Dramatari dan Ketoprak Panji dari Kediri

SURABAYA: Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) dari Kabupaten Kediri dengan tema ”Kediri Bumi Panji Amestuti Budaya Leluhur, Angesthi Misuwur” hadir di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, Jumat dan Sabtu (12-13/4). Selain dramatari dan ketroprak juga disajikan Tari Gambyong Dhoko, Jaranan serta pameran produk unggulan serta bazaar kuliner khas Kediri.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, Sinarto, S.Kar, MM, menuturkan bahwa Kabupaten Kediri memang dikenal sebagai Bumi Panji. Dari Kedirilah Cerita Panji berasal dan kemudian tersebar ke seluruh penjuru nusantara bahkan ke beberapa negara di Asia Tenggara. Naskah-naskah Cerita Panji yang tersimpan di perpustakaan nasional, Malaysia, Kamboja, Inggris dan Belanda telah diakui sebagai Memory of the World (MoW) oleh Unesco. Hal ini tentunya harus disertai dengan upaya pengembangan, pemanfaaatan dan pembinaan sebagaimana amanat dalam UU tentang Pemajuan Kebudayaan.

Acara yang dimulai dari Jumat malam itu diawali dengan sajian suguhan Gambyong Dhoko, yaitu sebuah tarian yang terinspirasi dari upacara bersih desa di desa Dhoko karena pada acara tersebut harus terkumandang gending eling eling, sekar gadung dan gunungsari.

Setelah lantunan lagu daerah “Sonjo Kediri” dilanjutkan Tari Cundrik Asmarantaka, yang mengisahkan Sang Panji Asmarantaka sebagai penyamaran dari Dewi Candra Kirana yang merupakan sosok satria sejati, pemberani dan sakti mandraguna. Berkelana dengan cundrik di tangan yang menunjukkan dirinya sebagai kodrat wanita. Bersikap tangkas dan terampil untuk mencari kebenaran dan memberantas kejahatan. Tak gentar walaupun banyak rintangan. Rawe-rawe rantas malang-malang putung. Semua yang menghalangi ia hadapi.

Sebagai acara penutup hari pertama, digelar sebuah dramatari dengan judul  “Sumilak Prahara Bumi Jenggala “ yang menceritakan perihal Panji  Inukertopati dan Dewi Sekartaji yang baru saja menikah diboyong ke negeri Jenggala,  sowan  sungkem kepada sang ayah prabu Sri Lembu Amiluhur  orangtua Panji Inu Kertopati dalam acara sepasaran temanten.  Melihat kebahagiaan ini ada seorang raseksi  yang mempunyai sifat iri,  ingin hidup berdampingan dengan Panji Inu kertopati. Dengan mengerahkan bala raksasa  terjadilah ontran – ontran peperangan di  bumi  Jenggala.   Pada saat itu atas bantuan bathari Durga  sang raseksi  bisa membuang Dewi Sekartaji dari keraton serta  merubah diri menjadi Sekartaji (palsu) .

Panji  Inu kertopati tidak tahu bahwa dirinya hidup bersama dengan  Sekartaji palsu. Sementara  Dewi Sekartaji  yang berada  jauh di luar keraton sedang menderita   bertemu dan  minta petunjuk eyang resi Kilisuci. Atas saran Resi Kilisuci Dewi Sekartaji  diutus mengubah penampilan  menjadi seniman  mbarang jantur ke negeri Jenggala dengan sebutan ki dalang Gambuh Asmarantaka.  Karena kepiawaiannya   terdengar sampai di kerajaan  maka  dalam acara tasyakuran sang Prabu Amiluhur  menggelar kesenian  wayang dengan ki dalang Gambuh Asmarantaka tersebut.

Melalui pergelaran ini terungkaplah semua permasalahan dan akhirnya  dewi  Sekartaji  bisa kembali hidup bersama dengan Panji Inukertapati dan kirab menuju ke Dhaha.

Hari kedua, acara sudah dimulai sejak pagi dengan Lomba Drumband Anak dan pergelaran Jaranan pada siang hari dan akhirnya dipungkasi dengan pergelaran ketoprak pada malam hari dengan cerita ”Katresnaning Condrokirono.” Lakon ini menceritakan Raden Inu Kertopati dan Dewi Sekartaji (Candra Kirana) yang hidup aman tentram bahagia di kerajaan Panjalu. Akan tetapi Candra Kirana minta hewan yang belum ada di kebun binatang Keraton maka akhirnya pergilah sang Kameswara.

Di dalam hutan ada seorang perempuan yang hendak dimakan binatang buas kemudian  diselamatkan oleh Inukertopati dan sang putri diboyong ke Keraton. Endang Mayangsari nama sang putri dijadikan istri juga oleh sang raja akan tetapi Endang Mayangsari mempunyai niat jelek sampai terusirnya Putri Sekartaji.

Sekartaji mengembara menjadi Joko Singklon sedangkan Inukertopati dimarahi oleh Empu Darmaja supaya mencari Sekartaji. Bertahun tahun sang raja mencari istrinya akan tetapi belum ketemu, sampai pupus harapan sehingga akan dimakan oleh naga dan ditolonglah oleh si Joko Singklon.

Setelah bersahabat keduanya sampai akhirnya menjadi badarlah Joko Singklon menjadi Candra Kirana lagi dan mereka hidup bahagia.

Informasi: Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, telp: 031 534 2128 (*)