Ketoprak Adipati Terung dari Magetan

SURABAYA: Terung adalah sebuah desa di kawasan Krian, Sidoarjo, yang pada zaman Majapahit merupakan sebuah kadipaten atau setingkat kabupaten. Tetapi di Magetan juga ada desa Terung yang menurut cerita rakyat bahwa dulu juga merupakan sebuah kadipaten. Terlepas dari perbedaan tersebut maka seni pertunjukan tradisional ketoprak dari Magetan akan mementaskan cerita berjudul “Alap – Alap Adipati Terung.”

Pergelaran ini merupakan acara penutup dari gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) yang berlangsung di pendopo Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, Jum’at dan Sabtu malam (15-16 Februari). GSBD merupakan program rutin UPT Taman Budaya Jatim yang kali ini merupakan pergelaran yang pertama kali dalam tahun 2019 dengan tema ”Ngrumpaka Bujana Rasa.”

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, Sinarto, S.Kar, MM mengatakan, bahwa seni pertunjukan ketoprak merupakan jenis kesenian tradisi dari wilayah sub-etnis Mataraman. Hal ini menunjukkan keragaman potensi budaya Jawa Timur yang terbentang dari Banyuwangi hingga Pacitan, dari Malang hingga ujung timur Madura. Kesemuanya memiliki keistimewaan sendiri yang layak dibanggakan.

Dalam pergelaran selama dua hari tersebut juga disajikan berbagai potensi unggulan seni budaya dan pariwisata kabupaten Magetan serta juga bazaar kuliner tradisional. Bahkan untuk anak-anak, diberikan kesempatan ikut berlomba dalam acara Lomba Membuat Kreasi Binatang dari Kertas Kokoro, Sabtu pagi (16/2).

Acara GSBD ini diawali Jumat malam dengan sajian berupa Tari “Sesaji Suraduhito Sranti”. Tarian ini menggambarkan sosok perempuan yang bukan hanya bergerak gemulai namun ada kalanya tampil gagah bak kesatria yang maju dalam palagan. Setelah seremonial pembukaan, dilanjutkan dengan sajian lagu daerah Magetan dan ditutup dengan pergelaran dramatari ”Sang Retno Wulandari” sebagai pamungkas acara hari pertama.

Pertunjukan ini mengisahkan ketika terjadi agresi militer Belanda Tahun 1949, dimana  pabrik gula Purwodadi dikuasai Belanda. Tersebutlah dara jelita Retno Wulandari dan beberapa temannya menyamar sebagai pembantu bekerja di pabrik itu untuk mengetahui kekuatan musuh dan dapat mengambil senjata dan amunisi di gudang guna mempersenjatai teman – teman pejuang terutama Toyip sang kekasih yang juga memimpin perjuangan.

Di suatu malam Retno Wulandari, Toyib dan kawan – kawan menyerang dengan membakar pabrik gula serta gudang senjatanya. Terjadilah pertempuran besar hingga Toyib terkepung musuh, walaupun akhirnya bisa meloloskan diri dalam keadaan terluka parah. Retno Wulandari segera balas menyerang dengan gigih lincah bagaikan Srikandi. Pasukan Belanda terdesak tak mampu menghadapi serangan Retno Wulandari dan teman – temannya, sehingga pabrik gula dapat direbut kembali.

Hari Sabtu siang, ada pertunjukan kesenian rakyat arak-arakan khas Magetan yaitu Tongkling. Dilanjut pada malam harinya disajikan pertunjukan ketroprak yang merupakan acara pamungkas keseluruhan rangkaian GSBD ini. Informasi, Taman Budaya Jawa Timur, telp: 031 5342128 (*)

 

Sumber foto: http://arya-media.com/sambut-tahun-2019-bupati-magetan-hibur-masyarakat-dengan-ketoprak-humor/