Kota Probolinggo Juara Parade Musik Gamelan  

Perwakilan dari kota Probolinggo, Niar Trifaningsih (24 tahun) dan grupnya dengan karya berjudul “Slawung” berhasil keluar menjadi juara Parade Musik Gamelan 2018 yang diselenggarakan Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya, Rabu (7/11).

Niar merupakan satu-satunya komposer perempuan muda yang terlibat selain 8 (delapan) peserta lainnya yaitu; Yuddan Fijar Sugma Timur (STKW Surabaya), Sudarsono (Kabupaten Bangkalan), Handhy Widartono (Kabupaten Kediri), Sugeng (Kabupaten Kediri), Sony Jatmiko (Kabupaten Nganjuk), Ignatius Ferry Dwi (Kabupetan Gresik), Jarmani (Kota Surabaya), Slamet Juhanto (Kota Pasuruan), dan Grup Unesa String Chamber (USC).

Alumnus prodi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang itu enggan menyebut dirinya komposer meski namanya dicantumkan sebagai komposer. Ia lebih mengklaim dirinya sebagai “tukang minta” dan mengaku lagu “Slawung” sebagai karya bersama. Hal itu dikarenakan adanya campur tangan gurunya yaitu Prasetya dan Preni. Menurutnya lagu tersebut sudah ada lama tapi baru dimunculkan dalam kegiatan parade ini.

Lagu Slawung  bertutur tentang keikhlasan dan ketulusan hati yang harus dimiliki oleh setiap orang dan dijadikan landasan dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketulusan dan keikhlasan diibaratkan sebagai hembusan angin Slawung pada musim panas yang senantiasa dinantikan oleh masyarakat Probolinggo karena kehadirannya senantiasa membawa kesejukan.

Proses garap aransemennya diakui perempuan yang bekerja sebagai guru Seni Budaya SMAN 4 Probolinggo ini memakan waktu 1 minggu dan melibatkan 14 orang.  Terdiri dari 11 pemusik, 2 backing vocal dan 1 vokal yang dibawakan dirinya sendiri. Selama berproses, Niar tak menampik mengalami kesulitan mengumpulkan anggota. Hal itu karena anggotanya ada yang berkuliah di luar kota dan bekerja sehingga mau tidak mau harus menyesuaikan waktu mereka.

Ketika akhirnya ia dan grupnya berhasil menang, mereka mengaku senang. Pasalnya itu membuat mereka menjadi wakil Jawa Timur pada perhelatan di kancah nasional mendatang. Ia juga tak menampik akan memunculkan perubahan-perubahan pada lagunya sesuai koreksi tampilan, entitas dan garap yang diberikan dari juri yaitu Suwandi Widianto, Joko Susilo, dan Pambuka Kristian.

Harapan yang Niar sematkan setelah parade ini adalah Probolinggo punya warna musik sendiri sehingga bisa “urunan” memberi kekhasan musik  Jawa Timur. Sebagai seorang guru, ia berusaha terus mengedukasi dan mengenalkan seni budaya pada murid-muridnya. Perempuan yang sudah tampil nyanyi sejak kelas 2 SD itu berusaha menyadarkan bahwa pertunjukan bukan hanya pada apa yang dilihat di televisi, melainkan juga ada musik gamelan yang bisa dikolaborasikan dengan diatonis.

Selain Niar dan  Slawungnya yang berhasil menjadi juara, ada penampilan yang tak kalah membuat penonton berdecak kagum dan heboh yaitu Jarmani dan Jancuknya. Perwakilan dari kota Surabaya ini menampilkan ikon jancuk. Menurut Jarmani jancuk bukanlah kata tanpa kata makna melainkan pusaka yang merekatkan masyarakat Surabaya. Usut punya usut, Jarmani memang suka menelurkan karya dengan nyeleneh. Ada pula satu karyanya yang diberi judul “Nggilani”.

Yang menarik dari parade musik gamelan ini, Bambang selaku MC mengisi jeda tiap penampilan dengan menanyai para komposernya dan jurinya. Jadi, penonton dibuat tahu proses garap, kendala dan harapan masing-masing komposer bagi parade selanjutnya dan perkembangan musik gamelan khususnya. (nur)