Penghargaan Seniman Jawa Timur 2018

Sebagaimana sudah menjadi tradisi, setiap tahun Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan Penghargaan kepada seniman – budayawan Jawa Timur atas prestasi dan/atau dedikasinya terhadap dunia seni dan budaya. Kali ini, terpilih 6 (enam) seniman Jawa Timur Berprestasi dan 4 (empat) seniman/budayawan yang dinilai memiliki dedikasi luar biasa terhadap dunia seni budaya.

Penghargaan diserahkan di Gedung Kesenian Cak Durasim, Sabtu (27/10) oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf. Sebanyak 2 (dua) dari 10 (sepuluh) seniman sudah meninggal dunia, yaitu Bokirno alias Bokir Surogenggong dan Djoemiran RA. Mereka masing-masing diwakili oleh isterinya.

Yang mengharukan, salah satu penerima penghargaan seniman berdedikasi, Arief Santosa, hadir dengan kursi roda bersama isterinya. Selama dua bulan terakhir redaktur budaya sekaligus Kordinator Liputan Harian Jawa Pos dan Manajer Jawa Pos Group itu mengalami sakit struk dan masih dalam tahap penyembuhan. Wagub Jatim, Syaifullah Yusuf menyampaikan empatinya dengan mengelus pipi Arief yang nampak masih belum lancar berkomunikasi itu.

Berikut ini adalah biodata mereka.

SENIMAN KREATOR

  1. Seni RUPA: Agus Sukamto – Surabaya

Nama Populer: Agus Koecink. TTL: Tulungagung, 31 Desember 1967; Pendidikan: S-1 Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya,  S-2 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta; Pekerjaan: Staf Pengajar STKW Surabaya, Staf Pengajar Universitas Ciputra Surabaya. Alamat Rumah Jl. Kedurus Dukuh gg 1/70 Surabaya. Studio : Desa Laban Kulon – Kab. Gresik. Telepon: 0818 0331 6545; Email: koeciank@yahoo.com

 

Dikenal dengan nama panggilan Agus Koecink, bapak dua  anak ini sangat aktif dalam banyak kegiatan terkait seni rupa. Mulai dari pameran, diskusi, pelatihan dan melakukan pendampingan terhadap para perupa lainnya. Proyek keseniannya bermula tahun 1979 yaitu Forum Performance Art Internasional “ X-Change ‘09” CCCL (Pusat Kebudayaan Perancis) Surabaya, setelah itu karya-karya seni gambarnya dipilih untuk  “Project Identitas“ Pencitraan Kebudayaan Perancis Selama 3 tahun di CCCL (Pusat Kebudayaan Prancis) Surabaya; Disusul Kolaborasi  145 seniman  Grafis sedunia “worldwide.designers” Studio Neo Open Tolouse Perancis (karya terpilih mewakili seni grafis dari Indonesia). Hasil berupa buku grafis dan diterbitkan oleh  Studio Neo Open di Perancis. Hal ini terkait dengan pengalamannya selama 3 (tiga) kali mendapatkan beasiswa residensi di Museum De Rouen dari Pemerintahan Prancis (2010, 2011, 2014).

Mantan asisten kreatif di SCTV Surabaya (1994-1999) dan designer web grafis di sam-design.com (1999-2003) ini menggelar pameran tunggal tahun 1997, 1998, 2000, 2001, 2003 dan 2004, serta tahun 2010 sebagai Pameran Tunggal oleh-oleh dari Prancis I di Pusat Kebudayaan Prancis Surabaya. Sementara di mancanegara berpameran di Australia, Korea Selatan, Prancis, Italia dan Texas AS. Sedangkan pameran bersama dilakukan di berbagai kota, termasuk Pameran Besar Seni Rupa VI yang baru saja berlangsung di Kota Batu (15/9  11/10).

Bukan hanya berkarya, suami keramikus Jenny Lee ini aktif menjadi kurator, antara lain dalam Gelar Seni Rupa Jatim (2005, 2006, 2007), Gelar Akbar (2008), Biennale Jatim III (2009), dan beberapa pameran seni rupa lainnya. Bahkan Agus yang juga aktif sebagai tutor berbagai workshop ini dikenal produktif menulis artikel di majalah seni rupa dan media massa lainnya. Tahun 2016, mendapatkan Penghargaan Walikota Surabaya sebagai seniman berprestasi.

  1. Seni FILM: Wimar Herdanto – Surabaya

Nama Populer:  Wimar; TTL: Surabaya, 1986; Pendidikan :  FISIP Universitas Airlangga;       Pekerjaan:  Film Maker; Alamat:   Jl. Ubi II/7 Jagir, Wonokromo, Surabaya; Telepon:   081234529075; Email:   wimardana@gmail.com

Sudah banyak dikeluhkan, bahwa generasi muda sudah tidak mencintai budaya negerinya sendiri, menghamba pada budaya luar yang hedonis, dan sebagainya. Tetapi bagaimana mengatasi persoalan klasik ini? Hanya mengeluh? Tanpa banyak bicara seorang anak muda asal Surabaya menjawabnya melalui karya. Dia membuat sebuah film berjudul “Gundah Gulana” yang menghadirkan nama-nama manusia hero versi Barat (seperti Gundala, Aquanus, Batman, Godam dan sebagainya) digabungkan dengan Gatutkaca, tokoh sakti dari dunia pewayangan.

Wimar Herdanto namanya, dia bicara soal kolonialisme yang masih bercokol di negeri ini. Tabiat Gundala dan Gatotkaca dalam film ini memang sengaja ia gubah sebagai representasi sifat dan perilaku umum masyarakat Indonesia. Film ini sempat hadir di beberapa festival film seperti Hellofest 2013 dan Europe on Screen 2014, serta menyabet beberapa penghargaan, seperti Best Comedy dan Favorite Film di Festival Film Online Kinerja, dan To Chart kineria.com di Piala Maya, kesemuanya tahun 2015.

Wimar pernah mengasah kreativitasnya di Kine Klub Fisip Unair dan mendirikan komunitas film bernama “Komunitas Penonton” yang melakukan apresiasi film, pemutaran bioskop keliling, workshop, diskusi serta produksi. Menjadi Direktur FESTCIL – Festival Film di Surabaya. Disamping itu, serta mengajar di almamaternya sebagai dosen luar biasa untuk matakuliah yang berhubungan dengan audiovisual dan kreatif di Jurusan Ilmu Komunikasi.

Selain film pertama Gundah Gulana (2013) tersebut di atas, Wimar terus berkreasi sepanjang tahun. Tahun 2014 misalnya, filmnya yang berjudul “Tak Kunjung Berangkat” meraih predikat Best Comers di Festival Film Online Kineria 2015 disamping 4 (empat) penghargaan lainnya.  When The Sea Feels Lonely (2015) masuk nominasi Film Pendek Terpilih Piaya Maya,  Mesin Tanah (2016) sebagai Official Selection di Singapore International Film 2017 dan Penghargaan Gajah Emas di Ganesha Film Festival ITB 2018 dan Official Selection di CinemAsia Film Festival 2018 di Amsterdam.

 

  1. Seni SASTRA: Suwignyo Adi – Tulungagung

Nama Populer:  Tiwiek SA; TTL: Tulungagung, 8 Juni 1948; Pendidikan  :  SLTA – KPG Tulungagung (1970); Pekerjaan:  Sastrawan Jawa; Alamat: Ds. Karangtalun, RT 04/RW III, Kec. Kalidawir, Kab. Tulungagung – 66281; Telepon:  0355 591156 – 0813 3114 2339; Email:  suwignyoadi@yahoo.co.id

Suwignyo Adi, itu nama aslinya, mengawali karier sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) sejak tahun 1968 hingga berakhir pensiun dengan jabatan Kepala Sekolah di  SDN Karangtalun, Kalidawir, tahun 2008. Memperkenalkan diri dengan nama pena Tiwiek SA, sampai dengan bulan Juni 2008 (baca: sepuluh tahun yang lalu) jumlah karya sastra yang sudah dipublikasikan dalam Bahasa Jawa berupa Cerkak (154 judul), novel (31 judul), Crita Rakyat Bersambung (7), Crita Bocah Bersambung (7), Crita Remaja Terjemahan Bersambung (5), Crita Cerkak Bocah (29), Crita Cerkak Saduran/Terjemahan (12), Crita Rakyat Dibukukan (6 judul), buku pelajaran Bahasa Jawa (4 jilid). Sementara dalam Bahasa Indonesia sudah dibukukan 3 judul Cerita Rakyat dan 10 judul novel anak-anak. Salah satu novelnya berjudul “Carang-carang Garing” disinetronkan oleh TVRI Surabaya (1990) dengan judul “Ranting-ranting Kering” oleh sutradara Asmayadi.

Berbagai kejuaraan sudah teramat banyak diraihnya sejak tahun 1981 dalam penulisan novel, Cerkak, naskah teater tradisional (ludruk), Penyaji Naskah dan Penyutradaraan Terbaik Teater Tradisional, dan Juara Lomba Penulisan Buku Bacaan.

Atas segudang prestasinya itulah maka Sesepuh/Penasehat Sanggar Sastra Triwida ini pernah memperoleh penghargaan dari Proyek Pengembangan Kesenian Jawa Tengah, dan berbagai lomba penulisan naskah cerpen berbahasa daerah, Lomba Mengarang Guru,  Lomba Penulisan Bahan Bacaan, dan penghargaan sebagai Pegiat Sastra Jawa oleh Yayasan Rancage dan dari Umm Aminah Foundation (2006).

  1. Seni TARI: Winarto – Kota Malang

Nama Populer: Winarto Ekram; TTL: Malang, 23 Maret 1972; Pendidikan:  Seni Tari STSI (ISI) Surakarta; Pekerjaan: PNS Dinas Pariwisata Kota Batu; Alamat: Jl. Simpang Kepuh Blok A No 3, RT 02 RW 10, Bandungrejosari Sukun, Kota Malang; Telepon: 0857 3600 6242; Email: winartoekram@gmail.com

Koreografer handal dari kota Malang ini dikenal sangat produktif berkarya di banyak kesempatan. Winarto Ekram, begitu dia dikenal, memadukan seni tari dan teater dengan membuka masuknya kesenian tradisional berbagai daerah ke dalam karya-karyanya.

Winarto memang sejak kecil hobi menari dan nonton seni pertunjukan. Dibawah bimbingan empu tari Ki Suwito Teguh Rahardjo di sanggar tari Saraswati Tumpang, Win kecil mulai menata olah kreativitas seni tari dan drama. Pentas dari kampung ke kampung dilakukannya. Lepas pendidikan SMA tahun 1990 Win mulai menjelajah belajar tari di Padepokan Seni Mangundarmo Tumpang pimpinan Ki Soleh Adipramono, diteruskan pendidikan formal seni tari di STSI Surakarta yang diselesaikannya tahun 2001 dengan tugas akhir berjudul “Pertunjukan Tari Sodoran pada Upacara Karo Masyarakat Tengger Pasuruan.”

Meski demikian, tahun 1994 Win sudah menghasilkan karya tari pertamanya, “Simah” yang dipentaskan di pendopo ageng STSI Solo, disusul dua karya tari lainnya yang digelar di Malang. Setelah itu setiap tahun selalu lahir karyanya, tidak pernah absen, antara 1 hingga 10 karya dalam satu tahun. Dramatari kolosal yang pernah digarapnya terhitung sejak “Dewi Sri” (2014) hingga “Sang Wiyata  Mahasri” (2018) sejumlah 14 karya. Sebanyak 7 (tujuh) karya tari kreasi baru anak-anak juga pernah dihasilkannya. Kendati demikian toh Winarto juga merambah sebagai penyelenggara kegiatan sebanyak 17 (tujuh belas) kali sejak tahun 2010 hingga tahun 2017.

Kegelisahannya untuk terus berkarya seni dan berproses kreatif melahirkan karya-karya baru dan dihadirkan di berbagai festival maupun forum seni di dalam negeri maupun luar negeri seperti Berlin Jerman, Rotterdam Belanda, Chungju dan juga Andong Korea Selatan.

Konsistensinya pada pendidikan dan proses kreatif disalurkannya melalui wadah Malang Dance Company, Pusat Latihan Tari Winarto Ekram yang dilengkapi dengan “Omah Kostum Natya Nareswari”. Atas prestasi dan dedikasinya itulah Winarto mendapat anugerah Juara I Pemilihan Pemuda Pelopor Tingkat Kabupaten (2003) dan Terbaik II Pemuda Pelopor Budaya dan Pariwisata  tingkat provinsi Jawa Timur. Disamping itu, juga pernah meraih sebagai Koreografer Terbaik di Universitas Brawijaya (2001), Festival Karya Gerak di Bali (2001), Penyaji Terbaik Festival Seni Pertunjukan Nasional (1993), koreografer terbaik FKAF di Unversitas Negeri Malang (1999) dan Encopass Award dari Encomnpass Indonesia (2013).

 

  1. Seni TEATER : Mulyono Muksim – Sidoarjo

Nama Populer:  Bhen Moel Wae / Cak Mul; TTL: Sidoarjo, 26 Januari 1963; Pendidikan  : Jurusan Bahasa & Sastra Indonesia Universitas Jenggala   Sidoarjo (tidak selesai); Pekerjaan:  Pengajar kesenian teater di sekolah – sekolah; Alamat: Perum Bluru Permai Blok N no 11 RT 09 RW 10 Sidoarjo; Telepon:  0856 4807 0657; Email:  Mmuksim63@gmail.com

Kisah perjuangan KH Hasan Mukmin melawan Belanda sudah sangat dikenal di Sidoarjo. Ketika Nahdlatul Ulama (NU) memperingati Hari Lahir (Harlah) pada tahun 2015, kisah tersebut divisualkan dalam drama kolosal yang naskah dan sutradaranya dipercayakan kepada Mulyono Muksim. Itulah salah satu garapan monumental yang dihasilkan oleh arek Sidoarjo asli ini.

Cak Mul, begitu panggilan akrabnya, sudah sangat familier sebagai pekerja teater yang gigih. Tetapi bukan lingkup Sidoarjo saja dia mengembangkan sayapnya. Teater yang disutradarainya sudah pernah menjelajah kota-kota Surabaya, Malang, Sumenep, Sampang, Jember, Blitar, Jakarta, Mojokerto, Banyuwangi dan sebagainya.

Penghargaan sebagai penulis naskah dan sutradara berulangkali diraihnya di tingkat Kabupaten, provinsi Jawa Timur, dan juga tingkat nasional dalam Festival Teater Pelajar tahun 2013. Bukan hanya dalam tampilan teater modern, melainkan juga seni pertunjukan tradisional (ludruk), fragmen adat dan budaya, dan sebagainya. Tidak kurang dari 75 naskah drama umum pelajar dan mahasiswa yang telah dihasilkannya.

Perjalanannya dalam dunia teater dimulai dari belajar teater di Lekture mulai tahun 1979, pernah menjadi ketua teater Lekture mulai tahun 1981 sd 1987, diulang pada periode kedua 2005 sd 2011. Dan semangatnya dalam membangun komunitas disalurkannya dengan mendirikan Teater Republik dan membina teater SIP Pondok Pesantren Ahlus Shofa Walwafa (ASW) Wonoayu asuhan Gus Nizam, pencipta Syiir Tanpo Waton, yang sebelumnya dikira ciptaan Gus Dur. Pada 2006 mewakili Jawa Timur dalam Lomba Pertunjukan Tradisional dengan lakon “Tetangga” di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Naskah yang pernah digarapnya antara lain “Umang-umang” karya Arifin C Noer (1984) di Wisma Pancasila Sidoarjo dan dipentaskan yang dalam format baru pada 2014 Di Taman Budaya Jawa Timur selama 3 hari. Juga “Kaspo Gaplek” karya Sawung Jabo yang dipentaskan di pendopo Kabupaten Sidoarjo dalam peringatan Hari Jadi Sidoarjo. Juga beberapa naskah ciptaan sendiri seperti “Sajak Otak Yang Luruh” dalam peringatan Hari Teater Dunia di gedung Sawunggaling Unesa (2016) dan karya berjudul “Kasih Yang Tak Pilih Kasih” Hari Teater Dunia (2018) di Gedung Sawunggaling Unesa dengan Komunitas pesantren Ahlus Shofa Wal Wafa Wonoayu,  Sidoarjo.

Dr. Autar Abdillah, MSn, akademisi dan tokoh teater Jatim memberi kesaksian, bahwa Mulyono Muksim memiliki ketekunan, berkarya dimanapun kesempatan tersedia, menggali kebaruan dari pengalaman kekaryaannya tanpa terjebak pada hiruk pikuk kecenderungan dari cara berteater yang sedang terjadi, sehingga terdapat kesinambungan dalam proses kreatifnya.

 

  1. Seni MUSIK : Djagat Pramudjito – Bojonegoro

Nama Populer:  Mbah Djagat/ Pram; TTL: Bojonegoro, 22 Desember 1958; Pendidikan:  D3 – Fisipol Universitas  Bojonegoro; Pekerjaan:  Seniman; Alamat:  Jln  Kapten Rameli 280. Kelurahan Ledokkulon Rt 01 Rw 04, Bojonegoro; Telepon:  081554487757; Email:  –

 

Di kalangan seniman musik, Djagat Pramudjito identik dengan “musik gergaji” karena memang dengan perkakas pertukangan itulah sesepuh seniman Bojonegoro ini menggunakannya sebagai instrumen. Baginya musik adalah eksplorasi. Maka dengan menggunakan gergaji yang diperlakukan mirip biola menghasilkan musik yang unik dan orisinal.

Dengan iringan gergaji itulah dia menciptakan lagu “Senandung Hutan Jati” sekaligus merespon identitas Bojonegoro yang dikenal potensi hutan jatinya. Dengan alat musik gergaji gesek ini dapat tercipta karakter lagu yang unik dan dapat menghadirkan suasana hutan jati. Menggunakan tempo lambat (adagio) musik ini menghadirkan suasana santai, komposisi nada dan syairnya menceritakan kehidupan masyarakat sekitar hutan jati, yang menurut Djagad mereka memiliki filosofi yang baik bagaimana hidup bersama alam.

Djagat adalah seniman produktif yang  tidak pernah bisa diam. Dia mempelajari semua jenis musik, karena musik adalah olah rasa. Selain mengajar sebagai guru tidak tetap (GTT) Seni Budaya SMP PGRI 1 Bojonegoro, bapak dua anak ini dikenal sebagai penggerak kesenian Bojonegoro. Termasuk, ikut memberdayakan dan mengembangkan kesenian “Oklik Bojonegoro” secara musikal, musikalitas, musikalisasi dan performnya untuk punya identitas yang menciri khas daerah Bojonegoro. Juga pernah berkolaborasi dengan musisi Agus Bing, Djagat sempat pentas di Makassar dan beberapa kota di Sumatera.

Djagat adalah salah satu pendiri komunitas kesenian “Sayap Jendela Art Laboratorium”, kemudian khusus menjabat Biro Pengembangan dan Pelestarian Kesenian Tradisi, dimana organisasi ini juga bergerak dalam seni rupa, teater dan film, serta seni tari. Nantinya juga akan merambah seni sastra, seni wayang dan seni ketoprak, sementara kesenian Sandur sudah teramat sering digelar. Salah satu tujuan sanggar ini adalah melakukan identifikasi dan mengembangkan seni-seni tradisi yang ada di Kabupaten Bojonegoro. Sekaligus memberikan bantuan pada sekolah-sekolah dalam pengembangan kesenian.

Aktivitas lainya, sebagai koordinator komunitas musik keroncong  “Klangenan 13″, koordinator “NIMUSIQU” yaitu Komonitas Musik Kontemporer Bojonogoro; Menggali kesenian “Kentrung Ki Andongsari” dalam perform yang lebih menarik; Membuat naskah  dan tembang  tembang kesenian Sandur yang sudah mulai populer; Membuat tembang tembang kesenian daerah baik Oklik, Sandur, Kentrung, karawitan, komposisi kontemporer dan lain lain.

Teman-temannya suka bercanda, wajahnya mirip John Lennon meski beda model kacamata, dan ternyata Mas Pram, panggilannya, memang penggemar musisi legendaris asal Inggris yang sudah tewas ditembak itu.

TOKOH BERDEDIKASI

  1. Arief Santosa

Nama Populer:  Ari; TTL: Yogyakarta, 14 Juli 1965; Pendidikan:  Jurusan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada. Pekerjaan:  Wartawan Jawa Pos; Alamat:  Permata Megah Asri Blok L no 2 Buduran Sidoarjo; Telepon:  0818 332 615; Email:  ariemetro@yahoo.com

Dalam perkembangan seni budaya, peranan media massa memiliki makna yang strategis. Meski nampaknya “hanya” menyediakan rubrik yang memuat karya-karya seni namun keberadaannya menjadi penting dalam insfrastruktur seni budaya. Dari rubrik inilah lahir pengamat dan kritikus kesenian yang memberikan apresiasi atas sebuah acara kesenian. Juga karya-karya sastra berupa puisi atau cerita pendek, bahkan melebar pada rubrik resensi buku, serta liputan khusus seni budaya. Ini merupakan kontribusi bernilai bagi pembangunan seni budaya sebuah bangsa, bukan sekadar untuk “menyenangkan” seniman.

Dalam konteks industri media massa –khususnya cetak– penyediaan kapling seni budaya itu merupakan suatu kemewahan tersendiri di tengah gempuran iklan dan konten-konten yang bernilai komersial. Merelakan satu halaman penuh untuk cerita pendek misalnya, itu sudah setara dengan ratusan juga rupiah kalau diisi oleh iklan komersial. Padahal masih ada lembaran lain berisi artikel kesenian yang kadang digabung dengan resensi buku, esai budaya dan belakangan malah ada rubrik Info Budaya. Itulah yang terjadi pada Harian Jawa Pos. Di tengah himpitan konten-konten umum, masih ada rubrik Ruang Putih dan Saujana dua halaman penuh, bahkan pernah lebih dari itu.

Kesemuanya ini tidak lepas dari peran sosok Arief Santosa, penjaga gawang rubrik budaya yang meski secara formal posisinya berpindah-pindah di lingkungan kerjanya. Perjalanan kariernya sebagai jurnalis dimulai ketika menjadi wartawan Jawa Pos sejak 1991 (biro Jogjakarta), kemudian dipindahkan ke Surabaya meliput berbagai pos (hukum, kriminal, kota, budaya), redaktur Metropolis Jawa Pos, Redaktur halaman budaya Jawa Pos, Direktur Radar Jogja, hingga menjabat sebagai Kepala Koordinator Liputan Jawa Pos dan Manajer Jawa Pos Group. Pada posisi puncak itupun ketersediaan rubrik budaya masih berada dalam tanggungjawabnya. Selama masih ada Ari –sebutan sesuai kode tulisannya– Jawa Pos akan tetap menyediakan rubrik budaya yang prestisius. Kecintaannya terhadap kesenian tidak berhenti ketika menyelesaikan pendidikan formal jurusan Sastra Indonesia di Universitas Gadjah Mada. Bahkan, Arief Santosa menggunakan alamat email pribadinya untuk penerimaan naskah.

Karena itulah nama Arief Santosa sangat akrab di kalangan seniman. Dialah yang berjasa menjaga ketersediaan ruang-ruang bagi seni budaya di Harian Jawa Pos. Tidak akan sepadan kalau toh digantikan dengan kemudahan media massa daring (online) sekarang ini. Bahkan, Arief Santosa bukanlah sekadar redaktur budaya, melainkan punya kepedulian tinggi terhadap seni budaya dengan menggelar diskusi di kantor redaksi dan menjadi pengamat beberapa event kesenian Jawa Timur.

  1. Bokirno (alm)

Nama Populer:  Bokir Surogenggong; TTL:  Surabaya, 8 Oktober 1958; Pendidikan:  Sekolah Teknik Menengah (STM) Wonocolo Surabaya; Alamat: Jagir Sidosermo VI nomor 96 Surabaya. Diskografi:  Bokir Pea (Golden Hand Surabaya), Genggong (Double    Record   Jakarta), Pecel Lele (Dunia Record Jakarta), Regae

Pentolan Seniman Jalanan ini dikenal sebagai seniman yang memiliki dedikasi kuat terhadap keberadaan seniman musik yang terpinggirkan. Cak Bokir, panggilannya, penyani dan musisi era tahun 1980-an inilah yang mendirikan dan menjadi Ketua Umum Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) yang menaungi ratusan musisi jalanan di seluruh Surabaya.

Dari tangan dingin Bokir pulalah bisa lahir kelompok musik Klanthink, yang menjadi program televisi juara Indonesia Mencari Bakat (IMB) tahun 2010. Kesuksesan Klanthink ini, adalah bukti bahwa di jalanan ada banyak mutiara terpendam. Tinggal kita mengangkat mutiara itu dan menggosoknya. Karena Klanthink memang musisi yang sudah lama ditempa di jalanan. Mereka terbiasa kerja keras, menderita, kehujanan dan kepanasan sehingga tahan banting. Dan hasil yang dicapai di IMB 2010 ini secara tidak langsung merupakan pengakuan atas eksistensi para musisi jalanan, tidak hanya di Surabaya, tetapi juga di seluruh Indonesia.

Mantan asisten musisi legendaris Gombloh itu (1984-1987). Tak heran gaya menyanyi dan bermusiknya sedikit banyak terpengaruh oleh gaya Gombloh. Lagu-lagu ciptaan Bokir pun terkesan nyeleneh, nyentil sana-sini, penuh humor. Diantaranya, lagu berjudul: Calon Pengantin, Wok Tiwok, Bung Epek-epek, Tragedi Ratu Goyang, Cnta Anak Jalanan dan Pacar Gulipat. Bahkan, setelah album Gombloh Kugadaikan Cintaku” meledak di pasaran, Bokir sempat diajak rekaman bersama. Sayang rencana ini tidak pernah terlaksana karena Gombloh keburu meninggal dunia.

Sampai dengan dia meninggal dunia  9 November 2017, Bokir masih tercatat sebagai Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Surabaya (DKS).

(diolah dari beberapa tulisan di blog: http://hurek.blogspot.com, foto: hurek)

  1. Djoemiran Ratna Atmadja (alm)

Nama Populer: Djoemiran RA; TTL: Klaten, 1 Mei 1942; Pendidikan: Konsevatori Karawitan; Alamat:  Jl. Lumumba Dalam I – 12 Surabaya.

Budayawan yang santun ini semasa hidupnya tercatat sebagai guru pedalangan dan karawitan khususnya instrumen pokok gender di SMKN 12 Surabaya, bahkan pernah menjabat Ketua Jurusan Pedalangan. Di sekolah ini pula Djoemiran menyelesaikan pendidikannya ketika masih bernama Konservatori Karawitan (Kokar), yang berubah menjadi Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) dan akhirnya menjadi SMKN 12.

Musisi karawitan dan sekaligus rekan kerjanya di SMKN 12, Bambang SP, memberi kesaksian, bahwa di luar lingkungan sekolah Djoemiran aktif  membantu para dalang, khususnya gaya Jawatimuran, untuk mengembangkan aspek sastranya (misalnya antawacana, pocapan, dan sebagainya). Djoemiran waktu itu juga aktif membantu penulisan lakon wayang purwa Jawatimuran yang bersumber dari Ki Suleman, juga menulis vokal pedalangan Jawatimuran yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Dia juga salah satu penggagas berdirinya PARIPUJA (Paguyuban Ringgit Purwa Jawatimuran) yang dipimpin oleh dalang Ki Suleman (almarhum).

Dalam buku sinopsis Banjaran Mataram, Kediri, Singosari dan Majapahit yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Djoemiran juga termasuk Tim penyusunnya. Banyak karya tulisnya dimuat di majalah berbahasa Jawa Jayabaya.

Meski hanya menyelesaikan pendidikan setingkat SMA namun kemampuannya dalam hal gending-gending, karawitan dan pedalangan serta Sastra Jawa patut diacungi jempol. Djoemiran juga kerap memberikan privat tari dan karawitan, pernah kuliah di STKW Surabaya namun tidak diselesaikannya. Menjadi juri dan narasumber pedalangan serta karawitan tak terhitung lagi. Muhibah ke manacanegara pernah dilakukannya ke negara-negara Pasifik Selatan seperti Kaledonia Baru, Tahiti Noumea dan sebagainya, untuk mementaskan kesenian Jawa Timur.

Tanggal 10 Mei 2014, Djoemiran meninggal dunia meninggalkan seorang isteri bernama Siti Mutmainah, 6 (enam) anak dan 10 (sepuluh) cucu.

 

  1. Trisakti Hendrianto

Nama Populer:  Andri Dongkrek; TTL: Surabaya, 4 Januari 1966; Pendidikan:  SMTA; Pekerjaan:  Seniman, Swasta. Alamat:  Desa Sumbercanting, RT 24, RW 07,   Kec. Balerejo, kab. Madiun; Telepon              :  0812 343 5525

Dongkrek adalah kesenian tradisional khas Madiun yang sudah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2014. Para pelakunya mengenakan topeng utuh dalam ukuran besar yang menutupi seluruh kepala. Pada mulanya kesenian ini merupakan sebuah ritual arak-arakan warga berkeliling desa yang berfungsi untuk mengusir lelembut atau roh jahat yang akan mendatangkan wabah penyakit.  Arak-arakan warga bertopeng itu dilakukan sambil memukul beduk dan kecer sesudah solat Maghrib  dan mengenakan topeng dengan wujud menyeramkan untuk menakut-nakuti anak Nyi Roro Kidul. Dalam perkembangannya Dongkrek atau Dungkrek menjadi seni arak-arakan yang dipopulerkan di Kabupaten Madiun oleh anak-anak sekolah, menyebar ke seluruh pelosok kabupaten Madiun dan dilombakan setiap tahun oleh pemerintah kabupaten.

Kesemuanya ini tidak lepas dari kerja keras dan dedikasi Trisakti Hendrianto  atau yang populer dengan panggilan Andri Dongkrek.  Anak pasangan orangtua benama Yasripah dan Suwito ini mengenyam pendidikan hingga tingkat SMTA, lantas bekerja di sebuah perusahaan swasta. Tahun 1989 menikah dengan Triwati, dikaruniani 4 orang anak yang bernama, Nenna, Hasnia, Noval dan Andra.

Kesenian yang konon sudah ada sejak tahun 1879 itu selama puluhan tahun tidak terdengar kabarnya. Barulah pada tahun 1973, dongkrek digali dan dikembangkan oleh Dinas P dan K Kabupaten Madiun dan Dinas P dan K Provinsi Jawa Timur. Tahun 1980 diadakan garap tari oleh Suwondo, Kepala Seksi Kebudayaan Kabupaten Madiun. Tetapi semakin lama dongkrek ini semakin tenggelam. Lantas, sebagai putera Madiun, Andri terpanggil  untuk menghidupkannya kembali dengan mendirikan Perkumpulan Seni Dongkrek “Condro Budoyo”.   Maka tahun 2002 Andri mulai memperkenalkan Dongkrek di Malang dan Festival Cak Durasim di Surabaya. Setelah itu setiap tahun selalu hadir dalam berbagai festival kesenian di Surabaya, Surakarta, Yogyakarta, Kupang NTT, Sidoarjo, Ngawi, Pacitan, hingga Istana Negara di Jakarta. Atas perjuangannya terhadap seni Dongkrek itulah maka Bupati Madiun memberikan penghargaan Kridha Nugraha tahun 2007. (hnr)