Menguak Sejarah Sidoarjo 

Oleh Henri Nurcahyo

(Komunitas Seni Budaya BranGWetaN)

 

Nama Kabupaten Sidoarjo mendadak terkenal gara-gara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap tangan Bupati Saiful Illah dalam kasus korupsi. Sayang keterkenalan ini bukan karena berita yang menggembirakan, justru menyongsong peringatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo ke-161 tanggal 31 Januari 2020 nanti. Benarkah usia Sidoarjo masih sangat muda terhitung tahun 1859? Bukankah selama ini Sidoarjo selalu mengklaim kerajaan Janggala sebagai cikal bakalnya?

Selama ini Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo diperingati berdasarkan patokan tanggal 31 Januari 1859, mengacu pada Besluit (Surat Keputusan) Pemerintah Hindia Belanda yang menyatakan bahwa Regentschap (Kabupaten) Soerabaia dibagi dua menjadi:

1). Soerabaia membawahi District (Kecamatan) Kotta, Djabakotta dan Goenoeng Kendeng.

2).  Sidhokarie  membawahi  District (Kecamatan) Djenggollo I, II, III dan IV, serta Rawapoelo.

Tidak ada nama Sidoarjo dalam Besluit itu, tapi justru nama Sidhokarie (yang kemudian tertulis Sidokare).  Masih dalam tahun yang sama,  pada tanggal 28 Mei 1859 dibuatlah Staatsblad van Nederlandsc Indie (Lembaran Negara Hindia Belanda) nomer 32 yang diundangkan pada tanggal 2 Juni 1859, yang menyatakan bahwa Kabupaten Sidhokarie diubah namanya menjadi Sidho-Ardjo.

Sebagaimana pernah disampaikan Drs Suwardono, pengajar pendidikan sejarah IKIP Budi Utomo Malang, nama SIDOKARE diasumsikan berasal dari kata bahasa sansekerta  SIDDHAKARYYA…. yang memiliki arti: “Selesai dikerjakan dengan baik” atau “Berhasil menyelesaikan dengan sempurna…” Atau “Menyelesaikan pekerjaan dengan berhasil…” sebagaimana prasasti WAHARU 1 & 2. Dalam perjalanannya nama Sidokare hanya menjadi nama sebuah perkampungan luas yang kemudian berdiri kompleks perumahan Sidokare Indah dan sebagainya.

Dalam buku “Sidoardjo Tempo Doeloe” dikisahkan, kampung Sidokare dulu berupa daerah yang banyak hantu dan roh jahat, kemudian dibabat dan dibangun pemukiman baru orang-orang Kristen –lengkap   dengan gereja dan sekolah– yang dimotori oleh “orang usiran” dari Ngoro Jombang (sekitar tahun 1844).  Namun Kampung Nasrari Sidokare ini tidak bertahan lama karena orang-orang Kristen Sidokare eksodus ke desa baru yaitu Desa Dagangan (yang kemudian berubah nama menjadi Mojowarno) di Jombang. Lokasi Kampung Kristen Sidokare itu diduga berada di pemakaman umum Desa Sidokare sekarang.

Sedangkan nama Sidoarjo itu sendiri bermula dari kata Sida’ardja, sebagaimana tertulis dalam buku Desa Rapporten (Laporan-Laporan Desa) ditulis oleh JW Meyer Ranneft yang bisa jadi dia sudah berkonsultasi dengan Dr. Van Ophuysen, yang mendapat tugas untuk membuat ejaan bagi bahasa Melayu, bahasa-bahasa daerah serta bahasa-bahasa timur lainnya yang  diberlakukan mulai  dari 1901 hingga 1926.   Ejaan nama ini berubah-ubah tidak konsisten dalam berbagai keperluan, mulai dari Sidoardjo, Sidhoardjo, Sidaardja,  Sidohardjo. Sekitar tahun 1947, Ejaan Van Ophuysen pun diganti  dengan  Ejaan Suwandi. Nama Sidoardjo tetap ditulis dengan Sidoardjo. Hingga pada tahun 1970-an, lahirlah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), maka nama Sidoardjo pun diganti dengan Sidoarjo hingga sekarang.

 

Hari Jadi Sidoarjo

Perihal Hari Jadi Sidoarjo yang mengacu tahun 1859 itu memunculkan ketidak-puasan, sebab sesungguhnya jauh sebelum itu wilayah Sidoarjo itu sendiri sudah ada. Jenggala (atau Janggala) adalah nama kerajaan yang selama ini selalu disebut-sebut sebagai cikal bakal kota Sidoarjo. Pertanyaannya kemudian, benarkah Sidoarjo pada masa dahulu  merupakan pusat kerajaan Jenggala sebagaimana Majapahit di Trowulan atau Singhasari di Malang?

Fakta sejarah menyatakan, wilayah Sidoarjo yang sekarang ini justru tidak pernah menjadi pusat kerajaan Jenggala sebagaimana diduga banyak orang (meskipun soal ini masih debatable). Apalagi Jenggala hanyalah sebuah kerajaan kecil yang lemah, bahkan pernah menjadi bawahan Kadiri serta hanya menjadi setingkat kadipaten pada masa Majapahit.  Juga tidak ditemukan bekas-bekasnya sedikitpun bahwa Sidoarjo pernah menjadi pusat kerajaan Jenggala.  Nasib Jenggala itu sendiri tidak jelas, karena hanya berlangsung dalam tempo yang singkat sebagai suatu kerajaan (1042- 1130 M). Konon para raja yang memerintah di Kerajaan Jenggala tidak cakap di dalam manejemen kerajaan sehingga kerajaan itu tidak bisa berdiri lama dan runtuh.

Kerajaan Jenggala merupakan salah satu dari dua kerajaan yang merupakan hasil pemecahan kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga dari wangsya Isyana (1019-1042 M).  Pusat kerajaan Airlangga ini disebut berpindah-pindah, pernah di Ngimbang (sebelah utara Jombang-Mojokerto), Wwatan Mas, Patakan, dan pindah ke Kahuripan (1032 M) yang diperkirakan justru berada di wilayah Mojokerto sekarang.  Namun prasasti Pamwatan (1042 M) menyebut pusat kerajaannya ada di Dahanapura. Inilah ibukota terakhir sebelum akhirnya kerajaan itu dipecah. Diperkirakan, menurut Suwardono, pemindahan pusat kerajaan ke wilayah pedalaman yang lebih dekat dengan Kali Brantas ini dimaksudkan untuk memajukan pertanian sawah sekaligus menghidupkan kembali pelabuhan perdagangan regional dan lokal.

Ceritanya, ketika itu tahun 1042  Airlangga (Erlangga) turun takhta, karena berniat menjalani kehidupan sebagai pendeta. Tahtanya kemudian beralih kepada puteri mahkotanya yang bernama Sanggramawijaya Tunggadewi, hasil perkawinan dengan salah satu kerabat (puteri) Darmawangsa Teguh yang selamat dari pralaya. Dalam Serat Kanda disebutkan bahwa Sanggramawijaya ini bernama Rara Sucian atau Dyah Kilisuci (Dewi Kilisuci) yang kemudian diduga memilih kehidupan sebagai pertapa setelah melepaskan tahtanya.  Disebutkan dalam buku Sejarah Nasional Indonesia (Jilid 2), dalam situasi ketegangan ini nampaknya Airlangga kemudian membagi kerajaan menjadi dua, Janggala dan Panjalu,  masing-masing untuk Panji Garasakan dan Samarawijaya.

Tetapi ada versi lain yang menyebut ada raja sebelum Garasakan yaitu bernama Sri Jayantaka (Lembu Amiluhung) yang memerintah 1042-1045 M. Hal ini dituliskan dalam buku “Jejak Sidoarjo, dari Jenggala ke Suriname” oleh Tim Penelusur Sejarah Sidoarjo (2006).  Buku itulah yang meyakini bahwa pusat kerajaan Jenggala memang di Sidoarjo, dengan berpegang pada masa pemerintahan Raja Jayantaka, dimana pada masa itu Jenggala mengalami kejayaan meski hanya berlangsung singkat. Keberadaan Bandar Sungai Porong dikatakan merupakan indikasi kejayaan tersebut karena telah berfungsi menjadi pusat bisnis yang sibuk, terbesar kedua setelah Sriwijaya. Namun justru masa keemasan inilah yang sekaligus menjadi masa kecemasan karena kekuatan Kadiri tidak henti-hentinya mengincar Jenggala lantaran iri dengan potensi geografisnya. Itu sebabnya kemudian pusat Janggala terus bergeser hingga sampai ke Lamongan.

Pertanyaannya, kalau memang Jayantaka adalah raja Jenggala sebelum Garasakan, berarti dia Sanggramawijaya. Padahal keduanya berbeda jenis kelamin. Garasakan laki-laki sedangkan Sanggramawijaya adalah perempuan, yang kemudian disebut-sebut dalam banyak tradisi lisan sebagai Rara Sucian atau Dewi Kilisuci. Yang jelas, dalam buku Sejarah Nasional Indonesia yang menjadi buku babon sejarah itu, tidak ditemukan nama Raja Jayantaka sebagai penguasa Jenggala. “Saya baru mendengar ada nama Jayantaka, mungkin itu dari sumber tradisi,” jelas sejarawan M. Dwi Cahyono ketika ditanyakan penulis soal ini.

Dalam prasasti Wurara maupun kitab Negara Krtagama dan Calon Arang disebutkan bahwa batas dua kerajaan itu adalah sebuah sungai yang mengalir dari barat ke timur hingga ke laut. Mengingat daerah persebaran prasasti Airlangga, yaitu daerah antara Bengawan Solo dan Kali Brantas antara Babat dan Ploso ke timur, maka diduga sungai itu adalah Kali Lamong. Meskipun, ada pendapat lain yang menyebut batas itu adalah Kali Porong.

Ternyata pembagian ini tidak menghentikan konflik anak-paman itu sehingga menimbulkan peperangan terus menerus hingga anak keturunannya. Prasasti Turunhyang B (1044 M) yang dibuat hanya setahun Mapanji Garasakan berkuasa, antara lain juga mengisahkan adanya peperangan ini. Bahkan dalam tubuh kerajaan Janggala sendiri terjadi perebutan kekuasaan sebagaimana disebutkan dalam prasasti Banjaran dan prasasti Garaman, dimana Mapanji Garasakan sempat dikudeta oleh saudara kandungnya sendiri, Mapanji Alanjung Ahyes (1052 M). Mungkin karena konflik inilah yang menyebabkan kekuatan politis kerajaan Janggala menjadi lemah. Raja berikutnya yang naik tahta adalah Sri Samarotsaha, menantu Airlangga.

Tentu saja, wilayah Jenggala tidak sama persis dengan Kabupaten Sidoarjo sekarang, malah lebih luas lagi, karena mencakup daerah Gempol, Pandaan dan Bangil yang sekarang termasuk Kabupaten Pasuruan dan konon sampai ke Bali. Termasuk juga sampai ke wilayah Malang sekarang dan delta subur Sungai Brantas. Sementara ke arah barat mencapai kawasan Lamongan hingga Tuban hingga Kudus. Ditemukannya prasasti Kambang Putih  di Rengel, Tuban, yang menyebut-nyebut nama Mapanji Garasakan membuktikan wilayah Jenggala memang mencapai daerah itu. Hal ini dimaknai oleh Ninie Susanti dalam buku Biografi Airlangga, bahwa Jenggala pernah mengembangkan aktivitas perdagangan melalui jalur lautan dengan menambahkan pembukaan pelabuhan internasional yang bernama Kambang Putih, yang proses pembangunannya dimulai sejak masa Airlangga.

Dari beberapa sumber diketahui bahwa pusat pemerintahan Janggala terletak di Kahuripan. Menurut prasasti Terep, kota Kahuripan didirikan oleh Airlangga tahun 1032, karena ibukota yang lama, yaitu Wwatan Mas direbut seorang musuh wanita. Watan atau Wotan Mas itu diperkirakan ada di lereng utara Gunung Penanggungan, dekat Ngoro Industri Persada (NIP) dimana sekarang masih ada desa bernama Wotan Mas. Lantas, dimanakah posisi tepatnya Kahuripan itu sekarang? Ada yang menduga Kahuripan – Koripan – atau Krian sekarang ini. Padahal, versi lain bahwa toponimi Krian itu berasal dari kata Rakryan.

Dalam peperangan Janggala – Panjalu, pada mulanya kemenangan berada di pihak Jenggala dalam dua kali peperangan. Tetapi setelah mampu bertahan dalam persaingan sampai hampir 90 tahun lamanya, menurut prasasti Ngantang (1135 M), kerajaan Janggala akhirnya ditaklukkan oleh Raja Kadiri Sri Jayabhaya, dengan semboyannya yang terkenal, yaitu Panjalu Jayati, atau Kadiri Menang. Sejak saat itu Janggala menjadi bawahan Kadiri.

Setelah Kadiri ditaklukkan Singhasari tahun 1222 M yang dipimpin oleh Ken Arok, dan selanjutnya oleh Majapahit tahun 1293 M, secara otomatis Janggala pun ikut dikuasai oleh dua kerajaan tersebut. Pada zaman Majapahit nama Kahuripan lebih populer daripada Janggala, sebagaimana nama Daha lebih populer daripada Kadiri. Meskipun demikian, pada prasasti Trailokyapuri (1486), Girindrawardhana raja Majapahit saat itu menyebut dirinya sebagai penguasa Wilwatikta-Janggala-Kadiri.

 

Jejak Jenggala

Melacak jejak Janggala melalui peninggalan purbakala sangat sulit, karena peninggalan purbakala yang terdapat di Sidoarjo hampir semuanya merupakan peninggalan zaman kerajaan Majapahit, dimana Jenggala sudah turun derajatnya menjadi setingkat kadipaten dibawah kekuasaan Majapahit. Candi Pari misalnya, sebagai satu-satunya candi yang masih utuh dan terjaga, dibangun tahun 1371 M yaitu  pada masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk pada kejayaan Majapahit. Hanya Prasasti Kamalagyan (Kemlagen, 1037 M) yang jauh lebih tua dari Candi Pari yang merupakan peninggalan zaman kerajaan Airlangga. Keberadaan sejumlah peninggalan atau cagar budaya di Sidoarjo itu berada dalam kewenangan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) yang ada di Trowulan, Mojokerto. Ironisnya peninggalan Majapahit justru hanya ada bendanya tetapi nyaris tanpa data sejarah yang sahih. Yang bisa ditemukan sekarang hanya cerita-cerita rakyat yang sulit ditelusuri kebenarannya.

Berikut ini adalah deskripsi beberapa cagar budaya, khususnya candi, yang terdapat di wilayah kabupaten Sidoarjo.

  1. Prasasti Kamalagyan

Dikenal dengan sebutan populer Prasasti Kemlagen, berada di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian.   Di dalam prasasti itu dikatakan bahwa raja telah menetapkan pengurangan pajak yang harus diserahkan ke kas kerajaan dari Desa Kamalagyan sewilayahnya, untuk diserahkan kepada raja pada tiap bulan Asuji (September-Oktober) untuk kepentingan bendungan di Wringin Sapta itu.  Sebelumnya, Bengawan (Brantas) seringkali jebol sehingga banyak desa di hilir yang kebanjiran, termasuk biara dan bangunan suci tempat pemujaan pada Dewa.

2. Candi Pari dan Candi Sumur

Candi ini  berada di desa Candi Pari kecamatan Porong,  peninggalan zaman Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk 1350-1389 M. Hal ini ditandai dengan pernah ditemukannya batu berangka tahun di atas gerbang bertuliskan 1293 Saka = 1371 Masehi.  Tidak jauh dari candi ini terdapat Candi Sumur yang nampaknya memiliki keterkaitan erat dan dibangun pada masa yang bersamaan.  Menurut Laporan J. Knebel dalam “Rapporten Van De Comissie In Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek Op Java en Madoera” 1905-1906 Candi Pari dan Candi Sumur dibangun untuk mengenang tempat hilangnya seorang sahabat/adik angkat dari salah satu putra Prabu Brawijaya dan istrinya yang menolak tinggal di keraton Majapahit di kala itu.

3. Candi Pamotan

Berada di desa Pamotan, kecamatan Porong,  lokasinya tidak jauh dari Candi Pari dan Candi Sumur.  Kata Pamotan biasa dipakai sebagai gelar jabatan yang diberikan kepada salah seorang keluarga Majapahit. Penyandang gelar Pamotan berkuasa atas daerah Pamotan sebagai raja muda atau penguasa daerah. Oleh karena itu Pamotan merupakan negara daerah yang sangat penting pada zaman kerajaan Mojopahit. Kekuasaan atas daerah itu selalu dirangkap oleh tokoh yang sudah memegang kekuasaan atas daerah lain. Tetapi belum dapat dipastikan apakah hal itu terkait dengan keberadaan Candi Pamotan ini

4. Candi Wangkal

Candi Wangkal di desa Wangkal Kec. Krembung ini terletak di tengah-tengah perkebunan tebu (persawahan) dan di belakang makam warga desa Wangkal.   Mengacu pada Candi Tikus, yang juga terbuat dari batu bata dan batu andesit, diduga pembangunan candi ini dilakukan dalam dua tahap. Yang pertama batu bata, disusul penggunaan batu andesit tersebut.

5. Candi Medalem

Candi Medalem terletak di Desa Medalem Kec. Tulangan Sidoarjo, berjarak  satu kilometer ke arah timur dari pabrik gula Tulangan.   Diduga candi Medalem adalah sisa-sisa sebuah kompleks perumahan jaman Majapahit. Hal ini terindikasi dengan adanya nama-nama desa di sekitarnya, yaitu desa Kemantren (ke-Mantri-an), Kepatihan dan Kajeksan. Kemungkinan  daerah Medalem zaman dahulu kala merupakan tempat pertemuan para pejabat kerajaan. Berasal dari kata medalem (ke-rumah) dan candi medalem disebut candi Tengoro sebagai penanda lokasi pertemuan.

6. Candi Dermo

 

Lokasi Candi Dermo berada di Dusun Dermo, Desa Candi Negoro, Kecamatan Wonoayu,  berbentuk gapura paduraksa  yaitu gapura yang bagian atasnya menjadi satu, bukan  terpisah sebagaimana gapura umumnya. Candi bercorak Hindu ini  dibangun pada masa Raja Hayam Wuruk berkuasa di kerajaan Majapahit pada  tahun 1353 M. Konon pada masa itu yang menjadi penguasa di wilayah itu adalah  Adipati Terung  makamnya terdapat tidak jauh dari candi Dermo.

7. Situs Watoetoelis

Watutulis adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Prambon dimana terdapat sebuah candi yang diduga peninggalan dari kerajaan Kahuripan. Tetapi sayangnya kondisi candi sudah sangat memprihatinkan, karena sisa-sisa candi berupa bebatuan andesit yang sebagian besar berukir indah namun hanya ditumpuk-tumpuk begitu saja.

8. Candi Tawangalun

Candi ini berada  di belakang Akademi Perikanan Sidoarjo (APS) di desa Buncitan, kecamatan Sedati, berujud sebuah tumpukan batu bata berbentuk trapesium dengan lubang di tengahnya.  Yang menarik, di dekat candi ini terdapat beberapa lobang di tanah yang mengeluarkan lumpur dalam skala kecil yang masih saja aktif hingga sekarang.

9. Situs Puteri Ontjat Tondho Wurung

Berada di desa Terung Wetan kecamatan Krian, situs ini berupa sebuah makam dalam sebuah ruangan di rumah terbuka tanpa dinding. Puteri Ontjat Tondho Wurung adalah puteri Adipati Terung yang dibunuh oleh ayahnya sendiri lantaran diketahui hamil tanpa suami.  Situs ini lebih populer ketimbang situs Makam Adipati Terung sendiri yang terletak di desa Terung Kulon, sekitar 2 kilometer ke arah barat. Popularitas situs Ontjat ini makin meluas setelah tahun 2012 ditemukan situs (yang kemudian dinamakan) Candi Terung yang terbenam dalam tanah, persis di depan situs Puteri Ontjat itu, hanya berjarak sekitar 50 meter.

10. Makam Dewi Sekardadu

Masyarakat Sidoarjo percaya, bahwa makam Dewi Sekardadu berada di Desa Ketingan Sidoarjo. Tetapi di Desa Gununganyar, Kebomas, Gresik, juga ada situs yang diklaim sebagai makam Dewi Sekardadu, yang “dipindahkan” secara gaib oleh Sunan Giri dari posisi semula di Blambangan (Banyuwangi) .

Ketika Majapahit runtuh, otomatis Sidoarjo berada di bawah kekuasaan Mataram Islam yang menjadi satu dengan Surabaya. Tidak ada pemerintahan tersendiri di Sidoarjo, sampai dengan Belanda masuk dan menjadikan Sidoarjo bagian dari Regentschap (Kabupaten) Soerabaia sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini. Pada masa Jepang hingga Indonesia merdeka kabupaten Sidoarjo secara kewilayahan masih tetap saja hingga sekarang ini.

 

PUSTAKA

  • Deni Prasetyo : Mengenal Kerajaan-kerajaan Nusantara (Pustaka Widyatama)
  • Dukut Imam Widodo, Henri Nurcahyo: “Sidoardjo Tempo Doeloe”. Pemkab Sidoarjo – Dukut Publishing, 2013.
  • H.M.S. Abbas, dkk: Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan di Jawa Timur. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, 2002
  • Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto: Sejarah Nasional Indonesia II – Zaman Kuno. Edisi pemutakhiran. Balai Pustaka, 2008
  • Ninie Susanti : Airlangga. Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI. Komunitas Bambu, 2010
  • Slamet Muljana : Tafsir Sejarah Negara Kretagama (LKIS, 2011)
  • Soenarto Timoer : Thothok Kerot (Balai Pustaka)
  • Tim Penelusur Sejarah Sidoarjo: Jejak Sidoarjo, dari Jenggala hingga Suriname. (Penerbit Ikatan Alumni Pamong Praja Sidoarjo, Maret 2006).