Wayang Orang Mustika Yuastina: Nadar Dewi Kunti Berbaju Kulit Sengkuni

Sedemikian bencinya Dewi Kunti terhadap Sengkuni karena telah mempermalukan dirinya, maka diapun bersumpah tidak akan memakai busana kanalendran sebelum busana kehormatan Ratu itu terbuat dari kulit tubuh Sengkuni. Artinya, Sengkuni memang harus dibunuh.

Kelompok Wayang Orang Graha Seni Mustika Yuastina dari Kota Surabaya mengangkat kisah tersebut dalam lakon “Luware Nadar Dewi Pritha” di Gedung Kesenian Cak Durasim, Jalan Genteng Kali 85 Surabaya, Sabtu (03/11) malam dengan sutradara Bagus Wiyadi (Pak Yadek).

Sepertinya ini lakon carangan dari fragmen Baratayudha. Kisah yang populer adalah Dewi Drupadi adalah yang ditelanjangi oleh Dursasana sehingga Drupadi bersumpah tidak akan mengeramasi rambutnya sebelum menggunakan darah Dursasana untuk keramas. Tetapi kali ini menimpa Dewi Kunti dengan pelaku Sengkuni.

Dalam Barata Yudha memang disebut-sebut Sengkuni menyukai Dewi Kunti. Tetapi tidak sampai pada perbuatan menelanjangi Kunti sebagaimana yang dilakukan Dursasana terhadap Drupadi. Sengkunilah yang bertanggung jawab secara keseluruhan terhadap berkecamuknya perang Bharatayuda.

Pak Yadek mengatakan, bahwa penulisan naskah direvisi kembali serta diolah lagi dalam waktu 1 minggu dengan menyesuaikan pemain tokoh. “Kurang lebih sebanyak 70 hingga 80 orang yang terlibat dalam pergelaran saat ini, beserta kru dan lainnya,” ujar laki-laki kelahiran Madiun 20 Juli 1957 ini.

Dalam pergelaran semalam dipertunjukkan bahwa dendam Sengkuni terhadap Prabu Pandu Dewanata dan keturunannya benar-benar membuatnya menghalalkan segala cara agar tujuan untuk menjadi penguasa Astinapura dapat tercapai. Sejak menjadi Patih di negara Astinapura keinginannya untuk selalu membuat permusuhan keluarga Pandu dan Prabu Destarastra semakin mudah dan terbuka. Apalagi sejak diangkatnya Prabu Destarastra sebagai Raja Astinapura.

Sengkuni identik dengan sifat licik, penuh tipu daya, provokator dan memiliki hati yang culas. Karena siasat kelicikannya, Pandawa harus terusir dari Astinapura dan hidup di hutan angker selama 13 tahun lamanya. Kemudian Dewi Kunti bertekad untuk meminta dan mengambil hak anak-anaknya yaitu Pandawa atas negara Astinapura yang seharusnya milik Pandawa. Akan tetapi, Raden Suyudana menolak menyerahkan tahta dan wilayah Astinapura kepada Pandawa.

Pak Yadek sudah berkecimpung di dunia pewayangan 45 tahun lamanya. Sejak duduk dibangku SMP sudah sering ikut tobong dari panggung ke panggung. Berdasarkan pengalamannya, pernah suatu ketika tanggapan di sebuah tempat yang waktu itu turun hujan dan penontonnya sangat sedikit. Hingga akhirnya, ia dan teman grupnya tidak mendapat apa-apa. Pengalaman seperti itu pernah ia rasakan tidak hanya sekali. Akan tetapi hal tersebut tidak menjadikan patah semangat dalam melestarikan kesenian wayang orang.  Dan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ia pernah mendapatkan penghargaan di TMII sebagai seniman terbaik asal Jawa Timur.

Bagus Wiyadi merasa terpanggil dan merasa bahwa dirinya harus melestarikan kesenian ini. “Kalau bukan saya siapa lagi? Kesenian wayang orang adalah nafasku, seni tradisional adalah hidupku,” tuturnya.

Sebelum pergelaran teater tradisi ini dimulai diawali dengan sajian “Tari Batik”  dari Sanggar Candik Ayu dan “Tari Wira Pertiwi” dari Sanggar Mustika Yuastina serta penyerahan hadiah pemenang Jatim Specta Night Carnival untuk katagori Lomba Pembawa Papan Nama Terbaik dan Lomba Foto Terbaik. (lya)