Panji Pulangjiwa Ludruk Lerok Anyar

MALANG: Lerok Anyar Kabupaten Malang bakal membawakan lakon “Panji Pulangjiwa” di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Malang, Sabtu malam, 21 Maret 2020.  Sutradara ludruk terbaik Jawa Timur, Cak Marsam Hidayat mengemasnya dalam sebuah pertunjukan dengan menampilkan lima orang penari remo sekaligus dan Panji Pulangjiwa yang diperankan oleh Agus Toyib.

Cak Marsam

Panji Pulangjiwa adalah seorang bangsawan asal Madura, yang kemudian menjadi tokoh legendaris dari Malang. Dari namanya inilah yang kemudian menjadi asal usul daerah yang sekarang dinamakan Kapanjian atau Kepanjen, sekitar 15 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Malang. Kini makamnya ada di Jalan Panarukan 1 Kepanjen, bersama dengan isterinya, yaitu Roro Proboretno, anaknya dan bahkan juga kudanya.

Kisah tentang Panji Pulangjiwa ini sebenarnya merupakan fakta sejarah tetapi karena keterbatasan data maka yang kemudian berkembang adalah cerita tutur dengan berbagai versi. Antara data sejarah dengan saling berkelindan sehingga sulit ditemukan mana yang benar. Namun yang menarik ada sejumlah daerah yang memiliki toponimi terkait dengan legenda Panji Pulangjiwa ini, bukan hanya terkait nama Kepanjen itu sendiri.

Konon Raden Panji Pulangjiwa datang ke Malang (Kepanjen) pada masa Kerajaan Sengguruh atau yang dikenal dengan nama Kadipaten Malang.  Dalam “Babad Kota Kepanjen” dikisahkan, daerah yang berada di wilayah Malang selatan itu berada di bawah pemerintahan Kadipaten Malang yang dipimpin oleh Adipati Ronggo Toh Jiwo.

Adipati Ronggo memiliki seorang puteri yang lincah dan cantik jelita bernama Rara Ayu Proboretno yang suka ilmu kanuragan. Berkali-kali dia disarankan agar bersedia menikah namun Proboretno selalu menolak. Sampai akhirnya Proboretno mengajukan syarat yaitu, apabila ada seorang lelaki yang bisa mengalahkan kekuatan ilmu kanuragannya maka dia sanggup untuk menjadi istrinya.

Salah seorang yang tertantang mengikuti sayembara tersebut adalah Sumo Lewo yang berasal dari Gempol dan bekerja di Kadipaten Malang  di daerah Japanan-Malang. Sumolewo mempunyai seorang guru bernama Ki Japar Sodik yang terkenal mumpuni ilmu kanuragannya. Ki Japar Sodik pernah berpesan melarang Sumolewo tidak boleh memperistri Roro Ayu Proboretno, putri dari Adipati Malang. Dan apabila dilanggar maka akan terjadi kematian yang disebabkan oleh seorang laki-laki dari utara timur yang memakai anting-anting dan berkumis.

Namun Sumolewo melanggar pesan dari gurunya. Maka dia membuat aturan untuk melarang orang asing masuk daerah Kadipaten Malang. Apalagi, bagi yang mempunyai ciri-ciri : berasal dari arah utara timur, masih muda dan berkumis. Bila terdapat orang dengan ciri-ciri tersebut maka akan langsung diberhentikan dan dibunuh di daerah Lawang (daerah tersebut akhirnya dijuluki Kali Getih).

Tetapi tindakan Sumolewo ini tidak berhasil. Raden Panji Pulangjiwa, seseorang dengan ciri-ciri yang disebutkan tadi akhirnya berhasilmemasuki Kadipaten Malang. Raden Panji pun mengikuti sayembara. Terjadilah pertempuran yang sengit yang akhirnya dimenangkan oleh Raden Panji. Sumolewo pun meninggal.

Raden Panji akhirnya berkesempatan untuk bertanding dengan Roro Proboretno. Karena kesaktian Raden Panji lebih unggul, Roro Ayu Proboretno terdesak lari dan bersembunyi di Gua Tepi Sungai Brantas (gua bertapanya Proboretno). Goa ini ditutup dengan batu yang bernama “Nini Growah” yang dipakai untuk bersembunyi waktu perang kesaktian. Meski begitu, persembunyian ini bisa diketahui oleh Raden Panji. Akhirnya sayembara selesai dengan penyerahan Roro Proboretno.

Tidak dijelaskan oleh Cak Marsam, apakah jalan cerita seperti di atas yang akan disajikan dalam pertunjukan yang digarap bersama Cak Dennis Suwarno sebagai penata gendhing.

Hanya saja, secara tersamar disampaikan sinopsisnya:

Emoh dijajah barek Mataram Proboretno Adeg Sayembara.

Gawe srana golek Senopati Ngadepi Sultan Agung.

Mergo Gedhene Karep Kepingin Ngrabi Dyah Ayu Dewi Proboretno.

Sumolewo Kepeksa Prang Tanding Adu Uleting Kulit Atosing Balung Nglawan Panji Pulangjiwa.

Sapa Sing Menang………?

Suradira Jayaningrat lebur dining Pangastuti

Sing ora cidra….

Yaiku Bojone Proboretno

Pendukung Pertunjukan

Remo:  M. Hidayat,  Kartika Cahaya Arisanti,  Kirana Iswara Danti,  Mutiara Ramadhani, dan Gandhis. Adipati Ronggo Toh Jiwo  (Cak Misdram adp); Dyah Ayu Proboretno (Fanchia Salsa Nindi Perwita);  Sumolewo (Cak Wido M.Sn); Khasanah (Roro); Abdi (Sasmito,  Suroso); Pak Khasanah (Karno); Mbok Khasanah (Mama Chandrika); Ki Fajar Sodik (M. Hidayat); Orang Madura (Retno, Misno, Win, Riyanti, I in dan Kardi); Pengrawit: Sanggar Taruna Krida Rasa.

(hnr)