Parade Tujuh Jaranan Enam Kota

Tujuh jenis seni Jaranan dari enam kota dihadirkan oleh UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur di gedung kesenian Cak Durasim Surabaya, Sabtu malam (24/11). Penontonpun membludak hingga harus duduk di setiap jengkal lantai sampai depan panggung. Keesokan harinya, dua diantara Jaranan tersebut digelar khusus di halaman untuk kepentingan program dokumentasi.

Ketujuh penampil acara “Parade Jaranan Tahun 2018” tersebut terdiri dari Jaranan Sentherewe gaya Tulungagung yang dinamakan Sentherewe Rinenggo dari Sanggar Seni Prana Kesuma Aji dan Jaranan Sentherewe gaya Blitar yang dibawakan oleh Grup Guyubing Budoyo dari kota Blitar. Sedangkan Trenggalek menghadirkan dua jenis Jaranan yaitu Jaranan Pegon dari Sanggar Tari Pawon dan Turonggo Yakso dari Sanggar Ngesti Laras Budaya SMAN 1 Karangan.

Penampil lainnya adalah Jaranan Jawa oleh Grup Jaranan Among Tirto (Kab. Kediri), Jaranan Buto dari Grup Jaranan Condro Dewi (Banyuwangi) dan Jaranan Dor Kreasi oleh Grup Turonggo Sekti Padepokan Gunung Ukir (Kota Batu).

Kepala UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Sukatno, SSn, MM, mengatakan  bahwa antusiasme bukan hanya datang dari kalangan masyarakat, namun para penampil itu sendiri. Mereka sangat bersemangat untuk tampil sehingga jatah personal yang dibatasi oleh panitia sebanyak 22 orang, ada grup yang malah mengirimkan 50-60 personal.

Acara ini dimulai dari penampilan grup Jaranan Among Mitro dari Kabupaten Kediri sebagai satu-satunya penampil yang bermain di halaman gedung Cak Durasim membawakan Jaranan Jawa. Materi gerak jaranan ini lebih halus dan sederhana yang justru menjadi keunikan tersendiri. Meski tampil di halaman, tidak ada adegan ndadi karena ini memang karya garapan.

Jaranan Buto mengawali pertunjukan di panggung proscenium Cak Durasim, menghadirkan properti jaranan khas dengan kepala raksasa sebagaimana juga terjadi pada Turangga Yakso dari Trenggalek. Para penyajinya juga mengenakan tatarias seperti raksasa. Keberadaan Jaran Kepang Raksasa ini tidak lepas dari cerita rakyat Minak Jinggo, Raja Blambangan yang seringkali digambarkan berperawakan besar dan kekar bagaikan raksasa atau buto.

Berikutnya adalah Jaranan Sentherewe Rinenggo dari Tulungagung. Lantaran ini memang karya garapan, tidak harus semua properti adalah Jaranan, tapi juga dihadirkan elemen gunungan meniru wayang kulit, kain merah dan kain putih yang dikibarkan dengan tongkat, para penari yang memain-mainkan selendang tanpa jaranan. Tentu saja masih ada properti jaranan, Celeng-celengan dan juga Barongan.

Dari sisi penampilan Jaranan Pegon memang paling beda dari lainnya, setidaknya pada kostumnya yang mirip dengan Wayang Orang. Kali ini para penari Jaranannya wanita semua, kecuali Barongan. Nampaknya Sanggar pimpinan Hanarko ini hanya menghadirkan tarian biasa saja.

Sebagaimana Sentherewe, Turangga Yakso adalah jaranan yang memiliki gerak-gerak dinamis. Penampilan para siswa SMAN 1 Karangan Blitar ini malah lebih gesit dan lincah. Yang menarik, pemain Celengan tidak menggunakan properti sebagaimana lazimnya namun tubuhnyalah yang didandani sedemikian rupa sehingga mirip babi hutan.

Penampilan yang berbeda hadir dalam Jaranan Dor Kreasi dari Kota Batu. Kemunculan pertama kali justru pemain berselimut kain dan bertopeng, seorang lelaki duduk bersila dengan keris diacungkan ke atas, lukisan pada properti Jaranan artistik yang berbeda dengan umumnya, pemain Celengan mengenakan kostum yang ribet sehingga malah mengalahkan properti Celeng yang dibawanya. Bukan pecut yang dibawa pemain Jaranan melainkan tombak dengan gagang keperakan.

Muatan paling kreatif dilakukan grup Guyubing Budoyo dari Kota Blitar yang tampil terakhir. Juga ada elemen gunungan dihadirkan seperti Sentherewe dari Tulungagung meski beda bentuknya, yang ini berlubang dua. Rambut Jaranan menjurai panjang. Dan yang menarik, kepala Barongan ditambahkan elemen serabut-serabut lentur seperti rambut njeprak. Disamping itu, ada 6 (enam) pemain Celengan, semuanya perempuan, mengenakan busana dengan cantolan puluhan gongseng di kaki dan ujung-ujung bajunya. Alhasil, gerakan-gerakannya menimbulkan bunyi gemerincing yang riuh. Selain pecut, pemain Jaranan membawa senjaga Gada. Klimaks pertunjukan ini Barongan menyemburkan api sungguhan. Luar biasa.

Program pergelaran ini juga sekaligus dikaitkan dengan kegiatan UPT Taman Budaya Jawa Timur untuk pendokumentasian kesenian langka. Karena itu, Jaranan Pegon dan Jaranan Jawa dipilih untuk digelar khusus bukan sebagai tontonan. Jaranan Pegon masih diwakili oleh grup yang sama dari Trenggalek, namun Jaranan Jawa berganti yaitu oleh Sanggar Seni Prana Kesuma Aji dari Tulungagung, yang semalam sebelumnya menyajikan Jaranan Sentherewe Rinenggo.

Berbeda dengan pertunjukan malam, pendokumentasian ini bukan menampilkan karya kreasi melainkan khusus Jaranan Klasik karena memang sudah langka ditemukan di lapangan. Berbeda dengan karya garapan, maka sajian untuk dokumentasi ini juga lengkap dengan adegan trance alias kesurupan atau ndadi. (hnr)

 

Foto-foto selengkapnya di sini: https://www.facebook.com/henrinurcahyo?__tn__=%2CdlC-R-R&eid=ARB5TK8lGOlMaa9v19YUh5xOYu7ZvBja-1g1lzYHc4xgkkq-D25A4T9VQX0VVih4Ue_y1m-Thd0X1iGv&hc_ref=ARRY88H2POR3Vj7LV7V52Tjz5auB5mBefrHIYB6DGkeVuK8xXEkPGSRHhSfBbFPgYd4