Istimewa, Lukisan Serpihan Batu di Atas Kanvas

Bedaya Kraton 350 x 145

Addy Prana membuat karya lukis yang unik dan eksklusif. Ratusan atau bahkan ribuan pecahan batu-batu kecil dari beragam warna ditempelkan sedemikian rupa di atas kanvas sebagai pengganti cat.

Medan kreativitas lelaki asal Malang ini tanpa batas. Apapun telah dikerjakan untuk menuruti gejolak kreativitasnya. Sepanjang perjalanan sejak akhir tahun 1970-an sudah banyak membuat karya seni dari berbagai bahan. Mulai dari patung, topeng, boneka kayu, wayang kulit, wayang kayu, batik, rancang interior dan eksterior. Sementara itu jam terbangnya sebagai pelukis realis-surealis sudah lumayan panjang dengan puluhan pameran lukisan di berbagai kota dan di sejumlah negara.

Ketika kemudian Addy menghadirkan karya berupa lukisan dengan bahan pewarna berupa serpihan bebatuan, ini adalah penjelajahan medan kreativitasnya sebagai seniman otodidak. Melihat karya-karyanya, tidaklah ada yang perlu diragukan menyangkut jam terbangnya sebagai seniman, dedikasinya pada kesenian, penguasaannya terhadap teknik berkesenian, serta keseriusannya menghasilkan karya seni yang berkualitas. Toh anak bungsu dari sembilan bersaudara ini adalah sosok yang tidak peduli dengan predikat seniman yang disematkan orang padanya dalam pengertian eksklusif.

Gadjah Mada 145×95

Mengamati lukisan karya Addy Prana adalah memahami kekuatan obsesi yang hanya bisa diwujudkan berkat ketekunan, kesetiaan, hasrat yang kuat, keterampilan teknis yang prima, dan kejelian seorang realis. Karena untuk mewujudkannya maka sang pelukis harus terlebih dahulu membuat pewarna lukisan melalui suatu proses panjang mulai dari berburu aneka warna bebatuan alami dari berbagai wilayah, menyortirnya, mencucinya, lantas menumbuknya menjadi serpihan kecil, dan menapisnya hingga mendapatkan pasir  dengan ukuran yang relatif rata. Barulah kemudian, setelah semua media –yaitu serpihan batu dengan berbagai warna ini– siap, sang pelukis menempelkan butir-butir serpihan batu tersebut secara rapat, satu-per-satu, di atas kanvas dengan menggunakan lem. Dengan kecermatan dan rasa estetik, mozaik ini menjadi lukisan realis dengan karakter yang kuat yang oleh berapa orang disebut dengan gaya surealis-realis.

Dengan menjalani proses yang demikian njlimet, Addy Prana berhasil mengungkapkan suasana batin Bung Karno dalam wajah murung prihatin. Ini agaknya adalah kelebihan batu dengan sifatnya yang keras yang sebagai medium lukisan semakin memperkuat kesan objek. Sosok Kendedes juga menjadi tampak berbeda bila dibandingkan denhgan objek yang sama karya pelukis lainnya. Dalam medium serpihan batu karya Addy Prana, sosok Kendedes tampil sebagai perempuan jelita yang smart, percaya diri, dan bukan semata-mata perempuan cantik yang anggun.

Melukis dengan bahan batu memang bukan barang baru sama sekali. Hanya saja, lukisan tersebut masih menggunakan bahan dasar pewarna cat yang digabung dengan bahan-bahan batu permata. Jadi, bukan merupakan lukisan yang mediumnya murni dari batu seluruhnya sebagaimana karya Addy.

Kendedes 145×95

Batu Berwarna Pengganti Cat

Lahir 24 September 1956 dengan nama Eddy Permono,  dia  merupakan orang pertama yang dikenal sebagai pelukis yang murni menggunakan batu alam sebagai pewarna lukisannya. Artinya, hanya batu-lah yang digunakan sebagai pewarna lukisannya, sementara bahan lain yang dibutuhkan adalah lem khusus untuk menempelkan serpihan batu di atas kanvas. Ia tidak membutuhkan tambahan cat  dalam lukisannya, melainkan semata-mata mengandalkan batu-batuan alamiah dari beragam warna.

Memang proses pengerjaannya lumayan sulit dan membutuhkan ketekunan luar biasa, karena kerikil batu berwarna itu berukuran tidak lebih besar dibanding biji jagung, yang kemudian harus ditata satu-per-satu menggunakan penjepit, lantas dilekatkan pada kanvas dengan lem khusus. Yang paling sulit adalah memilih warna batu-batuan yang sesuai dengan warna lukisan yang diinginkan. Apalagi jenis lukisannya adalah realis yang membutuhkan ketepatan warna, lengkap dengan efek sinar dan gradasinya, yang bila dipandang dari jarak tertentu tidak ubahnya seperti lukisan konvensional dengan bahan warna cat. Namun, sebagaimana dalam banyak proses yang mendasarkan pada ketekunan, Addy Prana juga mendapatkan berkahnya sendiri ketika melukis dengan batu: Sifat media yang keras membuat efek menjadi lebih kuat.

Disamping keterampilan menyusun batu-batu itu satu-per-satu ke atas kanvas, maka penguasaan membuat lukisan yang bagus merupakan prasyarat utama. Addy Prana memang selama ini sudah dikenal piawai membuat lukisan realis dengan bahan cat akrilik, bahkan lukisan-lukisan surealisnya juga memilih gaya surealis-fotografis yang tentunya membutuhkan kemampuan melukis realis. Barangkali persoalan menata batu-batu kecil itu menjadi relatif lebih mudah kalau saja Addy memilih lukisan bergaya dekoratif. Justru karena dia memilih gaya realis maka tingkat kesulitannya lebih tinggi ketimbang gaya lainnya.

 

Bung Karno 145 x 95

Ketika membuat lukisan seorang penari misalnya, Addy harus menyusun batu-batu kecil itu sedemikian rupa sehingga lipatan-lipatan kainnya menjadi tampak alami. Ia harus menyusunnya sedemikian rupa sehingga gradasi warna pada wajah dan bagian-bagian tubuh lainnya juga muncul dengan kentara. Demikian pula dengan pernik-pernik bagian lain yang membutuhkan detail-detail yang teliti dan rapi. Tak pelak, ketelitian, kejelian, kerapian dan kreativitas sangat dibutuhkan dalam membuat lukisan seperti ini.

Mengamati keseluruhan karyanya akan tampak bahwa Addy Prana berhasil menundukkan persoalan menyulap batu menjadi pengganti warna cat. Hal-hal yang menyangkut teknis relatif sudah tidak menjadi masalah lagi baginya. Keakrabannya dengan bebatuan membuatnya hafal dengan nuansa warnanya. Lihat saja karya-karyanya seperti sosok Gus Dur, Bung Karno, Kendedes, penari tunggal, penari bedaya, dan Mahapatih Gadjah Mada yang menggenggam sekuntum bunga putih sebagai simbol simbol darma bakti yang diberikannya kepada negara, yang semuanya bercorak realis. Realisme memang merupakan kekuatan dasar Addy Prana, yang dalam lukisan konvensional dengan media cat akrilik atau cat minyak lantas berkembang menjadi gaya surealis-fotografis. Dengan media batu warna Addy melukis gaya surealis untuk lukisan berupa hamparan bebatuan dengan beberapa tonggak kayu salib.

Dengan media bebatuan maka kanvas yang digunakan memang harus disesuaikan dengan sifat batu yang bukan saja keras namun juga lebih berat dibandingkan cat. Maka digunakanlah bahan tenda militer untuk kanvas. Demikian pula dengan lem perekat yang telah melalui berkali-kali uji kekuatan. Sebagai seniman yang telah terbiaya berurusan dengan buyers luar negeri ketika mengirim karyanya berupa boneka-boneka dan kerajinan terbuat dari kayu, Addy tidak mau bermain-main menyangkut kualitas. Termasuk menyangkut bahan baku batu yang menurutnya batu gunung lebih keras dan tahan lama daripada batu dari laut yang rapuh meskipun memiliki warna-warni yang lebih menarik. (Henri Nurcahyo)

 

Biodata

Darah seninya mengalir dari ayahnya yang menjadi pemain ketoprak, dan dari ibunya yang adalah seorang pembatik. Bukan hanya sebatas dunia rupa yang dia kuasai, memainkan alat musik dan menyanyi pun dia mampu. Bahkan justru karena kebisaannya menyanyi keroncong itulah yang suatu ketika malah membuatnya dikontrak sebagai penyanyi di Australia. Pengalaman berkeseniannya juga pernah direguknya di Singapura, Malaysia, Belanda dan Turki.

Pernah lama tinggal di Sragen dan Yogyakarta, sempat kembali ke kota kelahirannya di Malang beberapa tahun lalu, dengan mengibarkan nama Lestari Fine Art,  Addy menggelar pameran lukisan “Cermin Ekspresi Seorang Tokoh Sejati” yang menampilkan 191 wajah Gus Dur dari 135 pelukis untuk mengenang 100 hari kepergian Bapak Bangsa itu.

Belakangan akhirnya dia menetap di Perumahan Guwosari Bok XII, jalan Abiyoso III no 164 Pajangan Bantul – DIY –Telp : +62 812-3221-4057 (hn)