Ora Ilok, Budaya Jawa Anti Korupsi

SURABAYA:  Meski pembukaan Kongres Kebudayaan Jawa (KBJ) II dilakukan di gedung negara Grahadi, namun Gubernur Jatim Soekarwo tidak hadir lantaran sedang ada acara di Amerika Serikat, tanpa diwakili oleh Wakil Gubernur Jatim. Praktis Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjadi bintang lantaran Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X juga berhalangan hadir.

Rencana penganugerahan Cultural Award hanya kepada Gubernur Jatim saja oleh Yayasan Kanthil sebagaimana tercantum dalam jadwal acara juga dibatalkan, melainkan diberikan kepada ketiga gubernur tersebut. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia juga hanya diwakili oleh Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Said Abdullah.

Acara panel pembicara kunci pun diubah formatnya oleh moderator Suko Widodo menjadi talk show dengan menghadirkan Ganjar Pranowo, Didik Purwadi, asisten Keistimewaan DIY yang mewakili Gubernur DIY dan Heru Cahyono, Sekretaris Provinsi mewakili Gubernur Jatim yang sebelumnya juga secara resmi membuka acara ini tanpa sambutan pengarahan.

Dalam tema besar acara ini yaitu “Pengarusutamaan Kebudayaan Jawa untuk Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Masyarakat,” ketiga narasumber tidak terlalu tajam bicara hal tersebut, bahkan cenderung melebar.

Didik Purwadi membacakan cuplikan makalah Sri Sultan Hamengkubuwono yang nampaknya dipersiapkan lumayan tebal. Dikatakan, Tata titi tentrem kerta raharja adalah kondisi kebatinan ideal yang harus dicapai orang Jawa. Sedangkan Gemah ripah loh jinawi menggambarkan bagaimana bayangan ideal kemakmuran. Dengan demikian manakala Tata titi tentrem kerta raharja terpenuhi maka Gemah ripah loh jinawi akan menjadi kenyataan.

Sedangkan Ganjar Pranowo banyak mengemukakan isu korupsi yang banyak menjadi pemberitaan selama ini. Menurut Ganjar, kebudayaan Jawa justru mengajarkan nilai-nilai anti korupsi. “Ora ilok,” kata Ganjar.  

Gubernur yang nampaknya akrab dengan media sosial itu juga menyoroti banyaknya ujaran kebencian yang bersebaran melalui perangkat teknologi yang disebutnya “alam ghoib.” Sejak pemilihan kepala daerah DKI Jakarta masyarakat menjadi terbelah, konflik berkepanjangan yang mengoyak-ngoyak nilai budaya. Maka Ganjar mempertanyakan, bagaimana kontribusi budaya Jawa untuk melawan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur kita. Bagaimana ketulusan nilai-nilai kejawaan dibangun kembali. Keteduhan suhu politik harus dikembalikan. Apakah demokrasi dengan asesori yang tidak mengenal etika ini akan terus dibiarkan?

Sementara Heru Cahyono mengungkapkan adanya nilai-nilai tersembunyi yang selama ini justru diabaikan dan bahkan dilupakan yang terdapat dalam filosofi batik. Menurut lelaki kelahiran Yogyakarta itu ada simbol-simbol tertentu dalam motif-motif batik selaras dengan etika Jawa. Seperti misalnya motif batik Sekarjagad yang dipergunakan untuk menghadap pembesar, juga motif parang rusak yang menjadi pantangan dalam acara pernikahan.

Karena itu, Heru menyatakan, bahwa makna kata Jawa itu sendiri bukan hanya berarti orang atau suku Jawa, melainkan berarti bener, jujur atau baik. Sehingga orang yang tidak baik kelakuannya disebut “tidak atau belum Jawa”.

Pagi ini, kongres dilangsungkan di hotel Mercure Jalan Raya Darmo yang diawali dengan paparan pembicara utama dalam dua sesi, yaitu Prof. Hotman M. Siahaan dan Prof. Dr. Fachry Ali, MA, disusul sesi berikutnya dengan pembicara Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra dan Prof. Dr. Soetomo WE.

Menurut panitia seksi persidangan, R. Joko Prakosa, keempat pembicara tersebut sudah hadir dan siap presentasi. (hnr)