyudin menambahkan, penyiapan program pameran seharusnya ditopang oleh riset untuk mendapatkan pencapaian estetik dan artistik.

Pelukis adalah bagian investasi negara yang harus diopeni.  Pameran merupakan produk artistik dan pengetahuan untuk bahan riset yang dipresentasikan. Seperti halnya PSLI adalah peristiwa tahunan yang dapat menjadi sumber estetik dan pengetahuan, dan menjadi diskursus medan kreatif senirupa Jatim yang meyakinkan dibanding daerah lain. (hnr)